BEKACITIZENOpini

Pengaruh UUPA dengan Dunia Pendidikan (habis)

Oleh: Sri Andriyani

Radarbekasi.id – Siswa akan mendapatkan kepastian untuk menerima pembelajaran dengan baik dari gurunya yang mengajar di sekolahnya. Segi positifnya Undang-undang ini menjamin siswa dalam mengembangkan pengetahuannya dikelas. Dapat berkreatifitas dan berexplorasi dalam pembelajaran dikelas yang diberikan oleh gurunya.

Mungkin kita sering mendengar di berita media cetak atau siaran berita di televisi yang menceritakan kasus guru dengan murid. Dengan adanya UU ini berharap kasus itu tidak ada lagi. Namun masih saja berita sejenis bermunculan dimedia. Tanpa disadari, UU ini membawa tren negatif dalam dunia pendidikan. Mengapa saya katakan demikian? UU ini menurut saya memberi kesan bagi siswa atau keluarga siswa merasa menjadi ’korban’, karena merasa dilindungi. Sementara guru layaknya sebagai tersangka kelas atas yang harus dijatuhi hukuman berat. Sehingga kesan yang ada bagi guru adalah guru sebagai penjahat baru.

Kasus kekerasan terhadap guru yang dilakukan siswa ataupun siswa terhadap guru merupakan tamparan bagi dunia pendidikan. Whats wrong? Dengan dunia pedidikan kita. Dengan guru kita atau dengan siswa kita. Sering di ucapakan oleh guru misalnya saja, kalau kamu rusak itu untuk diri kamu sendiri dan kalau kamu baik dan maju juga buat diri kamu sendiri. Ucapan yang mungkin pernah kita utarakan kepada siswa kita sehingga seharusnya guru meberikan arahan yang lebih baik lagi dalam membentuk karakter siswa dengan adanya ucapan seperti itu akhirnya siswa merasa bebas untuk berexplorasi.

Baca : Pengaruh UUPA dengan Dunia Pendidikan (1)

Kita kenal dengan adanya hukuman (punishment). Ada dua hal yang kita kenal dalam memberikan tanggapan tentang keberhasilan siswa yaitu penguatan negatif dan penguatan positif. Saat ini guru terkadang lebih cenderung menyampaikan pembelajaran tanpa peduli dengan sikap anak. Sikap yang muncul inilah yang mebuat siswa bersikap ke arah negatif.

Tak ada seorangpun yang menginginkan tindakan kekerasan dalam kehidupannya. Namun perlu dipertimbangkan pula dalam mengambil keputusan. Termasuk juga orangtua, tanggungjawab merubah karakter anak bukan hanya urusan guru. Namun juga orangtua memiliki kewajiban untuk membina karakter anaknya. Adanya kerjasama yang baik antara guru dan orangtua akan membuat jiwa anak menjadi baik dan bertanggungjawab. Apabila kita membaca buku sirah nabawiyah, selaku umat islam bahwa pendidikan anak diawali dari keluarga. Ketika keluarga pondasinya kuat maka anak akan menjadi jiwa yang kuat juga dalam bertingkah laku di sekolah dan masyarakat. Guru sebagai penunjang untuk mendukung keberhasilan siswa di keluarga yang dilakukan dalam kelas dan pembelajaran. Begitu besarnya tugas orangtua dan guru, berarti besar pula kerjasama yang dilakukan agar menghasilkan siswa dan anak bangsa yang berkarakter dan berwawasan luas dan religius. Pemahaman nilai-nilai yang di pupuk agar anak berkarakter baik dan berakhlaq mulia tentunya akan menghindari kesalahpahaman antara guru dan siswa. Dan orangtua dapat bijak menghadapi segala permasalahan di sekolah dalam menyikapi pembinaan terhadap siswa dan mencari pokok permasalahnnya terlebih dahulu. Wa’allahu ‘Alam (*)

Anggota KGPBR Bekasi

Close