Berita UtamaPendidikan

Disdik dan Pihak Sekolah Beda Pendapat

Rencana Pemberlakukan Sistem Zonasi Guru

Zonasi
MENGAJAR: Salah satu guru SDN Jatikramat V saat mengajar di kelas. Rencana Kemendikbud memberlakukan sistem zonasi guru mendapatkan respon yang berbeda dari Dinas Pendidikan (Disdik) dan pihak sekolah di Kota Bekasi.Dewi Wardah Radar Bekasi

Radarbekasi.id – Rencana Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberlakukan sistem zonasi guru mendapatkan respon yang berbeda dari Dinas Pendidikan (Disdik) dan pihak sekolah di Kota Bekasi.

Kepala Seksi SMP pada Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Mawardi, berpendapat zonasi guru merupakan salah satu upaya sistem pemerataan yang baik untuk bisa diterapkan di Kota Bekasi. Oleh karena itu, pihakya berharap sistem ini dapat segera diterapkan di wilayahnya.

”Itu salah satu sistem yang efektif menurut saya. Karena ada beberapa keuntungan seperti biaya transport guru dan jarak tempuh ke sekolah semakin lebih mudah,” ujar Mawardi, melalui sambungan selulernya, kepada Radar Bekasi, Selasa (30/7).

Sistem zonasi guru nantinya akan menempatkan guru berdasarkan kebutuhan tenaga pendidik di sub rayon dan kecamatan. Sistem zonasi guru mulai dilakukan secara bertahap apabila Peraturan Presiden (Perpres)-nya selesai dibahas.

”Nanti guru akan dipindahkan sesuai dengan tempat yaitu dilihat dari sub rayon dan kecamatannya. Itu juga akan dilakukan secara bertahap,” tuturnya.

Ia tak menampik, melalui sistem ini guru harus melakukan penyesuaian di tiap tempat barunya. Mawardi menyebut, hal ini merupakan suatu yang wajar.

”Penyesuaian itu hal yang wajar, 1 bulan waktu untuk beradaptasi saya rasa cukup,” katanya.

Sementara, Kepala Sekolah SDN Jatikramat V, Ilyas Effendi, sistem zonasi guru dapat efisiensi waktu dan biaya transport para guru. Selain itu, cara guru mengajar akan lebih baik karena bisa datang lebih tepat waktu ke sekolah.

”Menurut saya akan efisien sekali karena guru nantinya tidak ada lagi yang terlambat dan akan lebih nyaman jika mengajar bila dekat rumah,” ujar Ilyas.

Sedangkan pendapat berbeda disampaikan oleh Wakil Kepala Sekolah bidang Humas SMPN 9 Kota Bekasi, Yafitson Zein. Menurutnya, sistem zonasi guru dapat membuat sekolah kehilangan kekuatannya. Sebab tak dapat dipungkiri bahwa sistem tersebut akan membutuhkan waktu yang cukup lama.

”Mungkin beberapa sekolah sudah merasa bahwa strukturnya saat ini cukup baik sehingga nantinya jika diberlakukan sistem zonasi guru, kita tidak tahu nih akan berdampak seperti apa,” ujarnya.

Zein mengatakan, Disdik jangan melakukan copy paste terhadap peraturan pemerintah yang ada. Program zonasi guru harus benar-benar dipelajari sehingga tak ada pihak yang dirugikan.

”Harus dilakukan pertimbangan dan pembelajaran, sehingga nantinya tidak ada lagi pihak yang dirugikan dan harus disesuaikan dengan kondisi yang ada dilapangan,” ujarnya.

Tenaga pengajar di SMPN 9 Kota Bekasi saat ini berjumlah 60 guru. Sehingga pertimbangan penting dilakukan demi pendidikan yang lebih baik kedepan.

”Harus memiliki pertimbangan yang baik, jadi ketika sudah terlaksana tidak akan menimbulkan sisi negatif,” tukasnya. (cr46)

Tags
Close