Jurnalisme WargaOpini

Generasi ”Peminta” Menjelang HUT Kemerdekaan RI

Oleh: Wartono

Radarbekasi.id – Fenomena miris yang dapat diamati di sekitar kita menjelang Kemerdekaan RI. Sekelompok pemuda meminta sumbangan di jalanan untuk kegiatan memperingati HUT Kemerdekaan RI. Dengan bekal kardus yang bertuliskan ”Sumbangan Peringatan HUT RI dan bendera Merah Putih, mereka dengan serta merta mengulurkan kardusnya kepada pengendara yang lewat. Mereka memposisikan di pertigaan dan perempatan jalan yang dianggap strategis. Terkadang menimbulkan kemacetan bagi pengendara yang lewat.

Fenomena tersebut dianggap miris oleh penulis karena ironis dengan penguatan karakter yang sedang digulirkan di sekolah. Penanaman sikap sosial gotong-royong di sekolah bias perwujudannya di lingkungan tempat tinggal. Jika ingin mengadakan kegiatan memperingati HUT Kemerdekaan RI dengan menerapkan gotong-royong seharusnya warga dan pemuda bersama mengumpulkan dana dari warganya sendiri. Kenyataannya mereka dengan kebersamaan meminta kepada pengguna jalan yang notabene warga yang tinggalnya tidak di lingkungannya. Pembiasaan sikap yang terjadi adalah perilaku meminta. Mirisnya kebiasaan tersebut terjadi berulang dalam setahun sekali, akan dianggap lumrah dan bisa menjadi karakter pemuda.

Sebetulnya jika berdalih bergotong royong dengan alternatif penggalangan dana yang lebih bijak ada. Bagi warga yang mampu bisa menyumbang uang dan bagi yang kurang mampu bisa menyumbangkan tenaga. Warga setempat bersinergi dalam penggalangan dan pelaksanaan kegiatan. Disinilah terjadi aspek penguatan karakter yang lain seperti peduli. Karena kegiatan memperingati Kemerdekaan dirasakan warga setempat berarti merekalah yang bergotong-royong dan peduli mewujudkannya. Pemuda yang mencari dana di jalanan tentu kegiatannya hanya kepentingan di lingkungan tempat tinggal mereka. Jadi kalau ditelisik lebih dalam merupakan wujud kemalasan juga.

Sesungguhnya mereka dapat meniru pemuda desa jaman jadul. Melalui wadah Karang Taruna mereka pemuda desa mempersiapkan dana peringatan Kemerdekaan RI dengan membuat slongsong ketupat dari janur ketika Idul Fitri dan Idul Adha. Sebelum lebaran tiba mereka menawarkan setiap ibu rumah tangga melalui Dasa Wisma atau keliling setiap rumah. Jadi mereka punya persiapan janur dan jumlah slongsong ketupat yang dipesan. Tentu jumlah pendapatan Karang Taruna bisa diprediksi. Dengan contoh tersebut juga menggambarkan aktifnya organisasi pemuda dan pembiasaan kreatif yaitu membuat slongsong ketupat dari janur.

Bagi pemuda di perkotaan tentu peluang mencari dana dengan kreatif lebih luas. Bila mengikuti jejak pemuda desa, maka slonsong ketupat janur bisa dijual tidak hanya menjelang lebaran. Di perkotaan pedagang ketoprak dan lontong sayur sangat butuh tiap hari, berarti peluang lebih banyak. Faktor yang kedua Karang Taruna di perkotaan kurang diaktifkan. Sebetulnya bila aktif, penggalangan dana dengan kreatif lebih terbuka sekarang. IT yang maju sekarang sangat membantu mempercepat memperoleh dana dan penghasilan. Misalkan Karang Taruna membuat kuliner, makanan kering, kriya, pakaian, kerajinan dari bahan bekas dll, dipasarkan online pasti ada yang pesan. Lagi-lagi kembali ke pemuda tersebut apakah mau berusaha atau maunya bermalas-malasan karena di kota masyarakat lebih konsumtif.

Bila kita flashback ke jaman perjuangan atau ke sejarah sungguh menyedihkan. Kemerdekaan kita bukan serta merta hasil pemberian atau hasil meminta dari penjajah. Kemerdekaan kita hasil perjuangan yang memerlukan pengorbanan tenaga, harta, dan nyawa dengan pedih dan perih yang panjang dilalui pendahulu bangsa. Ketika perjuangan merebut kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan, para pahlawan kita mengerahkan segala daya dan upaya dengan karakter-karakter yang dimiliki bangsa kita seperti gotong-royong, peduli, patriotisme, tanggung jawab, percaya diri, nasionalisme, dan sebagainya. Dengan keterbatasan yang ada tetap semangat, optimis dan positif mewujudkannya tanpa adanya meminta belas kasihan. Bahkan di tengah kesulitan ekonomi bangsa kita menyumbang India yang kelaparan. Itulah yang menjadikan makin miris dengan kondisi pemuda yang melakukan peringatan Kemerdekaan di tempat tinggalnya tumbuh menjamur di berbagai tempat dengan meminta di jalanan.

Puji syukur di perumahan dan di kompleks yang penghuninya memahami pendidikan hal ini tidak terjadi. Para orang tua melarang anaknya mencari dana di jalanan. Kegiatan yang dilakukan semua dana dipikul bersama dan penyelenggaraannya dikerjakan bahu-membahu. Masyarakat kompleks atau perumahan berprinsip dari kita, oleh kita dan untuk kita. Kembali kepada masyarakat kompleks sistem organisasi aparat Rukun Tetangga bekerja dengan baik sehingga persiapan ini dibicarakan dengan musyawarah dan jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan. Pemuda hanya pelaksana kegiatan dan penggalang dana semua kepala rumah tangga.

Apabila pemuda mencari dana untuk peringatan HUT RI di jalanan karena inisiatif sendiri, maka sekolah sebagai lembaga pendidikan ikut andil dalam meluruskan. Penulis sebagai guru IPS tentu tidak pernah ketinggalan menyelipkan nasehat pemahaman kepada siswanya tentang fenomena ini. Penulis mengajak teman sejawat sesama guru IPS dan teman serumpun Guru PPKn supaya tidak lupa dan bosan memberi nasehat kepada siswa kita. Sebagai bagian pemuda, siswa kita juga generasi penerus bangsa yang perlu bimbingan dari golongan yang lebih tua. Tantangan bangsa ke depan diperlukan generasi yang melestarikan karakter kepribadian bangsa yang telah dicontohkan para pendahulu pendiri bangsa Indonesia. Kata bijak yang bisa kita jadikan panutan yaitu bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. (*)

Guru SMPN 1 Cibitung

Lebihkan

Artikel terkait

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker