BEKACITIZENOpini

Cium Tangan Membentuk Karakter Bangsa

Oleh: Dewi Hajarwati

Radarbekasi.id – Sistem pendidikan yang diterapkan saat ini adalah pendidikan yang nantinya dapat menghasilkan lulusan yang cerdas, hebat dan mempunyai ahklak mulia. Pendidikan yang mampu mencakup semua aspek perkembangan siswa baik dari segi spiritual, sosial, kognitif, dan keterampilan benar-benar harus diterapkan saat ini.

Pendidikan berbasis akhlak diharapkan mampu mengatasi kemerosotan akhlak-ahklak anak jaman sekarang. Pendidikan berbasis akhlak merupakan dasar untuk menyongsong Indonesia Emas 2025, yaitu melahirkan manusia yang cerdas baik secara intelektual, emosional, spiritual, dan kinesthesia.

Pemerintah telah mencanangkan pendidikan kharakter yang tertuang dalam UU No.20/2003, pasal 3 yang berisi: ”Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Dari pernyataan pemerintah yang dituangkan dalam undang-undang ini, maka dapat ditarik benang merahnya bahwa pemerintah Indonesia menginginkan Pendidikan yang membentuk manusia seutuhnya dengan mengedepankan potensi spiritual, social, kognitif dan ketrampilan.

Peran pemerintah saat ini untuk menanamkan karakter bangsa dengan merubah kurikulum satuan pendidikan. Satuan pendidikan yang awalnya hanya menekankan pada kecerdasan kognitif saja berubah menjadi penanaman moral spiritual, sosial, pengetahuan bahkan ketrampilan bagi para siswa sebagai penerus bangsa di kemudian hari.

Pembelajaran yang ditekankan di sekolah lebih mengutamakan penanaman kompetensi spiritual, sosial, kognitif dan ketrampilannya. Agar mereka ke depannya menjadi manusia Indonesia yang utuh berjiwa Pancasila dan berakhlak mulia.

Dalam menanamkan karakter pada peserta didik tidak seperti membalikkan tangan. Penanaman karakter ini harus dibarengi dengan peran orang tua dan lingkungan sosial sekitar kita. Pendidikan karakter harus diberikan pada setiap orang sedini mungkin. Pendidikan ini dapat dimulai dari pendidikan formal mulai anak usia dini seperti PAUD/TK, sekolah dasar bahkan sampai sekolah menengah.

Sekolah merupakan tempat yang sangat strategis dalam membentuk karakter siswa setelah pendidikan dasar di rumah. Penerapan pendidikan karakter tidak saja di sekolah, yang lebih utama ada pada keluarga dan masyarakat sekitar kita. Hal ini karena anak-anak lebih banyak waktunya di rumah dan masyarakat daripada di sekolah. Pola perilaku dan tindakan akan tertanam dari lingkungan ini.

Karakter merupakan jati diri yang harus dimiliki oleh seorang siswa agar nanti mampu bertahan dalam masyarakat di kemudian hari. Pendidikan sekolah tidak hanya membuat anak itu pandai saja, tetapi juga harus mampu menciptakan suatu nilai-nilai yang dimiliki dan membentuk sikap dan pilihan cara bertindak yang baik.

Mencium tangan pada orang tua dan guru merupakan bagian dari pendidikan karakter. Memang sangat sederhana terlihatnya, tetapi saat ini jarang kita menemukan orang yang mau mencium tangan saat ijin atau mau pergi meninggalkan rumah. Tindakan cium tangan merupakan sebuah sikap yang menunjukkan kesopanan, kesantunan, rasa hormat, kasih sayang seseorang kepada orang lain. Terutama pada orang tua dan guru, atau pada orang yang lebih tua dari kita.

Pendidikan karakter dengan mencium tangan pada guru tidak ada hubungannya dengan penilaian kognitif atau penilaian pengetahuan. Pendidikan ini dapat dibentuk jika setiap individu memberi teladan yang mampu mengajak mereka dalam ranah yang jelas, tegas, dan benar.

Membentuk siswa yang berkarakter bukan hal yang mudah. Kegiatan yang memerlukan pembiasaan terus menerus sehingga membentuk suatu kebiasaan yang dapat melekat sampai ke dalam sanubari. Mereka menjadi terbiasa, dalam melakukan mencium tangan pada orang-orang yang kita hormati. Kebiasaan ini akan memunculkan sikap hormat, penuh kasih sayang, sopan dan santun pada yang lebih tua. Jika sudah muncul sikap yang demikian maka karakter bangsa akan tercipta dengan sendirinya.

Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk membentuk suatu pola kebiasaan yang akan ditumbuhkan pada seseorang sehingga membentuk watak atau tabiat seseorang seperti yang diharapkan. Oleh karena itu, langkah yang harus kita tempuh adalah membangun kembali suatu system yang melibatkan berbagai faktor seperti lingkungan sekolah, lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat luas. Pembentukan dan pendidikan karakter bangsa tidak akan tercapai jika ketiga faktor lingkungan pendidikan yang meliputi keluarga, sekolah dan masyarat tidak ada kesinambungan dan keharmonisan.

Dengan demikian, keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih ditingkatkan lagi peranannya. Lingkungan ini harus didukung oleh lingkungan dan kondisi pembelajaran di sekolah yang memperkuat proses pembentukan tersebut. Di samping itu, tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat.

Lingkungan masyarakat sekitar sangat mempengaruhi terhadap karakter seseorang karena keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter ada pada masyarakat di sekitar tempat tinggal kita. Jika lingkungan masyarakat sekitar kurang baik, maka pembentukan karakter pada anak juga akan kurang baik juga. Situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan.

Lakukanlah pembiasaan untuk cium tangan pada anak-anak kita sejak usia masih dini, agar tercipta pembiasaan yang melekat dan dilakukan secara reflek. Penanaman cium tangan akan menumbuhkan sikap hormat, kasih sayang dan sopan santun pada orang lain.

Jika anak sudah mempunyai sikap dan karakter yang baik, maka kita akan lebih mudah untuk mengajarkan teknologi dan ilmu pengetahuan yang modern pada mereka, sehingga nantinya mampu membuat anak-anak kita berkompetisi di masa yang akan datang. Tetapi jika mereka tidak mempunyai akhlak dan karakter yang baik, meskipun menguasai teknologi, maka dapat dipastikan negara ini suatu saat akan mengalami kehancuran karena krisis moral. (*)

Guru SDN Setiamekar 06 Tambun Selatan

Close