BEKACITIZENOpini

Mengharumkan Kabupaten Bekasi dengan Literasi

Oleh: Nurul Yaqin, S.Pd.I

Radarbekasi.id – Mengharumkan nama Kabupaten Bekasi tidak melulu berkutat dengan infrastruktur, ada aspek lain yang pengaruhnya pun tidak bisa dipandang sebelah mata, yaitu literasi.

Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah kabupaten Bekati terus berinovasi dalam meningkatkan budaya literasi bagi masyarakat.

Bahkan program Kotak Literasi Cerdas (Kolecer) yang digagas oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil kini telah hadir di Kabupaten Bekasi, tepatnya di Taman Sehati. Ini menjadi media yang sangat efektif untuk men-stimulus masyarakat agar lebih mencintai literasi.

Spirit untuk meningkatkan literasi berangkat dari kenyataan bahwa masyarakat kabupaten Bekasi termasuk dalam kategori rendah dalam budaya membaca. Dilansir dari media online Dakta.com (21/10/2015) Badan Arsip dan Perspustakaan Daerah mengakui minat membaca masyarakat kabupaten Bekasi sangat minim, berada di bawah 10 persen.
Apabila diperinci lebih detail, jika jumlah penduduk kabupaten Bekasi berjumlah 3.500.023 orang (sumber: BPS Kabupaten Bekasi update 1 Februari 2019), maka jumlah penduduk yang gemar membaca hanya di bawah 350.000 orang, sedangkan yang minat bacanya rendah berjumlah sekitar 3.150.000 orang. Sunguh, sebuah angka yang cukup mengagetkan di zaman yang sudah memasuki era revolusi industri 4.0.

Indikatornya adalah minimnya masyarakat yang mengunjungi perpustakaan untuk membaca atau meminjam buku. Aktivitas membaca masih menjadi hal tabu bagi masyarakat. Hal ini juga bisa disebabkan oleh kualitas perpustakaan yang kurang memadai.

Contoh sederhana, Perpustakaan Umum Cikarang yang berada di jalan Gatot Subroto No. 5 Cikarang Utara tersebut masih dikategorikan sempit, mengingat jumlah masyarakat dan lembaga pendidikan di daerah Cikarang cukup banyak.

Kurangnya taman baca masyarakat (TBM) di kabupaten Bekasi juga menjadi salah satu penyebab hilangnya spirit literasi. Ini disebabkan karena jumlah taman baca yang ada tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang cukup banyak.

Maka jangan heran jika menemukan suatu daerah yang belum terdapat taman baca. Padahal, taman baca merupakan media untuk menanamkan semangat literasi kepada generasi muda.
Faktor lain adalah budaya kurang baca (bukuca) masyarakat kita. Bukuca lahir dari suatu kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun. Maksudnya, ketika orang tua kita kurang greget dengan aktivitas membaca otomatis tradisi ini akan berkelindan kepada generasi selajutnya.

Apalagi di Kabupaten Bekasi yang notabene orang tua berstatus multiperan (mendidik dan bekerja) sangat sulit mencari waktu luang untuk kegiatan membaca. Karir dan pekerjaan telah menyita waktu untuk menanamkan spirit literasi kepada anak-anaknya.
Belum lagi tantangan generasi masa kini semakin kompleks. Peran gawai telah mereduksi minat anak-anak kita untuk mecintai kegiatan membaca dan menulis. Fitur gawai yang semakin komplit telah menyita waktu anak-anak kita untuk bergelut dengan literasi.
Akhirnya, literasi menjadi barang langka. Lihat saja di sekeliling kita, anak-anak lebih suka berselancar dengan game dari pada membaca buku. Lebih antusias chatingan dari pada menulis.

Jika hal ini dibiarkan, maka akan melahirkan generasi-generasi yang tidak kritis, tidak kreatif, kaku, kurang menguasai ilmu pengetahuan dan informasi, bersikap pasif, dan minimnya prestasi. Akhirnya, Kabupaten Bekasi akan nihil individu-individu berkualitas di tengah gempuran zaman yang semakin melesat.

Dalam lingkup yang lebih luas, kurangnya minat baca akan menjadikan kabupaten Bekasi hanya dipandang sebelah mata. Kualitas SDM yang rendah menyebabkan sebuah daerah tidak bisa bersaing, tidak menemukan ide-ide brilian dalam memajukan wilayahnya. Sekali lagi, suatu daerah yang minim budaya literasi tidak akan banyak menyumbangkan sumbangsih yang besar bagi kemajuan bangsa.

Padahal Lenang Manggala (1993) Founder Gerakan Menulis Buku Indondesia (GMBI) menuturkan “Penguatan budaya literasi adalah kunci memajukan negeri ini”. Kalimat tersebut semakin mengokohkan bahwa budaya literasi merupakan salah satu ujung tombak untuk mengangkat harkat dan martabat negeri.

Oleh karena itu, menindaklanjuti kondisi demikian Pemerintah Kabupaten Bekasi harus turut andil dalam meningkatkan literasi. Perpustakaan yang ada harus dibenahi dengan menyediakan buku-buku ter-update dan berkualitas.
Pembangunan perpustakaan umum di Villa Mutiara Cikarang Selatan bisa menjadi solusi untuk meningkatkan minat baca masyaraka kabupaten Bekasi khususnya masyarakat di Cikarang Selatan. Pembangunan perpustakaan berkualitas bisa disusul di daerah-daerah lain.

Sedangkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas taman baca di kabupaten Bekasi perlu sinergi antara forum taman baca masyarakat (FTBM), perangkat desa, pemerintah, dan masyarakat.

Ketersedian buku dan tata kelola yang baik menjadi tumpuan berjalannya program taman baca di setiap daerah. Sehingga TBM benar-benar menjadi sarana penunjang pendidikan di luar sekolah yang berdaya guna bagi masayarakat.

Semangat pemerintah merevitalisasi literasi selama ini juga tidak bisa diremehkan. Tak sedikit program-program pemerintah yang telah dicanangkan dalam rangka menggaungkan budaya literasi. Di antara program pemerintah untuk mendukung literasi berupa pergelaran book fair pada 2017 di gedung Wibawa Mukti.

Sosialisasi Pembudayaan Kegemaran Membaca Tahun 2018 di Stadion Wibawa Mukti tahun 2018. Dan acara tahunan Penumbuhan Minat Baca Masyarakat (bedah buku) yang biasanya dilaksanakan Hotel Ayola, Lippo Cikarang.

Selain itu juga terdapat pengukuhan Bunda Literasi pada 2018 lalu, Pemilihan Duta Baca Kabupaten Bekasi, dan kehadiran Kolecer (kotak literasi cerdas) yang telah disebutkan pada paragraf pertama tadi.

Bahkan, dilansir dari media online Antara Megapolitan (20/2/2019) pemerintah kabupaten Bekasi sedang menyiapkan literasi digital dalam rangka menyambut era revolusi 4.0.
Bentuk keseriusan Pemerintah Kabupaten Bekasi menghidupkan literasi yaitu juga diadakannya lomba karya jurnalistik tahunan dalam rangka menyambut hari ulang tahun Kabupaten Bekasi.

Selain untuk mendukung program pendidikan nasional, ini juga bertujuan mencetak manusia-manusia berkualitas dengan meningkatkan minat baca tulis yang tinggi.
Hal ini sesuai dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No. 20 Tahun 2003 pasal 4 yang menerangkan bahwa pendidikan di Indonesia diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.

Oleh karena itu, dalam momentum hari jadi Kabupaten Bekasi yang ke 69, literasi menjadi media yang paling efektif untuk men-stimulus warga agar lebih gemar berkarya dan berprestasi.

Sehingga, Kabupaten Bekasi benar-benar menjadi sebuah kabupaten yang berkharismatik dan mandiri. Semoga! (*)

Anggota Komunitas Guru Penulis Bekasi Raya (KGPBR)

Close