Jurnalisme WargaOpini

Strategi Pemberdayaan Tenaga Kerja Lokal

Oleh : Acep Suhendar

Radarbekasi.id – Di usia Kabupaten Bekasi yang akan menginjak 69 tahun, Kabupaten Bekasi masih memiliki masalah yang belum terselesaikan hingga saat ini. Salah satu masalah tersebut adalah tentang ketenagakerjaan.

Menumpuknya pengangguran di usia produktif menjadi satu hal yang sulit dicari jalan keluarnya. Dilansir dari media Indopos, 12/3/2019 Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi, Edi Rochyadi mengungkapkan, bahwa pengangguran di Kabupaten Bekasi mencapai 172.412 orang. Bukan angka yang rendah untuk salah satu kota industri terbesar di Asia Tenggara.

Setiap tahunnya jumlah pengangguran terus bertambah seiring dengan lahirnya lulusan baru sekolah menengah atas atau sederajat maupun perguruan tinggi. Harapan akan mendapat pekerjaan yang sesuai keinginan semasa menempuh pendidikan, seolah-olah pupus ketika mereka mulai lulus dari sekolah.

Masalah pengangguran juga turut menghantui mereka yang lahannya tergusur tergantikan oleh perusahaan-perusahaan manufacturing.

Dilema modernisasi yang mereka hadapi kini harus seperti apa cara menyambung kehidupan ketika lahan pertanian yang dulu mereka garap kini berubah menjadi pabrik. Sehingga menambah faktor berkurangnya lapangan kerja di Kabupaten Bekasi.

Masyarakat Kabupaten Bekasi bagian selatan seperti Bojongmangu, Serang Baru bahkan Cikarang Pusat yang dekat dengan pemerintahan pun kebingungan untuk dapat mencari pekerjaan. Daerah-daerah tersebut yang sejatinya kini telah berubah menjadi lahan industri justru menjadi momok bagi masyarakat lokal untuk mendapat pekerjaan yang diinginkan.

Pemerintah Kabupaten Bekasi memang sudah melakukan beberapa upaya untuk dapat mengurangi angka pengangguran dengan mengadakan bursa kerja dan beberapa tempat penyalur kerja.
Tujuannya untuk dapat mempertemukan secara langsung para pencari kerja dengan pihak perusahaan. Hasilnya memang banyak calon pelamar yang berdesakan mendatangi bursa kerja maupun tempat penyalur kerja lainnya.

Namun isu tidak sedap seringkali terdengar di masyarakat bahwa ada perusahaan yang enggan menyaring tenaga kerja lokal. Belum lagi isu “orang dalam” dan ada isu perusahaan yang meminta sejumlah uang agar dapat diterima bekerja menambah pelik permasalahan ini. Belum selesai dengan masalah pengangguran yang setiap tahun semakin bertamabah. Kabupaten Bekasi harus siap dengan modernisasi industri yang semakin canggih, yang mana dapat menggantikan tenaga manusia dengan mesin.

Beberapa waktu yang lalu pemerintah Kabupaten Bekasi telah melakukan upaya dengan membuat Peraturan Bupati Nomor 09 Tahun 2019 yang menekankan kepada perusahaan untuk memprioritaskan tenaga kerja lokal. Namun peraturan berupa konstitusi saja tidak cukup, perlu ada upaya yang lebih sistematis untuk mengatasi masalah ini. Karena untuk dapat menyaring tenga kerja lokal harus juga dibarengi dengan peningkatan kualitas tenaga kerja itu sendiri.

Pertama peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pengemabangan kompetensi (skill, knowledge, attitude). Dimulai dari lembaga pendidikan formal yang mampu mencetak lulusan yang siap kerja.

Sekolah-sekolah di Kabupaten Bekasi dapat bekerjasama dengan perusahaan dalam bentuk kegiatan magang maupun pelatihan lainnya, selain itu memberikan sertifikasi kompetensi yang diakui atas pelatihan yang telah mereka jalani juga menjadi nilai tambah.

Selain melalui pendidikan formal pengembangan kompetensi tenaga kerja juga dapat dilakukan dengan pendidikan informal seperti balai-balai latihan kerja (BLK) yang tersedia untuk menciptakan tenaga kerja yang kompeten dan berdaya saing tinggi, serta percepatan sertifikasi, kompetensi. Selain itu peningkat SDM juga dapat dilakukan dengan mengadakan seminar secara rutin yang berkaitan dengan pekerjaan tertentu.

Penambahan dan peningkatan wawasan sangat berguna bagi tenaga kerja pada level menengah ke atas, karena bisa digunakan untuk membantu dalam pengambilan keputusan atau pembuatan rencana dan strategi ke depannya.

Selain itu tenaga kerja yang memiliki wawasan juga memiliki inisiatif kerja yang lebih baik. Inisiatif yang baik sangat dibutuhkan karena berpotensi melahirkan inovasi untuk kemajuan perusahaan tempat bekerja.

Kedua adalah dengan cara melatih kualitas mental dan spiritual tenaga kerja. Dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja, tidak hanya mengutamakan aspek pengetahuan, keahlian dan keterampilan. Akan tetapi, kualitas mental dan spiritual seperti komitmen, keimanan, kejujuran, semangat kerja, kedisiplinan, terampil, inovatif, cerdas, bisa saling menghargai dan bertanggung jawab juga perlu ditingkatkan. Perusahaan pun lebih membutuhkan tenaga kerja yang memiliki komitmen tinggi terhadap pekerjaannya. Beberapa kasus yang ditemui terkait pengangguran adalah belum siapnya seseorang dari segi mental dalam menghadapi dunia kerja.

Ketiga adalah meningkatkan pengetahuan mengenai teknologi dan informasi. Di era modern ini penting sekali membekali tenaga kerja dengan kemampuan yang handal mengenai teknologi dan informasi. Karena perusahaan juga membutuhkan produktifitas dan kualitas yang baik dalam proses produksinya. Tenaga kerja yang memahami sistem teknologi dan informasi akan dapat meningkatkan produktifitas dan kualitas kerjanya dengan baik.
Keempat adalah menumbuhkan jiwa kewirausahaan kepada masyarakat. Mengatasi pengangguran tidak harus menjadi pekerja di perusahaan. Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan menjadi wirausaha.

Modal dan keahlian dalam berwirausaha memang menjadi kendala. Namun pemerintah dapat mengatasi hal ini dengan cara meningkatkan prasarana dan sarana perekonomian daerah dan perluasan akses kredit bagi masyarakat.

Selain itu pemerintah juga dapat memberikan pelatihan berwirausaha secara berkala kepada masyarakat agar dapat meningkatkan kualitas dan produktifitas serta mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Dan yang kelima adalah peningkatan kualitas gizi dan kesehatan masyarakat. Tenaga kerja yang unggul dalam hal kualitas gizi dan kesehatan dapat meningkatkan kualitas otak (kecerdasan). Maka dari itu kualitas gizi dan kesehatan dapat mempengaruhi kinerja tenaga kerja.

Masyarakat harus menyadari akan hal ini begitu pun dengan pemerintah yang dapat melakukan upaya dengan cara menekan angka kebutuhan pokok dengan harga yang dapat terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

Dengan beberapa upaya yang diuraikan di atas diharapkan dapat meningkatkan kualitas tenaga kerja dan juga dapat menekan angka pengangguran di Kabupaten Bekasi. Sehingga masyarakat Kabupaten Bekasi dapat meningkatkan taraf hidupnya menjadi lebih baik. (*)

Guru SMPIT ANNur Cikarang Timur

Lebihkan

Artikel terkait

Close
Close