Jurnalisme WargaOpini

Boleh Pindah asal Tidak Pindahkan Masalah

Oleh: Akhmad Yusuf Zuhdy

Radarbekasi.id – JAKARTA, ibu kota Indonesia, semakin padat penduduk. Kemacetan kian parah. Belum lagi banjirnya. Juga buruknya kualitas udara. Semua itu membuat pemerintah akhirnya berencana membikin ibu kota baru ke Kalimantan. Namun, apakah memindahkan ibu kota negara juga akan menjadi solusi yang baik?

Harus dikaji lebih detail dan terperinci lagi. Memang sudah banyak negara yang tak mengalami masalah saat memindahkan ibu kota mereka. Tapi, ada juga negara yang memilih tak memindahkan ibu kota mereka meski problem yang dihadapi sama atau bahkan lebih parah daripada Jakarta.

Sekarang yang harus menjadi perhatian adalah persiapannya. Berdasar teori analisis ambang batas, pembangunan kota baru harus bisa menampung aktivitas yang ada di dalamnya. Yang ingin ditampung di dalam kota baru itu adalah ibu kota lama.

Saat ini kita mempunyai ibu kota lama yang bisa dijadikan contoh konkret dari kebutuhan ibu kota yang akan datang. Dari situ bisa dilihat apa saja yang harus dibenahi dan dipersiapkan.

Meski belum ditetapkan secara resmi, beredar kabar bahwa ibu kota baru akan ditempatkan di Bukit Soeharto, yang berada di perbatasan Samarinda dan Balikpapan. Bukit Soeharto merupakan kawasan lereng-lereng. Itu memang bisa diatasi dengan teknis. Namun juga harus mengatasi teknis di wilayah yang akan tersentuh.

Misalnya, Bukit Soeharto mungkin sekarang tidak banjir. Namun, jika nanti sudah dibangun, banjirnya akan lari ke Samarinda dan Balikpapan. Jika begitu, akan sama saja seperti hanya memindahkan masalah lama ke tempat baru.

Sebab, yang namanya wilayah kota atau area mempunyai kapasitas. Dan kapasitas itu sangat bergantung pada kondisi alami dari kota atau wilayah tersebut. Jadi, tidak bisa kita hanya melihat kebutuhan lahan kira-kira sekian hektare untuk membentuk kota baru.
Juga harus dilihat apakah di wilayah kota baru itu banyak lereng, kota terjal, rawan banjir, atau banyak daerah yang tidak bisa dibangun. Jika kondisi geografisnya seperti itu, infrastrukturnya menjadi sangat mahal.

Selain itu, ibu kota negara harus ikonik. Tidak hanya ada bangunan perkantoran, tetapi juga harus bisa mewakili Indonesia sebagai negara besar. Terutama negara di masa mendatang.

Ikonik itu punya ciri khas. Contohnya, Jakarta punya gedung MPR/DPR dan Monas sebagai ikon. Ketika melihat Monas, semua tahu itu Jakarta. Dan untuk bisa punya seperti itu, biayanya tidak murah.

Berbicara tentang pemindahan ibu kota sudah pasti tidak terlepas dari infrastruktur. Pembangunan infrastruktur untuk kota baru harus didukung dana yang sangat besar.
Mengapa? Pertama, infrastruktur harus lebih baik daripada sekarang. Kedua, infrastruktur harus mampu mengakomodasi kebutuhan yang akan datang. Ketiga, infrastruktur harus mewakili peradaban abad ke-21 di mana yang namanya teknologi informasi menjadi tulang punggung dalam interaksi.

Tiga hal tersebut harus dipertimbangkan. Begitu juga kota-kota pendukung di kota baru. Jika kota pendukungnya masih dari Jawa, akan sama saja seperti di Jakarta. Kota Paris saja, sebagai ibu kota Prancis, mengalami problematika yang lebih parah daripada Jakarta.

Tingkat kemacetannya luar biasa parah. Namun, belum ada niat pemerintah Prancis untuk memindahkan ibu kota. Sebab, Paris sudah memiliki ikon yang menjadi daya tarik.
Ada pula Iran. Ibu Kota Teheran memiliki permasalahan yang sama kompleksnya. Bahkan, Iran sudah mempunyai kota baru untuk memindahkan ibu kota, yakni di Isfahan. Namun, rencana pemindahan tersebut sampai sekarang belum terealisasi.

Menurut saya, sejatinya masih ada peluang secara teknis untuk mengatasi permasalahan di ibu kota lama daripada membuat ibu kota baru. Sebab, banyak sekali aspek yang harus dikaji untuk memindahkan ibu kota negara.

Jadi, kita harus bisa melihat dulu apakah persoalan esensial dari ibu kota lama bisa diatasi secara teknis atau tidak. Kalau masih bisa, lebih baik diatasi tanpa harus memindahkan ibu kota. Namun, jika tidak bisa, solusi satu-satunya ya memang memindahkannya. (*)

Ahli tata kota Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Lebihkan

Artikel terkait

Close
Close