Berita UtamaLingkunganPemkab

Bekasi Impor Sampah

Sehari Ratusan Ton, Dikawal Jawara

Bekasi Impor Sampah
SAMPAH IMPOR: Alat berat tengah menata sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng di Setu Kabupaten Bekasi, kemarin. TPA Burangkeng diduga menjadi lokasi pembuangan sampah impor oleh perusahaan diwilayah Cikarang.ARIESANT/RADAR BEKASI

RadarBekasi.id – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng nampak ramai. Ya, ratusan pemulung mengais rizki mencari barang yang masih bisa dijual di tempat sampah kawasan Setu, Kabupaten Bekasi tersebut.

 

Sejumlah pemulung yang berada di lokasi tersebut mengaku, mendapatkan berbagai jenis sampah tidak seperti biasanya. Sampah tersebut bertuliskan bahasa asing dan di produksi dari luar negeri. Ya, sampah tersebut ternyata dari luar negeri.

 

Salah satu pemulung, Abdul (45) mengaku pernah menemukan sampah impor tersebut berupa bungkus makanan instan dan lain sebagainya. Sekilas sampah tersebut berisi tulisan asing. ”Ya pernah aja kalau liat sih, nggak tau dibuang sama siapa kan banyak yang buang kesini,” singkatnya saat berbincang dengan Radar Bekasi.

 

Tidak hanya sampah plastik, dia juga mengaku pernah mendapatkan sampah jenis kertas. ”Sepertinya sih dari luar negeri,” kata pria berkulit gelap tersebut.

 

Keberadaan sampah impor yang ada di Bekasi ternyata bukan isapan jempol. Berdasarkan data yang dihimpun Radar Bekasi, alasan utama impor sampah ini adalah untuk memenuhi kebutuhan daur ulang, bahan baku tersbeut disebut berupa potongan plastik. kalau seperti itu artinya bahan baku yang diimpor khusus plastik.

 

Hal ini persis sebagaimana informasi yang diberikan oleh kementrian perindustrian kepada kementrian lingkungan hidup pada November 2018 lalu. Mekanisme impor tersebut diatur dalam Peraturan Kementrian Perdagangan (Permendag) nomor 31 tahun 2016.

 

Nilai devisa impor industri recycle plastic pada tahun 2017 lalu mencapai sebesar USD 92,2 juta, disamping itu terdapat surplus terhadap impor sebesar USD 40 juta berdasarkan data yang diperoleh dari UN Comtrade.

 

Salah satu Negara di Asia, China telah menutup kran impor sampah sejak tahun 2018 lalu, sejak saat itu isu sampah impor mendunia. Sejumlah pihak baik NGOS hingga Komunitas meneriakkan stop impor sampah, bahkan meminta untuk sampah impor dikembalikan ke Negara asalnya.

 

Beberapa waktu lalu diketahui KLHK bersama dengan bea cukai menemukan 65 kontainer sampah impor dari Amerika Serikat di Batam, diperparah dengan sebagian sampah mengandung limbah bahan beracun dan berbahaya (B3).

 

Dibalik limbah B3 dan segudang masalah lainnya, ternyata sampah impor ini memiliki nilai ekonomis yang menjanjikan. Para importer akan mendapatkan biaya transportasi dan pengelolaan dari sampah impor tersebut. Jika tidak di sortir di dalam lahan perusahaan, sampah tersebut bisa langsung dijual kepada pelapak dengan harga Rp700 sampai Rp800 ribu. Namun harga akan berbeda jika sampah impor tersebut sudah dipilah, sebut saja jika sampah plastik akan dihargai per kg nya.

 

Di Bekasi modus operandi yang dilakukan yakni dengan mengimpor sampah kertas, namun didalamnya terdapat berbagai macam sampah seperti plastik, logam, electronic waste dan lain sebagainya.

 

”Mereka hanya mementingkan motif ekonomi, dan melupakan dampak lingkungan dan resiko kesehatan masyarakat. Selama ini mereka membuang sisa-sisa sampahnya di sembarang tempat, yaitu kali, pekarangan kosong, bekas galian, TPA, dan tempat-tempat lainnya,” kata Dewan Pembina Koalisi Kawal Lingkungan Hidup Indonesia (Kawali), Bagong Suyoto kepada Radar Bekasi.

 

Dia menegaskan, pengelolaan sampah impor dari pelabuhan Tanjung Priok hingga ke perusahaan bahkan ke TPA biasanya dikuasai oleh orang kuat dan memiliki pengaruh. Di Bekasi orang-orang kuat dan berpengaruh ini dikenal jawara. ”Sampai saat ini komunikasi antar mereka sangat tersembunyi.” imbuhnya.

 

Pemulung di TPA tidak ketinggalan dari keuntungan sampah impor ini, sisa dari sampah yang sudah dipilah untuk bahan daur ulang ini biasa dibuang ke kali, lubang galian, tanah lanpang sampai ke TPA. Bahkan tidak jarang pemulung menemukan mata uang asing bahkan hingga yang nilainya cukup besar jika di rupiahkan.

 

”Sampah impor tidak memberikan manfaat bagi masyarakat luas di Indonesia, juga merugikan pemulung dan pelapak. Karena serangan sampah impor berimplikasi terhadap menurunkan income mereka,” sambung Bagong sembari mengaku, sampah impor yang datang ke Bekasi hingga ratusan ton setiap hari nya.

 

Menurutnya, harga pungutan sampah domestik sangat fluktuatif bahkan menurun drastis sampai 60 persen lebih. Harga sampah domestik dipengaruhi bahkan diatur oleh mekanisme pasar komoditas sampah dunia.

 

”Jika harga cenderung fluktuatif dan menurun drastis maka ini merupakan ancaman bagi pemulung dalam negeri. Mereka yang kuat modal, kapital, teknologi, alat transportasi dan jaringan pasar yang menentukan komoditas sampah tersebut.” paparnya.

 

Aspek selanjutnya yang tidak boleh dilupakan, lanjutnya, aspek kesehatan manusia. Pembakaran sampah sudah sering menjadi pemandangan mata dilingkungan sekitar. Jika pembakaran terjadi di lahan kosong maupun di sekitar TPA sampai di bekas galian yang berisi sisa sampah plastik maka akan mengancam kesehatan manusia.

 

Sampah plastik jika dibakar akan menimbulkan doxin furan yang berbahaya bagi tubuh manusia karena menyebabkan kanker. ”Jelas bahwa sampah impor ini hanya membebani Negara yang sudah disibukkan dengan persoalan sampah dalam negeri serta berdampak pada aspek ekonomi, sosial, lingkungan dan kesehatan masyarakat.” tegas Bagong.

 

Menurutnya, pemerintah harus dapat bersikap tegas kepada perusahaan pengimpor sampah B3, membersihkan sisa-sisa sampah impor yang dibuang di sembarang tempat dan melakukan pemulihan lingkungan, serta fokus dalam pengelolaan sampah dalam negeri.

 

”Makanya, sudah saatnya pada mid 2019 ini harus ada kebijakan stop impor sampah. Secara tegas pemerintah Indonesia harus menutup kran inpor sampah demi mandat UU No. 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, UU No. 32/2009 tentan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan peraturan turunannya,” tutup Bagong. (sur)

Close