Pendidikan

Dua Sosok Pembuat Logo Disdik Jabar

Sederhanakan Konsep agar Masyarakat Paham

logo
PEMBUAT LOGO: Mohammad Bilal dan Sandy Pratama Sobandi, dua sosok pembuat logo Disdik Jabar.Istimewa

Radarbekasi.id – Jika mencermati logo Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, ingatan kita langsung tertuju pada heritage yang sangat ikonik, yakni Gedung Sate. Tentu saja, lantaran dalam logo Disdik Jabar terdapat gambar puncak dari gedung yang kini menjadi kantor pusat pemerintahan Jabar, yaitu bentuk tusuk sate.

Dinas pendidikan tak mau kehilangan sentuhan ikonik Provinsi Jabar dalam logonya. Namun sebagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang merupakan bagian dari pemerintahan, perlu juga menonjolkan identitas diri. Kata “Disdik”, yang merupakan akronim dari Dinas Pendidikan, dijadikan identitas dan dipilih untuk menggantikan kontruksi bangunan Gedung Sate guna dipadupadankan dengan menara tusuk sate.

Sebagai penegas identitas satu huruf Disdik, dalam logo disematkan gambar pensil yang merupakan komponen utama dunia pendidikan. Hasilnya, sebuah logo sederhana namun elegan yang mewakili heritage ikon Jabar dan identitas diri pada OPD yang membidangi dunia pendidikan ini akhirnya tercipta.

Nah, siapakah sosok yang menciptakan logo Disdik Jabar tersebut? Mereka adalah Mohammad Bilal dan Sandy Pratama Sobandi. Dua anak muda yang kini menjadi bagian aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Disdik Jabar. Bilal bertugas di bagian Desainer Grafis Newsroom, sedangkan Sandy di Multimedia Tikomdik. Dari sentuhan tangan dan ide brilian Bilal dan Sandy lah, logo yang dipatenkan mulai 2018 tersebut, kini menjadi penanda identitas Disdik Jabar.

Banyak cerita yang dikisahkan dua desainer muda ini sebelum terciptanya logo Disdik Jabar. Mulai dari singkatnya deadline pengerjaan hingga perangkat kerja yang sebenarnya jauh dari kata ideal untuk mengerjakan karya dengan desain maksimal. Namun, kondisi tidak ideal tersebut tidak menyurutkan semangat Bilal dan Sandy dalam menjalankan tugas.

”Saat mendapatkan tugas ini, kita langsung kerjakan bersama-sama. Mulai dari menentukan font hingga pemilihan gambar yang ingin ditonjolkan. Sebenarnya pengerjaan logo cukup singkat, tidak lebih dari seminggu. Tetapi, memetakan ide agar desain benar-benar menjadi branding lah yang bikin lama. Perancangan awalnya sih yang sulit,” ujar Bilal, seperti diberitakan dalam resmi Disdik Jabar, kemarin.

Sementara itu, Sandy yang menjadi partner Bilal, menceritakan perjuangan mereka saat mendesain logo Disdik. Banyak hal yang harus mereka lalui. Mulai dari menentukan konsep hingga berbagai kendala yang mesti dihadapi. Di antaranya, keterbatasan perangkat (laptop) yang digunakan dan tekanan yang diterima. Namun, akhirnya mereka bisa mengatasi semua itu.

”Kami berusaha menyederhanakan konsep pembuatan logo agar masyarakat bisa menerima dan mengerti saat melihat logo ini,” ujar Sandy.

Logo yang telah dipakai sejak Juli 2018 ini bukan hanya lahir dari sekadar estetika, tapi juga menampilkan citra Disdik. Oleh karena itu, Bilal dan Sandy berharap, citra ini bisa dipahami dan tersampaikan kepada masyarakat Jawa Barat. (oke/tim)

Lebihkan

Artikel terkait

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker