Berita UtamaLingkungan

Sampah Impor Dibuang Dini Hari

RadarBekasi.id – Masuknya sampah impor ke Bekasi mulai terkuak. Ya, sampah tersebut diduga permintaan dari salah satu perusahaan yang ada di Kabupaten bekasi yakni PT Fajar Peper Wesesa.

”Jadi dulu ini tanah saya, lalu dijual ke salah satu orang,  dikemudian dijadikan tempat pembuangan sampah impor oleh PT Fajar Peper,” kata salah satu warga Kampung Jati, Desa Burangkeng, Alawi (56).

Dia mengaku, sudah mendengar sejak lama adanya kiriman sampah impor di lingkungannya. Namun, sejak sebulan lalu sudah tidak ada lagi pembuangan sampah impor di lingkungannya.

”Dulu memang banyak yang buang, diperkirakan buangnya itu sekitar dini hari, gak pernah siang. Namun sejak sebulan lalu sudah tidak terlihat lagi,” jelasnya pria yang karib disapa Abah ini, saat ditemui Radar Bekasi, di sekitar TPA Burangkeng, kemarin (8/8).

Sementara itu, Direktur Koalisi Kawal Lingkungan Hidup Indonesia (Kawali) Puput TD Putra menuturkan, hasil investigasi pihaknya terkait adanya pembuangan sampah impor ditegaskannya diduga berasal dari PT Fajar Peper Wesesa.

Selain itu, kata dia, dalam izin yang dimiliki importir dan Pemberitahuan Impor Barang (PIB) biasanya dinyatakan berupa skrap kertas. Namun kenyataan dalam pengiriman skrap kertas di tunggangi juga sampah plastik kemasan, popok sampai limbah B3.

”Harusnya tidak boleh ada sampah impor kalo meninjau UU 18/2008 tentang pengolahan sampah di indonesia, namun kenapa hal ini bisa terjadi,” ujarnya saat dihubungi Radar Bekasi, kemarin.

Lanjut dia, Kalau pun ada impor skrap kertas hanya boleh masuk dalam kondisi bersih, tidak terkontaminasi limbah B3, dan tidak boleh tercampur sampah umum.

”Faktanya yang Kawali temukan di wilayah Kabupaten Bekasi ternyata jenis sampah impornya bercampur macam-macam Jenis limbah, artinya ini ada oknum PT Fajar yang bermain-main dengan aturan, karna sepaham kami kebutuhan PT Fajar Wisesa hanya untuk Skrap kertas sebagai bahan baku bubur kertas pabrik merka. Tapi fakta lain yang di temukan bermacam jenis limbah impor,” tegasnya.

Dalam hal ini, menurutnya, harusnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan harus tegas menindak temuan ini. Sebab sudah sangat jelas ditemukan impuritas atau limbah lainnya atau sampah di wilayah Kabupaten Bekasi ini.

Dia merinci, diantaraya limbah kemasan makanan dan minuman impor, limbah padat B3, kayu, pampers, dan sejumlah skrap plastik dalam jumlah yang sangat besar. ”Dan sangat jelas larangan masuknya sampah ke wilayah Indonesia diatur di Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Larangan masuknya limbah B3 ada pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,” katanya.

Terpisah, Kepala Bidang Penegakan Hukum Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi, Arnoko mengelak memberikan penjelasan terkait maslaah tersebut. ”Coba ya tanya ke bidang kebersihan,” singkatnya.

Sementara itu, pejabat PT Fajar Peper Wesesa tidak ada yang mau memberikan komentar mengenai masalah tersebut.(and)

Close