Berita UtamaKesehatanPublik

Awasi Klinik Aborsi

Pengawasan Dinkes Masih Lemah

DIGARIS POLISI: Warga melihat klinik Aditama Medika II yang disegel petugas kepolisian di Desa Mangunjaya Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten Bekasi, Senin (12/8). Klinik itu disegel petugas kepolisian karena membuka praktik ilegal pelayanan aborsi di Kabupaten Bekasi.ARIESANT/RADAR BEKASI

RadarBekasi.id –  ”Pokoknya saya kalut banget saat itu, ketika sudah telat (haid) sekitar satu bulan. Pas periksa positif hamil,” kata RT (21), mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bekasi ini yang mengaku pernah melakukan aborsi.

Sebagai wanita yang masih bersetatus mahasiswi, dia harus menghadapi kenyataan hamil di luar nikah akibat berhubugan dengan kekasihnya. Ironisnya kekasihnya tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya tersebut.

Atas saran dari teman dekatnya, dia meminum obat yang dibeli di salah satu apotik di bilangan Pasar Proyek Bekasi. ”Berbentuk pil, harganya sekitar Rp300 ribu kalau gak salah. Setelah dua kali minum, saya langsung keluar darah banyak banget,” kata wanita yang tinggal di wilayah Bekasi Timur ini.

Pengalaman serupa juga pernah dialami oleh WN (20). Wanita yang tinggal di kecamatan Sukatani ini juga memilih melakukan aborsi dengan pelantara Dukun. Saat itu, dia dan pasangannya harus mengeluarkan uang Rp2 Juta untuk menggugurkan janinnya yang berusia satu bulan.

”Saya mau menggugurkan kandungan karena hamil diluar nikah, karena saat takut diketahui orang tua, makanya saya melakukan hal itu,” ucapnya.

Dia mengaku mengetahui adanya tempat untuk aborsi atau menggugurkan kandungan dari rekannya, yang pernah mengantar seseorang melakukan hal sama. ”Tahu tempat dari teman, jadi rumah tinggal bukan klinik atau rumah sakit,” tuturnya.

Ya, aborsi menjadi jalan pintas bagi pasangan yang tidak menginginkan kehadiran anak. Mereka biasanya melakukan praktik aborsi atau menggugurkan janin di klinik, dukun atau menggunakan obat-obatan.

Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Bekasi, Fatmah Hanum menduga, banyak tempat di Kabupaten Bekasi yang membuka praktik aborsi. Namun, tempatnya tersembunyi. ”Biasanya dari mulut ke mulut saja informasinya,” tuturnya.

Dia juga menduga, banyak klinik di Bekasi yang melakukan praktik aborsi. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, terdapat 538 klinik kesehatan yang tersebar di 23 Kecamatan di Kabupaten Bekasi.

”Dengan jumlah Klinik sebanyak 538, dan jumlah penduduk kita sekitar 3 juta, sangat dimungkinkan  ada klinik yang sama melakukan praktek aborsi, walaupun saya tidak bisa menjelaskan dengan detail dimana saja. Tentu lsus ini sangat memprihatinkan,” ujarnya perempuan yang juga Ketua Bidang Perempuan dan Pertahanan di Partai Keadilan Sejahtera Kabupaten Bekasi, Senin (12/8).

Dirinya berharap, petugas kepolisian bisa menyelesaikan kasus ini, agar tidak semakin menjamur. Termasuk Dinas Kesehatan harus memperketat proses perizinan, dan setelah klinik berjalan harus ada pengawasan berkala. Dia juga menilai pengawasan masih lemah terhadap operasional klinik kesehatan.

”Intinya harus ada pengawasan, dan jangan mudah memberikan perizinan. Termasuk orang tua harus lebih mengawasi lagi pergaulan anak-anaknya, karena biasanya pelakunya aborsi hamil diluar nikah,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Sri Enny mengatakan, jumlah Klinik yang ada di Kabupaten Bekasi sebanyak 538 Klinik. Dia mengklaim seluruh klinik tersbeut sudah memiiki izin. ”Yang terdata di kita memiliki ijin. Untuk yang tidak mempunyai ijin seperti Klinik Aditama Medika II, itu belum ada datanya di kita,” tuturnya.

Dia menjelaskan, sebenarnya Klinik Aditama Medika II itu punya ijin sampai bulan 10 Juli 2019, tapi seharusnya tempatnya bukan ditempat yang sekarang. Artinya, ia memindahkannya sendiri tanpa ijin, sedangkan itu harusnya diurus kembali atau dilaporkan. ”Klinik Aditama Medika itu sebenarnya ada ijin, tapi karena lokasinya pindah, dan tidak dilaporkan, makanya tidak terdata di kita,” ucapnya.

Disinggung mengenai Klinik yang terdata pernah melakukan aborsi atau tidak, Sri beralasan, tidak tahu mengenai itu, yang ia tahu baru sekarang ada klinik melakukan aborsi. ”Kalau sebelumnya di Kabupaten Bekasi saya tidak tahu. Saya tahunya hanya sekarang, mengenai yang lain-lain belum paham, dan belum tahu,” katanya.

Dia juga menegaskan, tindakan aborsi tidak diperbolehkan. Jika ada klinik yang melakukan praktik aborsi, menurutnya itu bagian dari oknum dan menyalahi izin yang dikeluarkan. ”Kalaupun ada itu oknum saja. Yang pasti klinik tidak boleh melakukan aborsi,” tegasnya.

Proses izin klinik, lanjutnya dilakukan bertahap. ”Prosesnya itu ditentukan tiga bulan sampai enam bulan sebelumnya, dan ada juga surat ijin operasional sementara untuk melakukan tindakan. Artinya kalau misalkan tidak ada harusnya enggak boleh buka. Jadi kliniknya harus ditutup, tapi itu akan kita lihat dulu,” jelasnya.

Dia juga mengaku, sudah melakukan pengawasan terhadap operasional klinik setiap sua bulan hingga tiga bulan sekali melalui Puskesmas. ”Kalau melihat seperti ini, tidak bisa kita bilang puskesmas tidak melakukan pengawasan, nanti kita lihat deh mereka ada ijinnya atau tidak.”

Terbongkarnya praktek aborsi di Klinik Aditama Medika II, Jalan Pendidikan, Desa Mangun Jaya menunjukan bahwa Praktik aborsi masih marak di Bekasi. Pantauan Radar Bekasi pasca dilakukan penggerebakan, Klinik Aditama Medika II dalam kondisi sepi. Terlihat garis polisi mengelilingi depan klinik, kondisi klinik terlihat berantakan, dan tidak ada satu orang pun yang berada di Klinik.

Waega sekitar klinik Nurman (35) mengaku, klinik sudah sepi dari satu Minggu yang lalu, tepatnya setelah klinik dipasang garis polisi. Sebelumnya, klinik setiap hari ramai sampai tengah malam. Bahkan pukul 00:00 malam masih ramai.

Kendati demikian, ia mengaku, tidak tahu kalau di Klinik ini ada praktek aborsi. Tapi informasi yang ia dengar, klinik ini memang kurang benar, dari pelayanan dan sebagainya. ”Kalau mengenai aborsi saya enggak tahu, tapi setiap saya pulang kerja ramai bangat malam juga, ia mungkin itu, karena enggak mungkin orang mau aborsi datang siang,” ujarnya. Senin (12/8).

Ia membeberkan, sebelumnya klinik ini apotik. Sayangnya ia tidak terlalu ingat tahun berapa klinik ini menjadi apotik. ”Ia ini apotik dulunya, soalnya saya pernah beli obat disini, tapi saya enggak inget tahun berapa,” bebernya.

Warga lainnya, Boim (30) menuturkan, pelayanan di klinik ini memang tidak bagus, hal tersebut dirasakan saat saudaranya yang sakit dibawa ke klinik Aditama Medika. Saat itu, saudaranya dirawat di dapur klinik. ”Ada saudara sakit dibawa kesini. Eh, enggak tahunya ditaruh di dapur, bukan diruang perawatan,” ungkapnya. (pra)

Lebihkan

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 + fourteen =

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker