CikarangLingkungan

DLH Diminta Tegas

Sampah Impor Tercecer

PENGELOLAAN SAMPAH IMPOR: Pekerja memasukan sampah impor yang telah dicacah ke dalam mesin pemilah sampah di pabrik pengelolaan sampah impor di Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Sabtu (11/8). ARIESANT/RADAR BEKASI

RadarBekasi.id – Kawal Lingkungan Hidup Indonesia (Kawali) meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengambil tindakan tegas terkait dengan tercecernya sampah impor di wilayah Kabupaten Bekasi.

Direktur Kawali, Puput TD Putra, mengatakan, DLH harus melakukan penelusuran terkait dengan pihak-pihak yang membuang sampah impor yang tercecer. Selain itu, pihak-pihak tersebut harus bertanggung jawab untuk melakukan rehabilitasi lingkungan terdampak.

”Jadi disini perlu ketegasan DLH terkait fenomena sampah impor. Baik pemerintah daerah dan pusat harus bertanggungjawab atas masifnya pencemaran dan kerusakan lingkungan karena sampah impor yang masuk ke Kabupaten Bekasi,” katanya kepada Radar Bekasi, Senin (12/8).

Dia mengatakan, memang terdapat aturan terkait masalah sampah impor. Karena, dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk beberapa perusahaan di tanah air. Namun, tidak dibenarkan apabila keberadaan sampah tersebut justru menyebabkan pencemaran lingkungan.

”Jadi kami sedang kaji saat ini, kenapa maraknya sampah impor di Kabupaten Bekasi, apakah karena lemahnya pengawasan dinas terkait, atau adanya komunikasi segelintir oknum berbagai pihak untuk kemudahan kemudahan peredaran sampah impor,” jelasnya.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pejabat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi belum dapat memberikan tanggapan. Kepala Bidang Penegak Hukum Dinas Lingkungan Hidup, Arnoko belum memberikan komentar. ”Maaf ya saya masih cuti,” ujarnya melalui pesan kemarin.

Terpisah, salah satu pengelola limbah sampah impor di Kabupaten Bekasi, Iin Farihin, memastikan, sampah yang dia kelola tidak mengandung B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Aktivitas pengelolaan sampah yang dia lakukan pernah ditinjau oleh KLHK dan tidak ditemui sampah mengandung B3 sehingga tidak dilakukan penyegelan.

Emang (memang) pernah disidak namun tidak disegel, dan saya sampaikan juga tidak sampah B3 yang kami kelola,” jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, pengelola sampah impor di Kabupaten Bekasi, Iin Farihin menampik jika sampah yang dikelolanya berceceran. ”Saya buka ya, saya itu gak pernah buang tercecer di luar. Tapi ada oknum elemen masyarakat yang ingin mencari keuntungan. Jadi mobil truk saya kalau ke TPA itu sudah ada yang nunggu, setelah timbang bayar retribusi mobil dibelokin limbahnya dibuang di luar untuk dikelola,” paparnya.

Awalnya, lanjut Iin, dia tidak mempersoalkan hal tersebut. Karena, sampah yang dimanfaatkan oknum elemen masyarakat tersebut untuk kepentingan ekonomi masyarakat.

Namun, lantaran sampah impor yang tercecer menjadi polemik, dia mulai ada berfikir memutar otak untuk kepentingan bisnisnya dan kepentingan ekonomi masyarakat.

”Kalau saya itu buang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Burangkeng terus dan bayar retribusi, dan setahu saya juga tidak ada yang melarang selama dikelolanya baik sampah impor dibuang ke TPA,” ujarnya.

Selama ini, dalam menjalankan usahanya Iin telah mengantongi izin usaha dalam pengelolaan limbah dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Bekasi. Selembaran surat dengan Nomor: 503.22/KEP.024- DPMPTSP/IV2018 tentang Izin Pemanfaatan Limbah non B3 yang bernilai ekonomis menjadi dasarnya menjalankan aktivitas bisnisnya.

”Jadi secara administrasi saya tempuh, bahwa saya dengan PT Fajar ini bermitra. Dimana sampah impor itu menjadi bahan dasarnya, dan sisanya diserahkan kepada saya untuk dikelola lagi,” ujarnya.(and)

Close