BEKACITIZENOpini

Pelajaran dari Kasus Listrik di Ibu Kota

Oleh: Daniel Rohi

Radarbekasi.id – PEMADAMAN listrik masal mendadak di Jakarta dan sekitarnya pada 4 Agustus 2019 merupakan gangguan listrik terburuk dalam sejarah dan mendapat perhatian luas. Presiden Jokowi mendatangi kantor PLN dan menegur pimpinan BUMN kelistrikan tersebut yang dianggap tidak maksimal dalam mengantisipasi pemadaman.

Hal serupa pernah terjadi meski berbeda durasi masa pemulihan, yakni pada 18 Agustus 2005, 12 September 2002, dan 13 April 1997. Artinya, dalam kurun 22 tahun, terjadi empat kali pemadaman listrik di ibu kota.

Peristiwa itu membuktikan bahwa sehebat apa pun sistem kelistrikan yang dibangun, jika tidak dibarengi dengan pemeliharaan dan pengawalan yang cermat, akan mengalami kegagalan. Ongkos sosial dan ekonomi akibat kegagalan tersebut sangat besar.

Pengelolaan sistem kelistrikan dari hulu, yakni membangkitkan energi listrik, menyalurkan melalui jaringan transmisi tegangan tinggi-ekstratinggi (SUTET), dan mendistribusikan sampai ke pusat beban atau pelanggan. Pusat beban tersebar sesuai dengan konsentrasi aktivitas ekonomi dan penyebaran permukiman penduduk.

Untuk mencukupi kebutuhan listrik yang terus meningkat, diperlukan banyak pembangkit. Semua pembangkit tersebut terhubung menjadi satu kesatuan dalam sistem yang interkoneksi untuk melayani berbagai keperluan.

Prioritas pelayanan jasa energi listrik adalah memastikan konsumen mendapatkan energi listrik secara kontinu dan berkualitas yang diindikasikan oleh tidak adanya pemadaman dan tegangan/voltase yang stabil. Untuk itu, sistem yang dibangun harus memenuhi tiga kriteria utama: andal, aman, dan ekonomis. Keandalan bertujuan, jika terjadi gangguan, sistem mampu merespons secara cermat dan cepat untuk pemulihan.

Kalau respons tersebut gagal, gangguan merambat laksana efek domino yang berakibat pemadaman permanen (blackout). Aman artinya tidak membahayakan peralatan dan makhluk hidup. Yang terakhir, sistem kelistrikan harus efisien secara ekonomis.

Kegagalan sistem dapat dipicu dua kemungkinan. Yakni, kegagalan teknis dan pengoperasian sistem. Kegagalan teknis dapat disebabkan mutu peralatan dan pemeliharaan. Faktornya, antara lain, kesalahan/kerusakan pada pembangkit, kerusakan pada saluran transmisi, gardu, sistem distribusi, kegagalan cascading, operasi pemutus sirkuit, dan terjadinya hubungan singkat/korsleting.

Kegagalan pengoperasian disebabkan ketidakcermatan memprediksi pola konsumsi energi yang tergambar dalam kurva beban harian. Ada dua variabel yang diperhatikan, yakni konsumsi listrik dan ketersediaan energi listrik. Kondisi ideal adalah jika suplai dan kebutuhan listrik sama.

Terjadinya gangguan bisa disebabkan dua kemungkinan. Pertama, jika kebutuhan listrik melebihi suplai, frekuensi akan menurun yang diikuti penurunan tegangan dan kenaikan arus. Sebaliknya, jika suplai melebihi kebutuhan, frekuensi sistem akan naik, tegangan naik, dan arus turun.

Penurunan dan kenaikan frekuensi memicu kestabilan sistem. Kenaikan kebutuhan listrik hendaknya diikuti penambahan suplai. Artinya, pembangkit tambahan harus dioperasikan dengan segera.

Sebaliknya, jika terjadi penurunan pemakaian listrik, harus ada pembangkit yang dilepas dari sistem. Memasukkan pembangkit untuk menaikkan suplai bergantung pada kemampuan operasi pembangkit. Yakni, pembangkit yang memerlukan waktu singkat untuk start.
Menggunakan prinsip di atas untuk menganalisis peristiwa yang terjadi, yakni sistem kelistrikan di Pulau Jawa, Madura, dan Bali (Jamali), dibagi dalam dua kawasan. Yaitu, barat dan timur. Saat kebutuhan listrik di barat meningkat, pembangkit di kawasan tersebut tidak mampu mengakomodasi.

Sebab, terjadi gangguan pada gas turbin 1 sampai 6 di Suralaya dan Cilegon. Sedangkan di kawasan timur, terjadi kelebihan energi. Saat energi disalurkan untuk memenuhi kebutuhan di barat, terjadi gangguan pada saluran transmisi.

Gilirannya, energi listrik tidak tersalurkan sehingga barat mengalami penurunan frekuensi. Fenomena itu terkonfirmasi dengan informasi yang disampaikan PLN
Gangguan terjadi karena ada kelebihan beban listrik, khususnya di wilayah Jakarta, Bekasi, dan Banten. Efek gangguan langsung terasa pada pukul 11.45 detik ke-27 di Brebes. Kondisi itu membuat frekuensi jaringan turun menjadi 48.35 Hz pada pukul 11:48:18.

Frekuensi terendah, yakni 47.116 Hz, terjadi pada pukul 11:50:17. Beberapa unit trip sehingga frekuensi blackout. Penurunan frekuensi yang drastis dari frekuensi normal 50 Hz menjadi 47.116 Hz membuat sistem gagal total.

Pemadaman itu terjadi mulai pukul 11.45 karena transmisi saluran udara tegangan ekstratinggi (SUTET) 500 kv Ungaran dan Pemalang tidak mampu menyalurkan listrik untuk memenuhi kekurangan di kawasan barat.

Berdasar wacana yang berkembang, informasi dari PLN, dan analisis pemicu, ada beberapa pelajaran penting yang perlu ditindaklanjuti. Pertama, perlunya pembenahan manajemen di PLN selaku pihak yang paling bertanggung jawab terhadap ketersediaan energi listrik.
Desain struktur organisasi yang adaptif terhadap perubahan, yakni yang mengedepankan keuntungan, tapi tidak mengabaikan fungsi sosial dari listrik dan penempatan SDM yang kompeten dari segi teknis dan bisnis.

Kedua, mengoptimalkan pemeliharaan dan peremajaan infrastruktur kelistrikan yang ada karena usia peralatan memberikan pengaruh pada efisiensi dan keandalan operasi.
Ketiga, memberikan pelatihan secara berkala kepada para operator lapangan dengan simulasi-simulasi yang nyata sehingga cermat dalam mengatasi persoalan di lapangan.

Keempat, sudah saatnya memberikan prioritas dan porsi pada pengembangan energi terbarukan, khususnya tenaga air dan sel surya. Sebab, natur energi terbarukan, selain ramah lingkungan, juga efektif untuk menjadi pembangkit cadangan karena berfungsi sebagai penyimpan energi (energy storage) dan cepat bermanuver ketika terjadi gangguan lantaran waktu start yang singkat. (*)

Dosen Teknik Elektro UK Petra Surabaya dan Wakil Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jatim

Close