Jurnalisme WargaOpini

Haji dan Pesan Kemanusiaan

Oleh: Rahmat Hidayat

Radarbekasi.id – Setiap tahun, ibadah haji menjadi ritual akbar bagi umat muslim dunia. Seorang yang melakukan haji harus memiliki kesiapan baik secara materil, fisik, pikiran, psikologi, dan hati. Sebagaimana dalam firman Allah swt. pada QS. Ali Imran: 97 menyatakan “wa lillahi ‘alan naasi hijjul baiti manistathaa’a ilaihi sabilaa”.

Orang hendak berhaji harus dilandasi niat untuk mencapai ridho Allah swt agar tercapai haji yang mabrur. Ibadah haji bukan untuk sekedar mencari status sosial.
Beberapa masyarakat kita salah kaprah dalam memahami ibadah haji. Mereka berhaji semata-mata ingin dipuji, ingin disebut bapak “haji” atau ibu “haji” serta ingin meningkatkan derajat status sosialnya di mata masyarakat setempat.

Hakikatnya, para haji yang pulang ke tanah air mengusung tanggungjawab sosial dan moral. Ia dituntut memberdayakan masyarakat setempat baik dalam agama, budaya, dan sosial. Keberadaan para haji dalam masyarakat berperan penting untuk mengentaskan kesenjangan sosial dan melakukan penyuluhan agama.

Namun realita berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya. Alih-alih menjadi pemberdaya umat, justru tidak sedikit mereka yang mempertegas garis kesenjangan. Gelar haji sebatas menjadi tittle yang merentangkan si kaya dengan si miskin yang belum berhaji. Eksistensi para haji belum menjadi kekuatan sosial yang nyata untuk merubah masyarakat ke arah yang bermartabat.

Ironi ini terjadi karena minimnya edukasi kepada calon haji mengenai makna dan hakikat haji. Para calon haji tidak cukup dibekali pengetahuan praktis fiqih haji semata. Mereka harus tahu makna yang terkandung dalam rukun-rukun haji agar perjalanan yang religius tersebut tidak menjadi formalistik.

Kesadaran Humanistik
Ibadah haji memuat nilai-nilai humanistik yang universal. Menurut M. Quraisy Shihab, syariat haji penuh dengan dimensi simbol yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan (1992: 35). Orang-orang yang menunaikan ibadah haji selalu mengawali diri dengan berihram yakni melepaskan pakaian dan menggantinya dengan sehelai kain putih yang tidak berjahit.

Tidak dapat disangkal bahwa pakaian berfungsi sebagai peneguh identitas yang membedakan antara satu individu dengan yang lain. Tentu dalam dunia kerja, pakaian seorang direktur berbeda dengan pakaian seorang pegawai.

Entitas pakaian menunjukkan perbedaan status baik sosial, ekonomi (profesi) dan politik. Selain itu, pakaian juga memberi pengaruh psikologis kepada pemakainya.

Saat berada di Miqat Makani, para haji yang berirham harus melepas segala atribut status sosialnya. Dalam ihram, semua melebur dalam persamaan dan persatuan sebagai hamba Allah.
Secara simbolik, ihram menyerukan kesetaraan derajat. Tidak ada kasta dan diferensiasi. Seorang Arab tidak lebih mulai dari non-Arab dan seorang bangsawan tidak lebih tinggi dari seorang rakyat biasa.

Selain itu, jamaah haji yang berihram dilarang merusak lingkungan, mencabut pepohonan, membunuh binatang dan pertumpahan darah. Dari sini, ibadah haji memupuk kesadaraan kosmis dalam diri manusia.

Sebagai khalifah di bumi, umat muslim dituntut menjaga keseimbangan alam dan merawat keharmonisan dengan manusia serta makhluk lainnya. Jangan sampai seorang mandataris Tuhan melakukan tindakan eksploitasi alam, radikalisme, pembunuhan dan sebagainya.
Kemudian dalam tawaf, beragam suku bangsa larut dalam lingkaran spiritual. Tawaf dalam haji mengesankan suatu kebersamaan menuju satu tujuan yang sama yakni Allah swt.
Seluruh elemen yang bertawaf larut dalam kesadaran ilahiah atau dalam bahasa sufi disebut al-fana’ fillah. Bahkan, Ka’bah yang dikitari mampu menghadirkan nuansa religius dan humanis (Zuhairi, 2009: 229)

Begitu pula dengan sa’i yang melambangkan perjuangan manusia di dunia ini yang kelak buahnya akan dituai di akhirat. Sa’i menegaskan bahwa kehidupan dunia dan akhirat merupakan kausalitas yang padu dan tidak terpisahkan. Kemudian, wukuf di padang Arafah yang gersang menyeru manusia untuk selalu bertafakkur akan kebesaran Allah serta menyelami jati dirinya sebagai hamba.

Secara substantif, ibadah haji sarat muatan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam Khutbatul Wada’ Nabi Muhammad menghimbau kepada umat muslim untuk memelihara jiwa, harta, dan kehormatan orang lain.

Bahkan, Nabi melarang kepada umat muslim melakukan penindasan dan pemerasan terhadap kaum lemah (minoritas). Dan, Nabi selalu menekankan persamaan derajat sesama manusia.
Pandangan dan himbaun Nabi di atas menegaskan bahwa ibadah haji memiliki keterkaitan erat dengan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Ibadah haji tidak lagi dimaknai sebagai ajang perlombaan mencari status atau derajat sosial semata.

Hari raya haji tahun ini adalah momentum untuk meneguhkan kembali jati diri kita sebagai khalifah Allah swt yang membawa perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan di muka bumi. (*)

Ketua Studi dan Pengembangan Bahasa Asing UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Tahun 2018

Lebihkan

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

12 − eleven =

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker