Jurnalisme WargaOpini

Keluarga Berbasis Pendidikan Multikultural

Oleh: Rahmat Hidayat

Radarbekasi.id – Secara kultur, masyarakat Indonesia mencerminkan wajah yang majemuk. Beragam suku, agama (keyakinan), dan budaya hidup dalam payung Indonesia yang menjunjung tinggi spirit Bhinneka Tunggal Ika.

Ibarat pisau, keberagaman bisa menjadi kekuataan yang konstruktif asal dikelola dengan baik. Sebaliknya, keberagaman bisa memantik konflik manakala kita tidak berkomitmen untuk hidup saling menghargai.

Memasuki abad ke-21, Indonesia menghadapi persoalan radikalisme baik dalam agama, sosial, budaya maupun politik. Ironisnya, benalu radikalisme mulai tumbuh menggerogoti keluarga Indonesia.

Bangsa ini menolak lupa kasus terorisme keluarga yang menyerang tiga gereja di kota Surabaya pada bulan Mei, 2018 lalu. Para pelaku teror adalah seorang ibu dan dua orang anak dari satu keluarga.

Tidak hanya itu, persoalan kekerasan fisik, seksual, dan psikologi juga menyertai keluarga Indonesia. Berdasarkan survei CATAHU Komnas Perempuan tahun 2018 menyatakan bahwa angka kekerasan di ranah privat (keluarga) mencapai 87% dengan rincian kekerasan fisik 41%, kekerasan seksual 31% dan kekerasan psikis 15%. Lebih spesifik, CATAHU mencatat 425 pelaku dari kasus kekerasan seksual adalah ayah kandung.

Jika kita sadari bersama, kekuatan masyarakat Indonesia bersumber dari keluarga. Membangun masyarakat yang berintegritas harus dimulai dari keluarga dengan menyemai pendidikan multikultural dini. Selama ini, kita selalu berasumsi bahwa pendidikan agama menjadi biang utama diseminasi tindakan kekerasa. Padahal keluarga memiliki potensi yang besar sebagai tempat diseminasi paham dan tindakan radikal.

Penopang Budaya Bangsa
Sebagai tri pusat pendidikan, keluarga menjadi basis awal pendidikan karakter anak. Keluarga menjadi start kehidupan sosial seorang anak. Orang tua sebagai pendidik pertama bertanggungjawab membangun karakter anak dan membangun pikiran anak yang terbuka dengan keberagaman.

Dalam psikologi, keluarga dimaknai sebagai kumpulan individu yang hidup bersama dengan merasakan adanya pertautan batin sehingga saling perhatian, saling membantu dan bersosial (Berns, 2007: 87).

Secara nyata, keberagaman yang membentuk keluarga akan tetapi kebersamaan dan cinta yang merubahnya menjadi suatu kekuatan.

Di era revolusi digital, penetrasi ideologi asing yang radikal mengincar generasi bangsa. Di tambah lagi beragam konten hate speech, cyber bullying, dan cyber crime berkelindan di dunia maya.
Dalam kondisi krusial ini, pendidikan multikultural harus diaktualisasikan sejak dini sebagai counter atas segala praktik kekerasan.

Multikulturalisme merupakan paham yang menerima perbedaan dalam kesederajatan (Suparlan, 2002: 98). Sedangkan, pendidikan multikultural adalah proses pendewasaan sikap dan tata laku seseorang melalui pengajaran, dan pembiasaan dengan prinsip pendidikan yang menjungjung tinggi nilai kasih sayang dan toleransi yang humanis.

Pendidikan multikultural keluarga berupaya mendekatkan dan mengenalkan generasi milenial dengan akar budaya bangsa.

Pendidikan ini akan menanamkan sikap terbuka dan toleran dalam diri anak serta membantu anak memahami jati dirinya sebagai warga dari bangsa yang majemuk.
Secara prinsip, pendidikan multikultural menekankan rasa cinta, rasa kasih sayang dan sikap menghargai antar sesama.

Nilai-nilai tersebut perlu direvitalisasi dalam keluarga guna menghadapi beragam persoalan seperti KDRT, radikalisme keluarga dan sebagainya.

Pendidikan multikultural keluarga berorientasi pada transfer of knowledge dan values. Selama ini orang tua hanya memenuhi kebutuhan materil anak tetapi abai dengan kebutuhan jiwa dan psikologi anak.

Dari sini, pendidikan multikultural upaya mempertajam kompetensi interpersonal anak dalam menghadapi realitas keberagaman.

Implementasi pendidikan multikultural keluarga perlu diintegrasikan dengan nilai kearifan lokal setempat. Misalnya, masyarakat Jawa mengenal tradisi sungkeman.
Tradisi sungkem yang menyimbolkan penghormatan dan penghargaan kepada orang lain patut dibumikan dalam keluarga. Orang tua bisa membudayakan tradisi cium tangan dalam keluarga.

Selain itu, pendidikan ini dapat diejawatahkan dalam bentuk silaturrahmi. Secara moral, orang tua bisa mengajak buah hati untuk menyambangi famili dan tetangga setempat. Silaturrahmi adalah upaya merawat tali persaudaraan baik seagama maupun sebangsa.

Realisasi pendidikan multikultural dapat diwujudkan dalam musyawarah keluarga. Anak perlu dilibatkan dalam musyawarah dan dimintai pendapat supaya pikiran anak lebih terbuka menerima keragaman pendapat. Dengan demikian, komunikasi interpersonal dalam keluarga akan semakin kuat.

Hakikatnya, keteladanan orang tua menjadi poros keberhasilan pendidikan multikultural keluarga. Ayah dan ibu perlu memberi contoh yang baik terhadap anak.

Buah hati akan selalu menirukan apa yang diperbuat orang tua. Misalnya ayah dan ibu selalu tegur sapa, maka perbuatan tersebut akan dibaca dan ditiru oleh anak.

Upaya pembangunan bangsa harus dimulai dari keluarga. Pendidikan multikultural keluarga bertujuan mengembalikan jati diri keluarga sebagai penopang budaya bangsa.

Oleh karenanya, keluarga Indonesia harus bersih dan bebas dari segala praktik kekerasan, agar kelak generasi bangsa yang ditempa menjadi penjunjung martabat bangsa. (*)

Alumni PP. Al-Amien Prenduan & Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Lebihkan

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three × four =

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker