Jurnalisme WargaOpini

Outcomes Based Education (OBE): Tantangan bagi Sekolah

Oleh: Didi Suradi

Radarbekasi.id – Apakah setiap sekolah sudah menerapkan Outcomes Based Education (OBE) dalam menjalankan proses pendidikannya? Apakah semua sekolah sudah secara sadar menjaga mutu pendidikan agar menghasilkan kualitas outcomes seperti yang diharapkan? Lalu apakah kualitas outcomes tersebut dapat berdampak pada sustainabilitas sekolah? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini perlu dijawab untuk membuktikan bahwa semua hal yang ditanyakan tersebut sudah benar-benar dilaksanakan dengan baik di sekolah. Lalu seberapa pentingkah masalah peningkatan mutu pendidikan bagi sekolah dan masyarakat?

Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945, setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Maka, sekolah diwajibkan memberikan pelayanan pendidikan bagi seluruh peserta didiknya dengan kualitas yang baik. Untuk itulah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Permendikbud No. 28 Tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Sekolah Dasar dan Menengah. Permendikbud ini wajib diterapkan oleh seluruh sekolah baik negeri maupun swasta. Dengan demikian, setiap lembaga pendidikan sebagai pemberi jasa, wajib menjaga kualitas pelayanan pendidikannya, sehingga memenuhi rasa kepuasan masyarakat selaku penerima jasa.

Masyarakat biasanya menilai kualitas pendidikan dari tiga aspek, antara lain input, proses dan output/outcomes. Aspek input lebih menekankan pada segi sumberdaya, finansial dan infrastuktur. Sebagai contoh, sekolah akan dianggap berkualitas jika memiliki fasilitas dan sarana yang lengkap dan baik. Selain itu, agar mutu sekolah terjaga, maka sistem seleksi siswa baru harus lebih ketat. Calon siswa dengan kategori yang tidak sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan tidak akan diterima. Biaya pendidikan yang mahal akan dianggap sebagai sekolah yang bermutu. Alasannya, untuk memiliki sarana dan fasilitas yang baik, sangat dibutuhkan biaya yang besar. Sekolah yang mengukur kualitas pendidikan dari segi input akan segera memenuhi kriteria yang diuraikan diatas.

Aspek proses menekankan pada segi pengelolaan yang dilakukan oleh lembaga pendidikan, termasuk juga pengawasan terhadap jalannya proses pendidikan yang dilakukan. Proses akan dianggap baik jika sekolah mampu mengoptimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki. Jika proses ini berlangsung dengan baik, maka hasilnya akan sesuai dengan yang diharapkan. Agar proses berjalan efisien dan efektif, diperlukan kepemimpinan yang baik untuk mengelola sumber daya yang ada. Kegagalan sekolah menghasilkan output dan outcomes yang berkualitas, disebabkan karena kepemimpinan sekolah tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik.

Lain halnya dari segi output/outcomes. Kualitas pendidikan dilihat dari hasil pendidikan yang diberikan pada peserta didiknya. Untuk itu, perlu diyakini bahwa semua aspek dari proses pendidikan merupakan hal yang penting. Dalam hal ini, kualitas Pendidikan tidak boleh dilihat hanya dari sudut pandang yang sempit, misalnya hanya dari tinggi atau rendahnya nilai ujian nasional, banyak atau sedikitnya siswa yang diterima di sekolah atau perguruan tinggi favorit. Namun kualitas pendidikan harus juga dilihat dari kemampuan lulusan menerapkan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari sekolah dalam seluruh aktivitas sehari-hari. Output/outcomes seharusnya mampu menyerap seluruh aspek pembelajaran yang diberikan sekolah, yang meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan. Sehingga kompetensi yang dimilikinya itu mampu menjawab setiap tantangan yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kualitas output/outcomes tidak hanya dilihat sesaat setelah siswa lulus, melainkan dilihat juga beberapa tahun kemudian setelah kelulusannya.

Keluaran atau hasil dari dunia pendidikan dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu output dan outcomes. Pembuatan kategori ini dilakukan agar para pelaku pendidikan tidak keliru dalam memahaminya. Output menggambarkan hasil yang dicapai dari proses pendidikan yang diberikan pada setiap peserta didik. Dalam kata lain output adalah profil dari lulusan yang dapat diamati dari perolehan nilai serta perubahan perilaku yang nampak. Kualitas output dapat segera diketahui setelah program pendidikan selesai dilaksanakan, atau sesaat setelah kelulusan. Sedangkan outcomes merupakan dampak lebih lanjut dari profil lulusan. Kualitas outcomes baru dapat diketahui beberapa tahun kemudian setelah program pendidikan selesai dilaksanakan. Misalnya dapat diterima di sekolah lanjutan atau perguruan tinggi yang bonafid dan diterima di lapangan pekerjaan yang diinginkannya. Jika kualitas outcomes baik, akan berdampak pada meningkatnya kepercayaan masyarakat pada sekolah.

Pentingnya kualitas outcomes, telah memaksa sekolah berlomba-lomba untuk membuat program pendidikan yang jenius. Di sinilah pentingnya merumuskan sebuah program pendidikan berdasarkan hasil atau dikenal dengan istilah Outcomes Based Education (OBE). Semakin baik kualitas outcomes, akan semakin mudah bagi sekolah menjaga sustainabilitasnya. Pasalnya, masyarakat sebagai pelanggan, melihat mutu sekolah dari keterpakaian lulusan di masyarakat. Sekolah yang memiliki output yang baik dan terbukti mampu mengimplementasikan ilmu yang diperolehnya, akan diminati masyarakat.

Outcomes Based Education (OBE) sebenarnya bukan hal baru bagi dunia pendidikan. Kebanyakan sekolah sudah menerapkan hal ini, namun belum secara sadar merumuskannya menjadi sebuah program yang terstruktur secara sistematis. Mereka merasa sudah selesai urusannya dengan siswa ketika sudah lulus dari sekolah, padahal ini keliru. Sekolah bertanggung jawab terhadap kualitas output dan outcomes. Sekolah yang memiliki kebutuhan untuk menjaga keberlangsungan mutu output dan outcomes sama saja dengan memelihara mutu generasi bangsa, karena merekalah output dan outcomes pendidikan yang sebenar-benarnya. (*)

Guru di Yayasan Al Muslim Tambun

Lebihkan

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × 4 =

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker