BEKACITIZENOpini

Hati-Hati Mendidik Anak Aktif (1)

Oleh : Titi Widaryanti

Radarbekasi.id – Tiap anak memiliki karakter dan tingkat kecerdasan berpikir yang berbeda. Anak-anak dengan segala ciri khas masing-masing itu suatu keunikan. Mereka dikaruniai kelebihan tetapi juga diberi kekurangan. Anak-anak tidak ada yang sempurna.

Dengan keunikan tersebut karakter anak bisa dibentuk oleh orang tua dan lingkungannya. Terutama peran orang tua yang memiliki waktu lebih banyak untuk putra-putri kita akan sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter anak. Akan tetapi kualitas komunikasi lebih bermakna dari pada kuantitas waktu yang kurang dimanfaatkan.

Anak terdiri dari berbagai karakter. Ada anak yang pendiam dan sangat penurut, ada yang cerewet karena rasa keingintahuan yang sangat besar serta aktif, ada yang pendiam tapi aktif secara motorik, Anak saya termasuk tipe kedua, cerewet dan aktif. Ingatannya kuat dan sangat kritis. Untuk menghadapi si buah hati ini sangat diperlukan kesabaran yang ekstra. Mungkin tak hanya putri saya yang seperti itu, banyak anak yang setipe walaupun tak sama persis.

Dalam curhat ini saya akan menceritakan masa kecil dan masa menginjak remajanya. Nama kesayangan dari kami untuknya adalah OFI. Dari kecil sampai sekarang berusia 13 tahun rasa ingin tahunya besar dan tak jarang menguji kesabaran saya.

Baca : Hati-Hati Mendidik Anak Aktif (habis)

Waktu kecil saya sering kehilangan dia, karena anaknya sangat berani dan selalu ingin mencoba. Dia ke pasar sendiri, ke TK yang banyak mainannya, ke rumah budenya yang lumayan jauh, dan ke tempat-tempat yang sering kami kunjungi pada hari Minggu. Bagaimana bisa terjadi? Saya dan suami kerja, sehingga dia di rumah dengan pengasuh yang saya percaya. Pengasuhnya itu sambil beberes rumah, nah jika pengasuh lengah sedikit saja Ofi akan cari jalan untuk keluar mencoba keberanian dan ingatannya itu. Maka tak jarang saat saya sibuk di tempat kerja pun dibel harus pulang karena pengasuhnya sudah cari kemana-mana belum menemukan. Saya dan suami segera pulang dan mencari ke tempat-tempat yang sering kami kunjungi dan bagi Ofi itu mengasyikkan. Alhamdulillah, setiap ketemu kami langsung berlari menangkap dan memeluknya erat dan Ofi pun seperti biasa dengan bangga bercerita. ”Mah Ofi dah berani ke sini sendiri dan hafal jalannya. Ofi hebat kan, Mah?” Dalam gendongan menuju perjalanan pulang saya nasihati dengan baik. Sesekali dia menjawab membela diri. Dia mau jadi anak hebat yang pemberani, bisa kemana-mana sendiri. Aduh, pokoknya jantung ini ibarat bongkar pasang, rasanya sering mau copot.

Itu masalah pertama yang membuatku dag dig dug. Yang kedua ini, terkait dengan daya ingatnya yang kuat dan sifat kritisnya. Setiap dinasihati selalu memperhatikan dan menurut, tidak pernah membantah. Namun, nasihat kita berbalik jadi senjata dia, bumerang bagi kami. Sebelum ditinggal kerja, berpamitan dan menciumnya. Tak lupa ada pesan nasihat untuknya, “”Jangan banyak minta jajan ya ke Mbak karena mamah baru kerja Mbak ga punya uang banyak.” Sambil manggut-manggut menjawab, ”Ya.” Apa yang terjadi saat hari libur saya tidak kerja? Hampir setiap tukang jualan dan odong-odong lewat diberhentikan dan minta uang karena mama di rumah ga kerja, minta uangnya tidak ke mbak yang ga punya uang banyak. Aduh, kena lagi ini. Si kecil membalikkan nasihat yang pernah saya pesankan. Tentu saja hal ini sangat perlu waktu dan pelan-pelan memberikan pengertian pada si kecil yang merasa benar. Alhamdulillah, akhirnya bisa mengerti dan berubah.

Saya dan suami sebagai orang tuanya pasti sangat khawatir jika si buah hati kurang sehat. Apalagi bagi dia punya alergi. Si kecil alergi angin dan minum es. Setiap kena angin dan minum es badannya panas dan flu. Saat main agak jauh saya panggil untuk segera pulang karena di luar banyak angin dan sebuah jawaban yang membuat saya tercengang. Si kecil mendekat dan lari bermain lagi, ”Ga ada angin Mah, tuh lihat pohon mangga Bapak ga goyang-goyang!”

Ya Allah, semoga saya selaku diberikan kesabaran dan dapat mendidik dengan benar. Malam harinya sebelum tidur saya mendongeng terkait tema peristiwa sore itu. Dia mendengarkan dan bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan kritisnya. Setiap kali mendengarkan dongeng yang terjadi tidak seperti yang diharapkan orang tua pada umumnya. Si kecil ini malah rasa kantuknya seakan hilang, dia fokus menyimak. Aduh, cara apa ya kira-kira yang membuatnya cepat tidur? Apa ditakut-takuti seperti metode ibuku waktu aku kecil saja ya.

Pernah kucoba hal tersebut, tetapi justru membuatku repot. Dia ingin keluar melihat hantu yang saya sebut suka menggangu anak kecil yang rewel ga mau tidur itu. Dia bersikeras ingin melihat, jendela kamar tidak boleh ditutup. Alhamdulillah suami menemukan cara, Ayahnya mengaji dan bilang hantunya sudah pergi takut dengar suara orang mengaji. Jendela pun ditutup dan lama-kelamaan dengan mendengar suara ayahnya mengaji dia tertidur. (bersambung)

Anggota KGPBR

Close