Jurnalisme WargaOpini

Ibu Adalah Sekolah Pertama Dalam Kehidupan (1)

Oleh : Siti Ropiah

Radarbekasi.id – Lagu Bunda karya Melly Goeslow menggambarkan tentang sosok seorang ibu yang cintanya bukanlah cinta biasa. Cinta yang tak menuntut balas. Cinta sejati yang tak dimiliki orang lain selain seorang ibu. Cintanya mampu memberi kehidupan seorang anak manusia. Cintanya mampu membangkitkan semangat anak manusia. Cintanya mampu membuat seseorang menggapai kesuksesan. Cintanya mampu menuntun ke jalan yang benar. Cinta yang mampu menghilangkan rasa sakit, mampu mengobati luka, mampu menghapus air mata, mampu menutup duka nestapa dan mampu menghalau bahaya yang datang.

Ibuku seorang wanita biasa, ibu rumah tangga dan bukan orang terpelajar. Beliau hanya mengenyam bangku sekolah dasar kelas dua. Masa remajanya pun hanya dinikmatinya sebentar, karena harus dilepaskannya di usia sekitar 12 tahun dengan harus menerima bapakku sebagai suaminya. Namun beliau tidak pernah putus asa dari kejadian apapun yang dialaminya. Cintanya bukanlah cinta biasa, menghasilkan kebanggan. Bagiku Ibu adalah segalanya, Ibu adalah guruku, Ibu adalah inspiratorku, Ibu adalah motivatorku, dan Ibu adalah cahaya hidupku.

Ibu adalah guruku. Kesabaran jiwanya mengajarkan aku mengenal huruf tanpa lelah. Perjuangan hidupnya dilakukannnya tak kenal lelah ketika mengantarku sekolah, hingga menunggu di dalam kelas sambil berjongkok. Dekapan tangannya membimbingku ke jalan rida ilahi. Sentuhan tangannya mengingatkanku ketika salah. Kekuatan cintanya mengantarkanku mencapai sukses. Kelembutan kasihnya membawa aku mengenal arti kehidupan.

Baca : Ibu Adalah Sekolah Pertama dalam Kehidupan (habis)

Benarlah adanya ketika terdapat slogan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi seorang anak di dalam rumah. Artinya, ibu merupakan orang pertama yang mengenalkan norma-norma pada anak sebagai ”modal awal” agar anak menjadi pribadi yang baik dan menjunjung tinggi nilai-nilai (Islam) dalam kehidupannya.

Setiap anak lahir dalam kondisi suci, kemudian orang tua yang berperan untuk mewarnai anak tersebut, sesuai dengan pesan Rasulallah SAW ”Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci”. Maka peran orang tua khsususnya ibu begitu penting bagi perkembangan hidup seorang anak, untuk memberi warna dalam kehidupanya. Anak merupakan titipan dari Sang Pencipta, maka kewajiban orang tua khususnya ibu agar memelihara amanah tersebut dengan sebaik baiknya dengan mengajarkan akhlak karimah dan dasar iman kepada anak sejak dini. Hal itu merupakan bekal bagi setiap anak dalam menjalani kehidupannya, agar selamat dunia akhirat, sesuai pesan Allah dalam QS at Tahrim : 6, ”Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Ibu Inspiratorku. Setiap anak pasti mencintai ibunya, seberapa pun cerewetnya seorang ibu, kepo dan suka marah. Namun dalam hati seorang anak, ibu adalah kebanggaannya. Ibu menjadi uswah atau inspirasi dalam hidupnya, demikian pula dengan diriku.
Ibu bagiku adalah sumber inspirasi tiada henti yang membuatku mengerti tentang tujuan hidup yang sebenarnya. Dari kisah hidupnya aku mampu memahami apa arti tanggung jawab, ketaatan beribadah, saling tolong menolong, kepedulian terhadap sesama dan kemandirian.
Inspirasi dalam memahami tanggung jawab.

Ibu selalu mengingatkan kepada kami anak-anaknya, bahwa apa yang kita lakukan harus dapat dipertanggungjawabkan. Seperti ketika aku memilih untuk kuliah kedua di Universitas Muhamadiyah Jakarta (UMJ), karena aku sudah kuliah di UIN Jakarta. Ibu memberikan dukungannya, namun menjelaskan bahwa hal itu tak mudah untuk aku jalani. Aku harus dapat membagi waktu dan mengatur keuangan yang pada saat itu, orang tuaku tidak memiliki uang yang lebih untuk biaya kuliah. Akhirnya akupun berjanji pada orang tua untuk tidak menambah beban pada mereka. Aku buktikan bahwa aku mampu untuk melakukan yang diminta ibu, baik dalam hal belajar maupun keuangan. Aku mencari tambahan keuangan dengan memberikan les, sesekali penerima jasa fotokopi dan menjual buku.
Inspirasi dalam ketaatan beribadah.

Ibuku termasuk orang yang religius. Kepatuhannya kepada Allah dibuktikan dengan membaca Alquran dalam kehidupannya. Hari-harinya dipenuhi dengan lantunan ayat Alquran tanpa kenal lelah, hingga khatam Alquran pun dapat dicapai dalam kurun watu dua minggu. Puasa sunah selalu menemaninya, hingga tanggal tertentu pun menjadi perhatiannya untuk dapat mengisinya dengan puasa, seperti puasa 1-10 bulan rajab, puasa Sya’ban, puasa haji dan senin kamis. Salat sudah menjadi rutinitas yang tak pernah dilupakan, seperti salat sunah rawatib (salat sunah yang mengiringi salat wajib), salat tasbih, tahajud dan dhuha. Tentu apa yang ibu lakukan, kami pun anak anaknya diperintahkan untuk mengikutinya, walaupun tidak sebanyak yang ibu lakukan. (*)

KGPBR Kab. Bekasi

Lebihkan

Artikel terkait

Close
Close