Jurnalisme WargaOpini

Ibu Adalah Sekolah Pertama dalam Kehidupan (habis)

Oleh: Siti Ropiah

Radarbekasi.id – Inspirasi dalam saling menolong.
Kelembutan hatinya membawa pada sikap selalu berbagi pada sesama, hingga memunculkan sikap ringan tangan, selalu membantu keluarga yang memerlukan bantuan. Kebetulan keluarga ibu adalah keluarga besar dengan 9 orang bersaudara. Masing-masing dari saudara ibu memiliki anak bahkan cucu yang banyak pula. Dalam kehidupan seseorang, seringkali mengalami kesulitan hidup. Terhadap kesulitan hidup ini, ibu selalu membantunya. Membantu dengan memberikan sejumlah uang kepada saudara yang memerlukan, terkadang untuk biaya berobat orang sakit, bantuan untuk modal usaha atau untuk biaya sekolah. Nyaris ibu menjadi tumpuan saudara yang memerlukan, baik saudara dari pihak ibu maupun dari pihak ayah.

Inspirasi dalam kepedulian terhadap sesama.
Ibuku wanita hebat. Kukatakan demikian bukan tanpa sebab. Kehebatan ibuku terbukti dalam dua hal yang memiliki dampak besar dalam mencerdaskan masyarakat. Pertama, Ia membangun sebuah majelis taklim di kampungku. Saat itu, masyarakat termasuk kaum ibu, masih banyak yang tidak mengerti tentang agama dan membaca Alquran. Keinginan ibu untuk memajukan kehidupan keagamaan bagi masyarakat kampungku tersebut begitu besar, hingga ia dapat membangun lembaga majelis taklim dengan mengajak masyarakat untuk turut membantunya.

Akhirnya berkat kegigihannya mengajak masyarakat dan ia pun mewakafkan tanah yang ia beli dari masyarakat untuk membangun majelis taklim tersebut. Akhirnya berdirilah lembaga majelis taklim untuk tempat pengajian kaum ibu. Perjuangan ibu tidak sampai di situ, ia pun terus berjuang dalam mengajak kaum ibu agar mau mengkuti pengajian di majelis taklim yang dilaksanakan dua kali dalam seminggu. Akhirnya setelah perjuangan yang cukup panjang, sekitar 10 tahun, maraklah majelis taklim berisi dengan kaum ibu yang belajar, baik belajar baca Alquran atau belajar materi keagamaan dengan sistem ceramah. Jumlah anggota majelis taklim pada saat ini mencapai 300 orang. Jumlah ini akan terlihat pada saat pengajian dilaksanakan setiap hari Jumat. Aku termasuk turut memberi materi pada majelis taklim satu kali dalam satu bulan di minggu pertama.

Baca : Ibu Adalah Sekolah Pertama Dalam Kehidupan (1)

Kedua, beliau mewakafkan tanahnya untuk lembaga pendidikan tinggi yang merupakan satu satunya lembaga pendidikan tinggi yang dimiliki putra daerah untuk wilayah Cikarang. Ini dilakukan ibu dua tahun sebelum kepergiannya menghadap Sang Khalik. Lembaga pendidikan tersebut berdiri di atas tanah wakaf seluas 2.000 M2 dengan jumlah mahasiswa sekitar 450 orang.

Inspirasi dalam kemandirian.
Dalam kehidupan rumah tangga, hampir aku tak pernah melihat ibu meminjam uang kepada orang lain. Ia akan mengatur keuangan dalam rumah tangga sebaik-baiknya, agar dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karena itu, ibu selalu memasak makanan sendiri, karena akan meringankan biaya pengeluaran dengan jumlah anggota keluarga yang lumayan banyak 7 orang. Ibuku sangat pandai memasak, hingga semua anggota keluarga lebih senang makan masakan ibu dibanding masakan di luar rumah, selain karena lebih mahal. Ibu pun seorang pebisnis handal namun dermawan. Beliau bisnis baju seragam majelis taklim, namun tidak jarang beliau memberikan keringanan harga kepada masyarakat yang kurang mampu, bahkan memberinya Cuma-cuma.

Ibu Motivatorku. Ibu sekalipun beliau tidak mengenyam pendidikan tinggi, namun semangat beliau menyekolahkan buah hatinya tak pernah luntur. Alhamdulillah semua anak-anaknya dengan jumlah 5 orang dapat mengenyam pendidikan tinggi, yaitu dua orang mencapai S3, satu orang S1 dan dua orang D3. Ibu memberikan dukungan kepada anak-anaknya dengan sepenuh hati, termasuk terhadap aku. Saat kuliah S1, aku mengambil kuliah pada dua universitas di Jakarta, yaitu UIN Jakarta (dulu bernama IAIN) dan UMJ (Universitas Muhammadiyah Jakarta). Keputusanku untuk mengambil kuliah di dua kampus, tak lepas dari dorongan ibu yang dengan semangat selalu membesarkan hatiku. Motivasi ibu terus menggelora sampai pada saat aku mengambil sikap dalam bekerja. Aku yang lulusan hukum (gelarku Dra dan SH), namun bekerja dalam dunia pendidikan. Pada saat itu, ibu yang mendukungku untuk kuat dan menerima pekerjaan sebagai seorang guru, walau dengan honor yang tak seberapa.

Ibu cahaya hidupku. Ibu adalah sosok wanita hebat yang luar biasa. Kehadiran jiwanya bagaikan cahaya dalam kegelapan dunia. Kasih sayangnya bagaikan mentari yang selalu menyinari dunia tanpa lelah dan letih. Cahaya matanya indah laksana pelangi yang menghiasai langit. Hangat pelukannya mampu meredam bara api di dada. Kata bijaknya mampu meredakan emosi di jiwa. Lembut sentuhannya mampu menyejukkan hati. Demikian pentingnya Ibu bagiku laksana matahari menyinari bumi, hingga ketika Ibu tak lagi di sisiku, mampu membuat hatiku hancur, jiwaku merana, pikiranku hampa, tubuhku pun lemah tanpa daya. Tidak ada duka yang paling lara dan tidak gundah yang paling gulana ketika seorang ibu dipanggil oleh Sang Maha Pencipta. Ibu, cintamu bukan cinta biasa, tapi akupun mencintaimu denga amat luar biasa. Semoga Ibu tenang di surga-Nya, aamiin. (*)

KGPBR Kab. Bekasi

Lebihkan

Artikel terkait

Close
Close