Jurnalisme WargaOpini

Teguran dari Tanah Papua di HUT ke-74 RI

Oleh: Yusup Bachtiar

Radarbekasi.id – Baru beberapa hari kita bersuka cita menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia. Gelora semangat nasionalisme dan patriotisme bagaikan terisi ulang kembali disanubari masyarakat Indonesia.

Setiap daerah serentak mengadakan Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih dengan penuh khidmat. Berbagai macam perlombaan, dan bahkan karnaval budaya turut memeriahkan suasana hari kemerdekaan tersebut.

Sehingga momen peringatan hari kemerdekaan menjadi rutinitas yang mentradisi dan sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia, baik yang di daerah-daerah maupun perkotaan bahkan bagi masyarakat yang berada di luar negeri.

Namun berselang beberapa hari masyarakat Indonesia memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Konflik disintegrasi kembali mewarnai pemberintaan-pemberitaan di media massa Indonesia.

Kerusuhan yang terjadi di Manokwari, Papua Barat (19/8) tidak bisa terhindarkan. Kerusuhan tersebut diawali dengan bertebarannya berita di media sosial tentang asrama mahasiswa Papua di Surabaya yang didatangi oleh beberapa warga dan aparat keamanan.
Para mahasiswa Papua dituduh merusak bendera merah putih yang dipasang di depan asrama mahasiswa Papua. Walaupun tidak diikuti dengan bukti-bukti yang kuat bahwa mahasiswa Papua tersebut yang melakukan pengrusakan bendera.

Dari aksi tersebut diwarnai aksi tidak terpuji dengan sikap rasis yang terlontar dari beberapa warga yang berada di lokasi. Sehingga rekaman video aksi tersebut tersiar ke berbagai media sosial dan media massa. Lantas kabar itu menyulut kemarahan beberapa masyarakat di Papua Barat dan bahkan telah menjadi pemberitaan nasional.

Permasalahan disintegrasi di Papua memang bukan suatu hal yang baru di negara kita. Permasalahan disintegrasi bangsa menjadi isu klasik yang setiap tahunnya menghiasi pemberitaan di negeri ini. Melalui catatan sejarah pun kerusuhan dan isu pemberontakan di Papua menjadi catatan minor tersendiri di Indonesia.

Apalagi jika kembali dikaitkan dengan isu pemberontakan untuk Papua merdeka. Sungguh sesuatu hal yang tidak ingin diharapkan kembali terjadi. Oleh sebab itu, perlunya kita sikapi bersama dengan bijak dan penuh introspeksi.

Kejadian ini menjadi teguran bagi bangsa indonesia, keadilan dan kesejahteraan menjadi pokok persoalan yang perlu disikapi dengan serius oleh pemerintahan Indonesia.
Usia kemerdekaan Indonesia yang ke-74 ini menjadi tahapan evaluasi bersama untuk memperkokoh semangat persatuan dan kesatuan diatas perbedaan.

Lantas apa yang harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia saat ini? Hadirnya keberadaan Pemerintah untuk mendorong penegakan hukum seadil-adilnya, terutama yang melakukan pelanggaran hukum dan bersikap tegas bagi oknum-oknum yang mencoba memanfaatkan kerusuhan ini.

Selain itu, pemerintah juga perlu melakukan pendekatan secara persuasif untuk mendamaikan kondisi di Papua. Pada aspek lainnya pun pemerintah juga harus tanggap dalam memperhatikan nasib kesejahteraan masyarakat Papua. Aspek kesejahteraan dan pembangunan di Papua dianggap belum memuaskan.

Buktinya, masih mudah sekali disana terjadi gesekan konflik disintegrasi bangsa. Artinya masih ada persoalan yang belum tuntas menyangkut kepentingan masyarakat Papua itu sendiri. Padahal Papua menjadi salah satu pendorong perekonomian Indonesia melalui kekayaan alamnya pada sektor produksi bahan-bahan tambang.

Selain itu masyarakat Indonesia juga perlu bersikap dewasa dan cermat. Sikap tersebut sangat diperlukan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh pemberitaan yang sifatnya belum pasti kebenarannya. Sebab sangat mudah sekali di era digital ini untuk memprovokasi masyarakat melalui berita palsu atau hoax.

Masyarakat pun perlu menghindari penyelesaian-penyelasaian masalah yang mengarah pada kekerasan fisik. Sebagaimana para pendiri bangsa telah mencontohkan tentang cara penyelesaian masalah. Melalui prinsip kompromi dan asas musyawarah mufakat.

Artinya, membiasakan untuk berpikir sebelum bertindak dibandingkan rasa emosi dan amarah yang mendominasi. Persoalan Papua menjadi teguran besar bagi bangsa Indonesia bahwa Negara kita masih rapuh. Persatuan dan kesatuan masih mengandung nilai semantik.

Semboyan Bhineka Tunggal Ika hanya tergantung menghiasi dinding-dinding ruangan. Jika bangsa ini menganggap telah merdeka, tentunya kemerdekaan perlu dirasakan oleh setiap warga negara tanpa ada isu SARA yang kembali menyakitkan bumi pertiwi ini. (*)

Guru PKn MAN 1 Bekasi

Lebihkan

Artikel terkait

Close
Close