Jurnalisme WargaOpini

Peserta Didik Tak Pernah Salah (habis)

Oleh : Rani

Radarbekasi.id – Alasan kedua, perasaan yang meyakini bahwa mencontek adalah sebuah hal yang sudah lumrah dan mereka mungkin menemui beberapa guru yang kurang bertindak tegas terhadap kegiatan menyalin pekerjaan peserta didik lain. Keyakinan ini akhirnya membuat peserta didik terbuai dan merasa mereka dapat mencontek pada semua pelajaran.

Contoh keempat, adalah ketika guru memberikan pekerjaan rumah dan peserta didik tidak mengerjakannya. Beberapa guru yang memandang pembelajaran hanya pada hasil akhirnya, dapat langsung menyatakan peserta didik bersalah apabila mereka tidak mengerjakan pekerjaan rumah mereka.

Tapi untuk beberapa guru yang memandang pembelajaran sebagai sebuah proses, mereka akan mencari tahu kenapa seorang peserta didik tidak mengerjakan pekerjaan rumah mereka. Beberapa alasan yang mungkin terucap dari bibir mereka, dua diantaranya akan dipaparkan pada paragraph ini. Alasan pertama adalah mereka merasa mengerjakan atau tidak mengerjakan tidak akan berpengaruh pada diri mereka karena setiap pekerjaan rumah yang diberikan tidak diberikan respon, baik berupa nilai maupun penghargaan ataupun hukuman.

Baca : Peserta Didik Tak Pernah Salah (1)

Alasan kedua adalah kuantitas dari pekerjaan rumah yang tidak sesuai dengan jumlah waktu luang yang dimiliki peserta didik dan waktu yang memang sudah dialokasikan pemerintah untuk tugas mandiri terstruktur maupun tugas mandiri tidak terstruktur. Sehingga peserta didik memilih untuk menyerah sebelum berperang karena tidak tertarik melihat banyaknya pekerjaan rumah yang diberikan.

Keempat contoh diatas dapat membantu guru untuk lebih melihat apakah pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh peserta didik dapat dikategorikan sebagai kesalahan mereka atau apakah sepenuhnya kita tidak dapat menyalahkan peserta didik atas pelanggaran-pelanggaran yang mereka lakukan.

Seorang guru harus memiliki empat kompetensi berdasarkan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 dan Undang-undang No.14 tahun 2005. Keempat kompetensi tersebut adalah kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi profesional dan kompetensi pedagogis.

Kompetensi pedagogik meminta guru untuk dapat lebih menguasai karakter peserta didik sehingga dapat lebih melihat jauh ke dalam diri seorang peserta didik dan apa yang mereka butuhkan dalam pembelajaran, sehingga mereka dapat terhindar dari pelanggaran-pelanggaran yang diluar kesadaran atau pengetahuan mereka.

Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial mendukung seorang guru untuk dapat menempatkan dirinya berada diantara para peserta didik, sehingga guru menjadi pribadi yang disayangi, disenangi dan sekaligus disegani.

Kompetensi professional diperlukan untuk mendorong guru agar dapat terus mengembangkan pengetahuannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan pada akhirnya meningkatkan kualitas peserta didik yang diajar.

Keempat kompetensi diatas sangat perlu untuk dimiliki oleh guru sehingga terdapat sinergi yang sangat positif antara seorang guru dan seorang peserta didik. Mereka saling mendukung satu sama lain dan saling bekerjasama untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik. Tidak ada lagi seloroh guru tidak pernah salah dan tidak ada lagi peserta didik yang melanggar peraturan karena hal-hal yang dapat diminimalisir baik oleh guru, warga sekolah yang lain atau bahkan oleh peserta didik sendiri. (*)

Guru SMPN 7 Tambun Selatan

Close