Berita UtamaKriminalPeristiwa

Balita Dilempar ke Tembok

Kesal Anak Rewel Tidur Terganggu

ISTIMEWA/RADAR BEKASI
DITAHAN POLISI: Pelaku Roni Andrisetiawan (36), saat Polsek Serang Baru Kabupaten Bekasi.

RadarBekasi.id – Entah apa yang ada dalam pikiran Roni Andrisetiawan (36), warga Kampung Ceper RT 03/ RW02, Desa Sukasari, Kecamatan Serang Baru ini tega melempar anaknya yang baru berusia 15 bulan ke tembok hingga meninggal dunia.

Penganiayaan tersebut terjadi diduga karena pelaku terganggu anaknya yang rewel terus karena sakit panas. Roni sudah mencoba mengobati korban dengan memberi obat yang dicampur kelapa hijau melalui dot. Karena emosi, akhirnya pelaku marah dan melempar korban ke tembok hingga kepalanya terbentur.

Roni beralasan, saat itu tidak ada niat membunuh anak tirinya tersebut. Pelaku yang keseharian berjualan nasi ini mengaku, aksinya melempar anaknya sebagai bahan bercandaan. Hanya saja, lemparan yang ke tiga kepala anaknya membentur tembok.

”Tadinya bercanda, enggak terpikirkan sebelumnya kalau sampai kejedud tembok. Saya emang sengaja buat bermain, sambil goreng bebek. Saya melempar dengan mengangkat ketek si bayi, jarak juga dekat, saya nempel di kasur sambil tiduran,” ucapnya.

Ia mengaku, saat itu korban tidak nangis, hanya merengek saja, lalu di tidurin, dan dikasih air kelapa, yang ditaruh didalam dot, kemudian langsung membalik gorengan, kemudian saat kembali lagi, korban ngasih dotnya ke dirinya. ”Saya nyesel banget bang. Ya Allah, saya nyesel banget,” ujar pelaku sambil teriak.

Alasan tersebut dibantah oleh ibu korban, Danis Aprilia (39). Danis mengaku, saat peristiwa tersebut dia sedang mandi. ”Awalnya saya enggak tahu apa-apa kejadiannya, pas saya selesai mandi anak saya nangis, tapi kata dia (pelaku) tidak apa-apa, pas saya pakai baju dan salat, suara anak saya tidak ada,” ucapnya saat ungkap kasus di Polsek Serang Baru. Kamis (29/8).

Menurutnya, pada saat itu pelaku (mantan suaminya) beralasan sakit perut, dan meminta dirinya mengambil uang, karena pelaku ingin dianter periksa kerumah sakit. ”Saya habis nganter nasi, lihat dari kejauhan anak itu posisinya lagi tidur, tiba-tiba pelaku lagi tiduran dibangku teriak perutnya sakit, saya samperin, tapi ngomongnya enggak apa-apa, hanya sakit saja perutnya. Tapi dia mau berobat karena perutnya sakit,” bebernya.

Penuturan serupa juga diperkuat oleh Kapolsek Serang Baru, AKP Wito. Dia mengaku pengungkapan kasus ini berawal dari informasi masyarakat yang diberikan oleh bhabinkamtibmas polsek Serang Baru, bahwa adanya kecurigaan anak yang dibawa ke rumah sakit meninggal, yang sebelumnya sehat.

Dari informasi tersebut, kaya Wito, Polsek Serang Baru langsung melakukan pencarian terhadap informasi rumah sakit, dan ditemukan bahwa benar adanya balita yang berumur 15 bulan ini meninggal dunia, yang kemudian dilakukan identifikasi pemeriksaan terhadap tubuh dari pada korban bersama tim identifikasi Polres Metro Bekasi.

”Hasil pemeriksaan kami simpulkan, bahwa kematian dari balita atau korban ini adalah tidak wajar. Kemudian kami lakukan otopsi untuk mengetahui kematiannya ke RS Polri Kramat Jati. Hasil otopsi menyimpulkan, kematian tersebut karena benturan tumpul di kepala yang menyebabkan pendarahan di seluruh otak sehingga mati lemas,” jelasnya.

Menurutnya, saat itu pelaku sempat tidak akui perbuatannya. Pelaku beralasan kematian anaknya karena sakit, sehingga pihaknya mengumpulkan bukti-bukti, dan melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi tugas untuk memperkuat.

Kemudian, saat dilakukan cek dan olah TKP dengan identifikasi dari Polres Metro Bekasi, disimpulkan bahwa orang yang terakhir kali bersama korban saat hidup dan dalam kondisi lemas yang akhirnya meninggal. Saat itu juga dilakukan penangkapan terhadap pelaku.

”Memang pada saat melakukan penyelidikan, awal pelaku berbelit-belit ingin mengelabui, bahwa bukan dia pelakunya, kemudian dengan kejelian kita, ditemukan bukti dan saksi, akhirnya tersangka sendiri tidak bisa mengelak dan mengakui perbuatannya,” tuturnya.

Ia menegaskan, hasil dari pada penyelidikan, setelah terbentur lemas dan pingsan, korban masih dalam keadaan hidup, lalu dibawa ke klinik terdekat, setelah dibawa ke klinik disampaikan bahwa akan diarahkan ke rumah sakit karena ini kondisinya parah, sehingga dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal dunia.

”Kita jerat dengan kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan meninggal dunia, pasal 76 huruf C juncto 80 Undang-Undang Nomor 17 tahun 2016 atas perubahan undang-undang 23 tahun 2002, tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara,” ungkapnya.

Mengenai kejiwaan pelaku, Wito memastikan, selama pemeriksaan dilakukan, kondisi pelaku baik-baik saja. Ia hanya kesal saat itu anak tirinya rewel, sehingga dilempar.

”Pelaku ini empat kali menikah, pertama cerai, kedua cerai, ketiga cerai, dan ini yang keempat. Pelaku ini pedagang nasi bebek dan kelapa, informasi yang kita dapat agak tempramen termasuk pada istrinya juga. Jadi saat kami lakukan penyelidikan, ada kecemburuan dengan mantannya yang dulu, sasarannya ke istrinya,” bebernya. (pra)

Close