BEKACITIZENOpini

Urgensi Pendidikan Sampah di Bangku Sekolah

Oleh: Ach. Muchlish

Radarbekasi.id – Gerakan go green lahir dari keresahan masyarakat akan berkurangnya lahan hijau di bumi dan membludaknya jumlah sampah di dunia. Menurut Koordinator Kampanye dan Advokasi dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Cut Nurhayati Ruang Terbuka Hijau (RTH) di sebagian kota, terutama kota-kota besar tanah air masih cukup minim (VOA/5/10).

Dalam permasalahan produksi sampah Indonesia tak kalah parahnya, berdasarkan penelitian yang dulakukan oleh Jenna R. Jambeck dari University of Georgia pada tahun 2010 Indonesia menghasilkan 3,22 juta ton sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik, bahkan sekitar 0,48-1,29 juta ton dari sampah plastik tersebut diduga mencemari lautan (CNBC Indonesia/21/7/2019). Ini menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil sampah terbesar kedua setelah Cina.

Salah satu daerah yang telah melaksanakan upaya budidaya sampah adalah kota Surabaya dengan program 3R (reduce, reuse, recycle). Tidak hanya itu, program 3R dinilai telah menjadi landasan upaya pengelolaan sampah secara mandiri oleh masyarakat, dalam rangka mengurangi sampah dan mengambil nilai ekonomis dari sampah (Mongabay/27/2/2014).

Pemerintah sendiri sudah berupaya memberikan solusi terkait pengelolaan sampah, melalui proyek pengadaan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Ada 4 kota yang diproyeksikan selesai pada tahun ini, keempat PLTSa itu berada di Surabaya, Jakarta, Bekasi, dan Solo. Presiden Republik Indonesia menyampaikan dalam rapat terbatas pada 16 Juli 2019 bahwa tujuan utama dari pengadaaan PLTSa ini bukan pada penyediaan listriknya, akan tetapi upaya untuk menyelesaikan permasalahan sampah yang ada di Indonesia yang sudah berada pada titik yang memprihatinkan.

Upaya lain yang dilakukan oleh pemerintah daerah adalah menerapkan undang-undang terkait dengan membuang sampah sembarangan, peraturan ini sudah diterapkan oleh pemerintah daerah DKI Jakarta yang tertuang dalam Perda Nomer 3 tahun 2013 pasal 130 ayat 1 yang berbunyi ”setiap orang dengan sengaja atau terbukti membuang sampah di luar jadwal yang ditentukan, dikenakan uang paksa paling banyak Rp 100 ribu. Upaya pemerintah tidak akan berjalan efektif jika kita sebagai masyarakat tidak berperan aktif dalam mewujudkan program tersebut. Warisan budaya gotong royong yang kita miliki harus kita lestarikan agar menjadi pembelajaran bagi generasi muda masa depan dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan hijau.

Di era digital saat ini media sosial mendominasi setiap sendi kehidupan dalam mencari informasi, atau hanya sekadar berbagi foto selfie, sudah saatnya kita berhenti sejenak memposting berbagai hal yang bersifat pribadi dengan menggantinya dengan video, poster, atau tagar yang berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Hal ini akan berjalan dengan baik jika para publik figur seperti, pejabat publik, bahkan aktor dan artis yang banyak digandrungi oleh kaula muda ikut bergerak dalam mengkampanyekan kepedulian terhadap lingkungan. Lebih afdhol lagi jika media televisi menambah iklan layanan masyarakat tentang pemeliharaan lingkungan hidup.

Bagian dari hukum islam yang mengatur hubungan antara manusia dengan alam yaitu muamalah ma’al bi’ah, dalam surat Al-Baqarah ayat 30 disebutkan bahwa ummat manusia diciptakan untuk menjadi khalifah atau wakil Allah di atas muka bumi untuk mengelola bumi dari terjadinya kerusakan. perbuatan ini jika kita amalkan dengan tujuan untuk beribadah maka insya Allah ketakwaan kita akan bertambah seiring berjalannya waktu.

Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa membuang duri dari jalan merupakan sedekah yang amat besar pahalanya karena menghindarkan orang lain dari celaka. Sebaliknya jika kita membuang sampah sembarangan maka akan mendapatkan dosa karena berpotensi mencelakakan manusia dan makhluk hidup.

Indonesia dengan penduduk muslim terbesar di dunia ternyata belum mampu membawa pengaruh yang signifikan terhadap dampak pencemaran lingkungan, padahal penulis yakin sebagian besar ummat islam yang ada di Indonesia mengetahui bahkan hafal di luar kepala hadits nabi yang berbunyi “kebersihan sebagian dari iman”. walaupun hadits ini sanadnya dhaif karena salah seorang periwayat hadits ini adalah Ibrahim bin Hayyan yang sebagian besar haditsnya palsu dan munkar, akan tetapi maknanya mengandung kebenaran serta membawa kepada mashlahat secara umum.

Guru agama di sekolah dan guru ngaji di masjid hendaknya menyisipkan “agenda” tentang memungut dan membuang sampah pada tempatnya sebagai sarana untuk menambah amal shaleh yang berpotensi sebagai jalan menuju surga, karena telah melaksanakan fungsi diciptakannya manusia sebagai khalifah di muka bumi. pembelajaran sederhana semacam ini jika terus menerus diajarkan kepada anak akan menjadi suatu kebiasaan yang berkelanjutan sampai dewasa.

Salah satu program yang dapat di terapkan di sekolah dalam membiasakan budaya membuang sampah pada tempatnya dan gerakan go green yaitu dengan cara mewajibkan siswa dan guru untuk membawa alat makan dan minum ke sekolah, dan pedagang dianjurkan untuk tidak menggunakan plastik dan styrofoam dalam menjajakkan dagangannya, sehingga produksi sampah bisa berkurang dan tentu bisa mendidik siswa agar lebih meminimalisir penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah. (*)

Guru SMPIT Annur Cikarang Timur

Close