Jurnalisme WargaOpini

Budaya Literasi di Dunia Pendidikan

Oleh : Rosalina

Radarbekasi.id – Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat, pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran dan pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung bagi segenap warga masyarakat (UU NO 20 Tahun 2003, pasal 4).

Jadi mengembangkan budaya literasi (membaca, menulis dan berhitung) sudah ada dalam sistem pendidikan di Indonesia sejak 2003, maka sebagai salah satu pengendali budaya baca dikalangan siswa adalah melalui pengelolaan yang tepat dan konsisten agar menjadi pembangunan budaya yang berkelanjutan serta dalam suasana menyenangkan. Dihadapkan pada kenyataan bahwa penyelenggaraan Pendidikan masih belum optimal dalam menyiapkan ketrampilan abad 21 menjadi siswa yang literat dengan permasalahan-permasalahan disekolah seperti: 1) minimnya tempat untuk melakukan aktifitas baca yang mudah dijangkau dan efisien waktu, 2) rendahnya minat membaca, menulis dan berhitung di kalangan siswa dan guru, 3) kurangnya pendampingan oleh guru dalam upaya membangun budaya baca di sekolah, 4) tidak optimalnya apresiasi dan penilaian guru terhadap siswa dalam meningkatkan kompetensi ketrampilannya untuk membangun budaya baca 5) tidak dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan program kegiatan.
Secara sederhana, literasi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis.

Kita mengenalnya dengan melek aksara atau keberaksaraan. Namun sekarang ini literasi memiliki arti luas, sehingga keberaksaraan bukan lagi bermakna tunggal melainkan mengandung beragam arti (multi literacies). Ada bermacam-macam keberaksaraan atau literasi, misalnya literasi komputer (computer literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi (technology literacy), literasi ekonomi (economy literacy), literasi informasi (information literacy), bahkan ada literasi moral (moral literacy). Literasi tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana peserta didik dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan peserta didik, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya. Dari sisi istilah, kata ”literasi” berasal dari bahasa Latin litteratus (littera), yang setara dengan kata letter dalam bahasa Inggris yang merujuk pada makna ’kemampuan membaca dan menulis’. Adapun literasi dimaknai ’kemampuan membaca dan menulis’ yang kemudian berkembang menjadi ’kemampuan menguasai pengetahuan bidang tertentu’. Dalam Undang-Undang No 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan literasi dimaknai sebagai ”kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidupnya.”

Sangat disayangkan banyak yang terjadi di sekolah, bahwa literasi dianggap hanya untuk mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia saja. Padahal, merujuk pada pemahaman kalimat di atas, bahwa peserta didik harus memiliki kemampuan semua bidang, sesuai dengan bakat dan minatnya. Sehingga tidak hanya bidang tertentu saja yang harus dikuasai.

Contoh pengembangan literasi di sekolah, dalam Pelayanan Bimbingan dan Konseling (BK), dilakukan ”Konseling Digital” yaitu siswa menuliskan data pribadi, permasalahan pribadi serta janji temu untuk melakukan konseling, semua dilakukan melalui Google Form. Selain literasi digital, juga materi tentang kecerdasan, peserta didik secara berkelompok, menuliskan jenis kecerdasan yang sesuai dengan dirinya, dikertas origami yang sudah dibentuk sesuai kretavitas masing-masing.

Dari contoh di atas dapat dipahami, bahwa literasi bisa dilakukan oleh siapa saja, sesuai dengan karakteristik mata pelajaran masing-masing. Guru dan lembaga pendidikan dasar harus memperkuat ke dalam berbagai aspek. Mulai kurikulum, sistem, manajemen, model, strategi, dan pendekatan pembelajaran dengan penguatan keterampilan literasi abad 21. Salah satunya, menguatkan kemampuan literasi pada guru serta lembaga pendidikan dari literasi lama (membaca, menulis, berhitung) dengan literasi.

Budaya Literasi harus ditingkatkan dan dikembangkan di setiap lini kehidupan, termasuk kualitas masyarakat yang baik sangat dibutuhkan untuk dapat bertahan dan turut mengendalikan perkembangan global ke arah yang baik. Masyarakat yang berkualitas tinggi ditunjukkan dengan kemampuan berliterasi sains yang baik meliputi kemampuan berpikir kreatif, menganalisis masalah, mengambil keputusan, bersikap dan menyelesaikan masalah. Namun, untuk membendung dampak negatif perkembangan global tidak cukup dengan kemampuan literasi sains tetapi juga butuh kemampuan literasi islam yang baik. Kemampuan berliterasi islam yang baik sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT meliputi pemahaman nilai-nilai tauhid uluhiyah dan tauhid rububiyah. Keseimbangan dalam pembangunan manusia berdasarkan kedua ranah ini merupakan aspek penting untuk menghasilkan manusia Indonesia yang beradab, berkepribadian dan berkemajuan.

Kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuannya. Sedangkan pengetahuan didapat dari berbagai informasi. Peserta didik yang cerdas literasinya, akan mendapatkan begitu banyak ilmu pengetahuan, wawasan dan pengalaman. Oleh karena itulah budaya literasi, sangat penting untuk dikembangkan dalam dunia Pendidikan. Apabila dalam suatu sekolah sudah membudayakan literasi, maka akan jarang terlihat peserta didik yang hanya duduk diam melamun atau melakukan kegiatan yang kurang bermanfaat.

Sejatinya, setiap lingkungan pendidikan perlu adanya kerjasama antara orang tua dan pihak sekolah serta masyarakat sekitar rumah dan sekolah, untuk menggiatkan literasi sehingga dapat menjadi budaya. Alangkah indahnya, apabila menyaksikan peserta didik menguasai perkembangan dunia dan teknologi serta mengembangkan kretaivitasnya sesuai dengan kemampuan bakat dan minatnya. (*)

Pengurus KGPBR

Lebihkan

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fourteen + three =

Close
Close