BEKACITIZENOpini

Mewaspadai Bahaya Post-Truth bagi Generasi Milenial

Oleh: Dea Selviana Novita Ali

Radarbekasi.id – Seiring dengan kemajuan jaman yang sudah semakin ke depan, begitu juga dengan tingkah laku manusia yang senantiasa mengikuti perkembangan jaman yang selalu berubah-ubah setiap waktu. Layaknya air yang mengikuti alur sungai, ombak yang mengikuti gelombang dan kucing yang dikejar tikus eh tikus yang dikejar kucing.
Itulah manusia penuh misteri dan penuh warna, menggebu-gebu satu hari dan bermalas-malasan berminggu-minggu. Semoga kita tidak termasuk kedalam golongan tersebut aamiin.

Baiklah sudah cukup untuk pengaluran yang tidak teralur, mari kita atur agar tulisan ini menjadi terstruktur. Pada kesempatan kali ini penulis akan membahas mengenai judul yang tertera diatas ”Mewaspadai Bahaya Post-Truth bagi Generasi Milenial”.

Sebelum penulis masuk kepada pembahasan yang lebih dalam, penulis mengadakan survei kepada 10 orang mengenai Post-Truth Era. Orang-orang yang penulis mintai pendapat salah satunya Mahasiswa S2 di suatu universitas, kalangan Mahasiswa S1 dan Masyarakat.

Berdasarkan survei yang penulis lakukan kepada 10 orang, yang mengetahui mengenai Post-Truth era hanyalah 4 orang, dan yang 6 orang sisanya tidak mengetahui apa itu Post-Truth era.

Dari hasil survei 4 orang yang mengetahui, Orang pertama berpendapat bahwa Post-Truth era merupakan Zaman Pasca Kebenaran, dimana kebenaran yang ada pasti tidak akan terhiraukan.

Orang kedua mengatakan bahwa Post-Truth era adalah manusia yang membetulkan opini yang sudah ada, padahal opini tersebut bertolak belakang dengan adanya fakta atau kebenaran yang ada.

Orang ketiga berpendapat bahwa Post-Truth era itu merupakan realisasi baru yang dimunculkan oleh masyarakat, yang di dalamnya bertolak dengan fakta yang ada. Dan orang keempat mengatakan bahwa Post-Truth era merupakan suatu pendapat yang mengutamakan pikiran diri sendiri dan pendapat orang lain yang sama sejalan dengan pikirannya, walaupun semua pendapat itu bertolak belakang dengan kebenaran yang ada.

Hallo pembaca yang budiman, tibalah kita pada bab yang memang membuat penulis tegang dalam penulisan. Ya di bab ini mari kita rincikan dari semua teks yang berada di atas.

Mari kita mengenal apa itu Post-Truth era adalah suatu kejadian yang terjadi karena adanya pemikiran seseorang yang bertolak belakang dengan fakta atau kebenaran yang ada, dengan adanya pemikiran ini mereka menganggap bahwa pemikiran mereka adalah perkara yang benar sedangkan fakta yang ada merupakan salah atau tidak benar.

Kata Post-Truth era dikenal oleh seluruh dunia pada tahun 2016, di Negara Amerika Serikat. Seiring dengan berjalannya waktu istilah itu menjadi booming di setiap negara salah satunya Negara kita tercinta yaitu Indonesia. Post-Truth secara tidak langsung memiliki kesamaan dengan kata hoaks yang memang populer pada negara kita tercinta ini.

Jadi letak keterkaitan Post-Truth dengan tingkah laku atau akhlak itu bagaimana wahai penulis? Apa dengan dampak bahayanya? Lantas apa yang harus kami perbuat?

Mari kita ulik terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan akhlak adalah God Message (pesan Tuhan) apa yang akan Tuhan sampaikan kepada kita yaitu setiap perbuatan baik yang kita lakukan, menurut bahasa akhlak juga berarti dengan karakter yang mengakar kepada setiap individu, atau juga akhlak adalah tingkah spontan yang tidak perlu pemikiran lagi dalam setiap melakukannya.

Baik, keterkaitan Post-Truth era dengan Akhlak yakni sebagaimana dengan istilah Habluminan Nas dimana kita harus bertindak baik kepada sesama manusia, bagaimana kita dapat bertindak baik dengan sesama manusia? Keterkaitannya yaitu, kita dalam menerima informasi hendaknya pandai memilah dan memilih jangan semuanya dipilih dan ditelan serta nantinya anda dapat muntahkan informasi itu sendiri.

Selain itu janganlah kita berbohong kepada diri sendiri dengan memungkiri berita yang jauh dari fakta atau kebenaran yang ada, karena Allah SWT sangatlah membenci itu. Berbicaralah dengan kebenaran karena Allah SWT lebih mencintai itu daripada mengikuti suatu kefasikan walupun banyak orang yang melakukannya. Selain itu wahai pembaca yang budiman, engkau akan bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Segala dosa yang engkau perbuat merupakan segala dosa yang akan engkau tanggung beratnya.

Betulkan begitu berbahayanya post-truth jika masih diteruskan hingga kapanpun, kerena kebohongan yang tersebar akan mendarah daging kepada setiap orang yang mengucapkan. Betapa pentingnya kita untuk berhati-hati dalam berfikir dan menyebarkan segala sesuatu, karena yang akan terkena dampaknya bukan hanya diri kita melainkan orang lain bahkan banyak orang.

Selain berbahaya untuk diri sendiri post-truth ini bisa memecahkan tali persaudaraan antar umat beragama, bernegara dan dunia sekalipun karena saking berbahayanya dari berita yang tidak sesuai dengan fakta atau kebenaran yang ada.

Maka dari itu penulis sangat berharap kepada para pembaca yang sangat budiman hendaknya menerima segala informasi dengan memilih dan memilah karena engkau bertanggung jawab atas dirimu sendiri. (*)

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan

2 Komentar

  1. Benar sekali pda suatu zaman sekarang ini antara apa yg dbicarakan dgn fakta yg ada sungguh berbanding trbalik, ini mnjadi simbol utama bahwa masyarakat umumnya tdk trlalu memperhatikan mngenai realita yg trjadi maka dgn ini munculah brbgai problem yg umumnya hanya kesalah fahaman. Jika kita meninjau perspektif dri berbagai kalangan elit maupun ilmiah mngenai itu apakah mereka pun akan sejalan dgn fakta sdngkn jika kita trjun saja di kalangan elit +68 apa yg trjadi?? Ya begitulah, sperti hal yg lumrah dn bagian dri demokrasi ktanya hehe..

Close