CikarangPublik

Creative Centre Dibangun Dua Tahap

OLAHRAGA: Warga sedang berolahraga di samping pembangunan gedung Creative Centre atau Bekasi Comunity Centre Pemuda (BCCP) di Lapangan Multiguna, Kelurahan Margahayu, Bekasi Timur belum lama ini. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RadarBekasi.id – Pengelolaan sampah dari PT Fajar Putra Dinasti (Pengembang Perumahan Metland Cibitung) dikeluhkan Forum RT RW Desa Telaga Murni dan Badan Pengelola Lingkungan (BPL). Karena, mengeluarkan aroma tidak sedap yang mengganggu proses belajar mengajar siswa siswi SMA Negeri 2 Cikarang Barat di Desa Telaga Murni.

Pantauan Radar Bekasi, Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS) yang disediakan pengembangkan terlihat nampak seperti titik sampah liar. Sebab kondisinya tidak dikelola sehingga sampah sampah yang dibuang masyarakat dibiarkan menumpuk.

Ketua RW 20 Desa Telaga Murni, Herwin, menuturkan, pengembang perumahan tak memiliki lokasi Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS) untuk penghuni perumahan sejak 2014.

Kemudian, lahan yang menjadi lokasi pembuangan sampah juga kerap berpindah lokasi. Terakhir lokasi pembuangan sampah berada di dekat sekolah dan pemukiman warga.

Kata dia, warga perumahan dipersilahkan membuang sampah di lahan itu.  Akan tetapi pihak pengembang tak melakukan pengangkutan sampah dan dibiarkan menumpuk begitu saja.

”Itu tentunya sangat menganggu aroma bau sampahnya, ditambah sampah-sampah dibiarkan gitu saja tidak diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA),” ujarnya kepada Radar Bekasi, Senin (16/9).

Untuk mengatasi masalah tersebut, Herwin menceritakan seluruh ketua RT, RW dan BPL di perumahan melakukan rapat koordonasi dan berkesampatan untuk menyampaikan permintaan pembuatan TPSS serta melakukan pengelolaan sampah dengan baik. ”Dari rapat tersebut sudah ada kesepakatan, namun anehnya hingga saat ini belum ada tindak lanjutnya,” jelasnya.

Menurut dia, permasalahan ketersediaan TPS menjadi kebutuhan mendasar dan kewajiban yang harus dipenuhi pengembang perumahan sebelum dilakukan penjualan unit ke konsumen.

Hal tersebut, sambung dia, sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang No 1 Tahun 2011 ayat 2 poin D dan Peraturan Pemerintah No 14 Tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan Perumahan dan Pemukiman.

”Pengelolaan sampah itu juga jadi tanggung jawab pengembang seharusnya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Badan Pengelolaan Lingkungan Metland Cibitung, Chandra Sulaiman, menilai bahwa TPSS yang ada saat ini tidak ramah lungkungan. Sebab, sampah hanya ditumpuk serta dipendam di dalam tanah tanpa dilakukan pengelolaan dan pengangkutan.

”Kalau kondisi TPS yang disediakan tanpa adanya pengelolaan dan pengangkutan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), pasti akan menggunung serta merusak lingkungan dan sangat mengganggu masyarakat,” jelasnya.

Chandra berpendapat, seharusnya pengembang bekerjasama dengan pihak ketiga untuk proses pengangkutan dan pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). ”Kami sudah kirimkan surat itu ke pengembang. Semoga saja ada perhatian dari pengembang, sebab alam itu wajib untuk dijaga,” tuturnya.

Terpisah, Humas SMA Negeri 2 Cikarang Barat, Nanang, menuturkan, pihaknya sudah beberapa kali melakukan koordinasi dengan pengembang perumahan tersebut. Namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut. ”Ya sebenarnya kami juga berterima kasih dengan pengembang yang telah menyediakan lahan untuk pembangunan sekolah. Namun apabila berdekatan dengan sampah tentunya sangat mengganggu,” ujarnya.

Dia mengatakan, proses belajar mengajar menjadi terganggu pada waktu-waktu tertentu. Seperti sehabis hujan dan ketika sampah-sampah tersebut dibakar. Karena, menurut dia, aroma sampah tercium hingga ke sekolah yang berjarak 100 meter dari titik TPSS.

”Terganggu pasti iya, dan kalau habis hujan itu selain bau yang kurang enak dihirup dengan hidung. Ruang ruang kelas juga dihampiri banyaknya lalat,” katanya.

Sementara itu, Manajer Estate Metland Cibitung, Andre, belum merespon ketika dihubungi Radar Bekasi untuk meminta tanggapan perihal keluhan warga. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan dari pengembang perumahan tersebut.

Pemkab Bakal Tinjau Lokasi

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi melalui Bidang Kebersihan pada Dinas Lingkungan Hidup dan Kecamatan Cikarang Barat akan menindaklanjuti adanya keluhan sampah yang tertumpuk di Perumahan Metland Cibitung, Desa Telaga Murni.

Camat Cikarang Barat, Dodi, menuturkan pihaknya baru saja menerima surat tembusan dari Forum RT RW untuk Perumahan Metland Cibitung. ”Saya sudah menerima surat tembusan, dan hal ini sudah diperintahkan kepala seksi. Jadi skemanya kami turun terlebih dahulu untuk melihat kondisi yang sebenarnya seperti apa,” katanya.

Setelah turun ke lapangan, pihaknya akan mencoba mengajak pihak pengembang dan warga musyawarah terkait persoalan yang ada. ”Kami untuk saat ini belum dapat tindakan apa yang harus dilakukan, yang terpenting harus turun terlebih dahulu,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Bidang Kebersihan pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi, Dody Agus, menuturkan hal senada. Namun, pihaknya belum menerima surat tembusan terkait permasalahan sampah di Desa Telaga Murni. ”Coba kami turun terlebih dahulu ya,” katanya saat dihubungi.

Ia menjelaskan, pengelola perumahan dapat dikenakan pelanggaran jika tidak mengurusi persoalan sampah yang menumpuk sampah hingga merusak lingkungan. ”Seharusnya pengelola perumahan mengajak pihak swasta atau pemerintah dalam pengelolaan sampah. Jadi selain menyediakan TPS juga harus diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Namun ini kan kami belum mengetahui seperti apa konteks permasalahannya,” jelasnya.(and)

Close