BEKACITIZENOpini

Masjid sebagai Alat Pemersatu Umat

Oleh: Suwanto

Radarbekasi.id – Kalau kita tengok sejarah Islam bahwasanya ketika Rasulullah SAW hijrah, sampai di batas Kota Makkah, meminta para sahabat Muhajirin duduk sebentar dengan maksud membangun satu masjid, yaitu Masjid Quba.

Saat itu Rasulullah berada di tengah-tengah kaum Muhajirin yang telah terbina keimanan mereka sewaktu di Makkah yang akan melaksanakan reformasi membangun dan membina tatanan kehidupan masyarakat baru dari dalam suatu umat yang pluralistik: Yahudi, Nasrani, dan tentu umat Rasulullah SAW.

Pembangunan Masjid Quba dilaksanakan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabat Muhajirin dan warga Quba yang telah menjadi pengikut Rasulullah.

Dilihat dari momentum pelaksanaan pembangunan Masjid Quba yang dilakukan pada saat sahabat-sahabat Muhajirin dan Rasulullah SAW baru tiba di lokasi tersebut, mereka diminta beberapa hari oleh Rasulullah SAW untuk membangun Masjid Quba sebelum memasuki Kota Madinah.

Beberapa aspek pelajaran sosial dan pesan moral yang bermuara dari pelaksanaan pembangunan masjid dan keberadaan masjid Quba itu sendiri bagi masyarakatnya, diantaranya yaitu pertama memiliki aspek pendidikan sosial dalam kesatuan yang teratur, kerja sama atas landasan aqidah, dan mendidik umat untuk berlomba-lomba melaksanakan kebaikan-kebaikan (Q.S. Al-Baqarah: 148).

Kedua, mendidik masyarakat memahami peran masjid yang dibangun atas landasan taqwa dalam hubungan manusia dengan Tuhannya serta hubungan manusia dengan sesamanya dan lingkungannya.

Selanjutnya seiring kemajuan zaman masjid juga mengalami perkembangan, termasuk berkaitan dengan fungsinya. Namun, dewasa ini seringkali masjid dimanfaatkan oleh oknum politik. Padahal Masjid haruslah depolitized dan desecterianized.

Masjid harus terbebas dari kepentingan kelompok politik. Karena hal ini akan menyeret kesucian tempat ibadah sebagai alat politik. Masjid sudah semustinya netral dan bebas dari kegiatan politik.

Sebagaimana yang dipesankan oleh Menteri Agama RI bahwa masjid ialah tempat ibadah dan juga tempat bertausiyah soal kebenaran (al-Haq) dan kesabaran (al-Sobr). Tausiyah ini sangat penting dalam kehidupan sehari-hari berbangsa dan bernegara.

Masalah kebangsaan yang begitu kompleks dan dalam banyak hal berdampak secara sistemik, seperti korupsi dan ketidakadilan, haruslah menjadi bagian penting dari tausiyah ini. Demikian juga soal dehumanisasi dan bentuk kejahatan lainnya termasuk kejahatan kepada alam haruslah menjadi perhatian dalam rangkaian tausiyah ini.

Spirit beramar ma’ruf nahi munkar dengan cara cara atau pendekatan yang berkeadilan dan rasional adalah merupakan kewajiban agama sekaligus bangsa. Jadi, tausiyah ini di samping ditempatkan dalam kerangka keagamaan, juga kerangka kebangsaan.

Itulah makna ungkapan Hubbul Waton Minal Iman yang seharusnya menjadi perhatian dalam memandang tempat ibadah. Artinya, tempat ibadah adalah tempat yang sangat tepat menyemai dan memperkokoh spirit integratif dan nasionalisme.

Kemudian masjid haruslah menjadi pusat penyemaian gagasan Islam rahmatan lil alamin atau Islam rahmat bagi seluruh alam. Tentu saja ini ada kaitannya dengan fakta radikalisme berbasis kepada masjid. Melalui mimbar masjid dan pengajian atau halaqoh gagasan atau doktrin seperti takfiri dan jihady qitaly serta anti Pancasila disemai. Artinya sudah saatnya masjid dimanfaatkan bukan untuk memecah belah umat, akan tetapi menebar pesan damai dan kebangsaan.

Sudah saatnya masjid ditempatkan sebagai pusat membangun kebersamaan (Jamaah) atau Ukhuwah, bukan tempat untuk ajang perebutan pengaruh politik dan kelompok fanatik eksklusif.

Polarisasi tidak bisa dibiarkan dan masjid haruslah menjadi tempat yang baik untuk memperkokoh persatuan atau ukhuwah dengan kerangka Islam rahmatan lil alamin dan kebangsaan. (*)

Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga.

Close