Berita UtamaKomoditas

Pedagang Kecil Keberatan

Minyak Goreng Curah Dilarang Tahun Depan

RadarBekasi.id – Warga Kota Bekasi, menolak rencana pemerintah yang akan menghapus peredaran minyak goreng curah di pasaran mulai Januari 2020 mendatang. Warga menilai, minyak goreng curah masih dibutuhkan untuk masyarakat menengah kebawah.

Salah seorang pedagang minyak goreng curah di Pasar Baru Bekasi, Asep (32) mengakui, wacana tersebut sempat bergulir pada tahun 2014 lalu. ”Intinya saya gak setuju kalau harus dilarang,” katanya.

Menurutnya, selama ini permintaan untuk minyak goreng curah lebih tinggi dibandingkan minyak goreng kemasan. Dalam sepekan, toko di Pasar Baru Bekasi ini bisa menghabiskan 30 ton. Sementara harga jual per kilo nya Rp8.500, lebih murah Rp2 ribu hingga Rp3 ribu dibandingkan dengan minyak goreng kemasan beberapa merk ditokonya.

Artinya dalam satu minggu omset pendapatan toko tersebut hingga Rp255 juta. Omset penjualan ratusan juta tersebut terancam hilang jika kebijakan wajib kemas minyak goreng diberlakukan Januari mendatang. ”Pedagang-pedagang kecil (mayoritas pembeli), kaya gado-gado, gorengan, karena selisihnya lumayan,” lanjut Asep.

Minyak goreng curah tersebut terlihat disimpan dalam tangki besar, kemudian dijual dengan kemasan jeriken berukuran 16 kilo.

Nampak salah satu pembeli datang mengendarai motor, keranjang dibagian belakang berisi empat jeriken untuk membeli minyak goreng curah tersebut. Saat dijumpai, singkat ia menjawab tidak setuju dengan kebijakan menteri perdagangan tersebut. ”Tidak setuju,” ungkap pria yang mengaku bernama Niko tersebut.

Terpisah, salah satu ibu rumah tangga di Bekasi mengatakan, kebijakan tersebut tepat dilakukan di lingkungan perkotaan, sementara untuk diwilayah perkampungan atau masyarakat menengah kebawah belum sepenuhnya tepat. ”Kalau udah kota setuju-setuju aja, kalau di daerah yang masyarakat nya masih menengah kebawah kurang,” kata Sri Mulyani (44).

Jika dihitung selama ini untuk kebutuhan rumah tangga, biaya yang dikeluarkan untuk membeli minyak goreng kemasan dengan minyak goreng curah tidak terlalu jauh berbeda. Terlebih katanya, minyak goreng curah saat ini sudah tersedia dalam kemasan hingga 1/4 liter.

Ia menambahkan bahwa minyak goreng curah tersebut dinilai kurang aman baik dari sisi kemasan maupun pengemasan nya. Untuk minyak goreng curah memang dijual dalam satuan massa atau kilogram, sementara untuk minyak goreng kemasan dijual dalam satuan volume atau liter.

Kabid Pegendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi, Dezy Syukrawati mengatakan, sampai dengan saat ini isi maupun kandungan minyak goreng curah yang dapat mengganggu kesehatan belum terinformasikan.

Sementara terkait dengan penyakit yang familiar kaitannya dengan minyak goreng yakni kolesterol, ia menjelaskan bahwa gangguan kesehatan tersebut tidak disebabkan oleh kandungan minyak goreng, melainkan daya serap tubuh terhadap zat yang dimakan, atau jumlah sesuatu yang dimakan tidak benar dalam hal jumlah.

”Kalau kolesterol itu sebenernya penyerapan tubuh kita terhadap zat-zat yang kita makan, jika penyerapan kita tidak benar sehingga kolesterol. Atau yang kita makan tidak benar dalam hal jumlah, maka bisa terjadi peningkatan jumlah kolesterol di dalam tubuh,” terang Dezy.

Dari aspek kesehatan, makanan yang digoreng memang tidak dianjurkan. Bukan melainkan dilarang, namun lebih baik dibatasi dengan alasan kemungkinan resiko kesehatan yang akan datang jika terlalu banyak makan gorengan.

Sekedar diketahui, Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan, per 1 Januari 2020 minyak goreng curah tidak lagi boleh beredar di pasaran karena dianggap tidak sehat dan higienis. Sebagai gantinya, minyak goreng kemasan akan dipasarkan secara masif.

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita pun menjelaskan alasan pemerintah melarang peredaran minyak goreng curah. Pertama tidak memiliki jaminan kesehatan.

Pengemasan minyak curah juga tidak terjamin. Bisa saja bahan minyak goreng merupakan campuran dari bahan minyak yang berbahaya, seperti minyak goreng bekas.

”Minyak goreng curah tidak ada jaminan kesehatan sama sekali. Dia cukup banyak dicampur atau bahkan minyak goreng bekas itu dijual atau hanya diolah diputar saja beberapa kali dan itu menjadi industri yang menurut kami dari sisi kesehatan itu berbahaya bagi masyarakat. Bekas, bahkan ambil dari selokan sebagainya,” kata Enggar.

Enggar juga menyebut tidak jarang harga minyak curah dijual lebih mahal dari minyak kemasan. Untuk itu, Menteri Perdagangan menetapkan seluruh penjualan minyak goreng wajib dalam bentuk kemasan.

Enggar menghimbau kepada seluruh pabrik untuk tidak lagi men-supply minyak goreng dalam bentuk curah. Dengan cara itu, diharapkan tidak ada lagi masyarakat yang mengonsumsi minyak goreng dalam kemasan curah.

”Kalau pabrik-pabrik ini tidak mensuplai lagi, maka semua tahu bahwa minyak goreng yang dijual dalam curah itu adalah minyak yang tidak sehat, minyak bekas, minyak yang tidak ada jaminan halalnya,” tutup Enggar.(Sur)

Tinggalkan Balasan

Close