Berita Utama

Awas Diintip

Waspadai Komunitas Crosshijaber

RadarBekasi.id – Perilaku tidak lazim dari komunitas Crosshijaber dewasa ini mencuri perhatian publik, masyarakat ramai membicarakan keberadaannya di media sosial. Psikolog hingga organisasi keagamaan memberikan tanggapan fenomena menghebohkan ini.

Komunitas yang menghebohkan dunia maya ini merupakan kumpulan pria yang senang berpakaian layaknya wanita, komunitas ini berpakaian wanita syar’i, lengkap dengan cadar.

Dari aspek psikologi, dua hal diduga melatarbelakangi seorang pria berpenampilan layaknya wanita, atau sebaliknya. Yakni memiliki kebiasaan tidak lazim namun melekat atau transvestic Fethishisme, yang kedua memiliki motif tersendiri.

Dosen Psikologi Universitas Bhayangkara Bekasi, Mira Sekar Arumi menjelaskan, berdasarkan fakta-fakta yang terjadi dewasa ini di media sosial memiliki dua latar belakang. Pertama niat murni untuk memakai hijab saja tanpa motif lain, dan disertai motif yang cenderung menuju ke arah negatif.

“Sebenarnya dari sudut pandang psikologis, pria yang suka pakai pakaian perempuan tapi bukan transgender masih tergolong Fetish. Namanya transvestic Fethishisme,” terangnya kepada Radar Bekasi, Selasa (15/10).

Meskipun erat dengan sisi seksual, namun belum termasuk kedalam golongan kelainan seksual. Biasanya dipicu oleh trauma yang diderita, termasuk akibat pernah kehilangan orang yang dicintai. Fetish sendiri memiliki beberapa tingkatan yakni pemuja, pecandu, menengah, dan tinggi.

Untuk fetish ini cenderung tidak merugikan orang lain, dan masih bisa hidup normal. Namun, jika melihat fenomena lainnya yang menjadi masalah adalah jika disertai dengan motif tertentu, yakni untuk dapat masuk ke tempat-tempat khusus perempuan.

Yang kedua ini, bisa dikatakan sebagai kelainan seksual karena merugikan pihak lain dan sudah menjalani aktivitas seksual yang tidak biasa. ”Bisa jadi masuk kelainan Voyeurisme, yang ngintip untuk kepuasan seksual. Jadi mereka ga suka pakai baju cewe, hijab cuma buat alat supaya mereka bisa ngintip dengan leluasa,” lanjut Mira.

Sementara itu, ketua Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kota Bekasi, H Sukandar Ghazali menegaskan, kegemaran menggunakan pakaian wanita tersebut tidak dibenarkan oleh agama, sekalipun sebaliknya wanita yang mencoba untuk menyerupai laki-laki.

Lebih keras lagi, Sukandar menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk penipuan, terlebih ditakutkan tersimpan motif negatif dengan memanfaatkan penampilannya yang menyerupai perempuan.

”Itu sudah tidak benar, sudah menyalahi kodratnya, apalagi saya khawatir, dengan ditutup wajahnya dengan cadar, ada hal-hal tertentu itu dengan niat yang tidak elok, tidak baik,” katanya.

Senada, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Kota Bekasi, KH Madinah juga secara tegas bagi masyarakat yang mempelajari islam secara menyeluruh tampilan tersebut tidak sama sekali dibenarkan dan sesuai dengan kodratnya sebagai seorang laki-laki.

”Secara agama itu dilarang ya, atau dia ada modus lain kita nggak tahu. Tapi kalau soal agama itu dilarang keras,” tegas ketua PC NU Kita Bekasi tersebut.

Sekadar diketahui, Ranah media sosial digemparkan mengenai komunitas Crosshijaber. Crosshijaber adalah pria yang berpenampilan menggunakan hijab, bahkan bergaya ala hijab syar’i lengkap dengan cadar.

Sejumlah warga Kota Bekasi mengaku khawatir soal batasan-batasan penggunaan ruang umum khusus wanita, seperti toilet atau tempat wudu. ”Jadi ngeri sih kalau ke toilet. Karena bisa jadi mereka ada. Takutnya mereka penjahat kelamin, yang merekam aktivitas kita di toilet,” kata salah seorang mahasiswi Unisma Bekasi, Retno.

Namun, mahasiswi semester VI ini mengaku bakal tutup mata ketika Crosshijaber ini tidak memanfaatkan hijab tersebut untuk kejahatan. ”Kalau untuk yang itu urusan dia sama Tuhan,” tegasnya.

Warga lainnya, Indri Yuniastika mengaku menolak adanya komunitas tersebut. Dia menilai, fenomena Crosshijaber ini mencoreng hijab. ”Hijab itu kan pakaian takwa, identitas. Jadi tidak boleh kalau dipakai oleh laki-laki. Setiap manusia harus sesuai fitrahnya dia,” tutur karyawan swasta.

Dia juga khawatir, hijab akan dijadikan alat untuk melakukan kejahatan. ”Saya pernah mengalami sendiri soalnya. Dipepet ibu-ibu pakai hijab besar di kereta. Ternyata mau ambil barang saya,” kenangnya.(sur)

Close