Berita UtamaMetropolis

Operasional PLTSa Dikejar Deadline

RadarBekasi.id – Pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di empat kota prioritas tinggal menyisakan lebih dari dua bulan sebelum batas akhir.

Kota Bekasi masuk dalam daftar daerah prioritas diantara Surabaya, Solo, dan Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta.

Sebelumnya, Kota Bekasi telah menggandeng investor untuk mengerjakan PLTSa di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumurbatu, Kelurahan Sumurbatu, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi.

Dalam perjalanannya, setelah melalui beberapa kali uji coba ternyata gagal mengolah sampah menjadi energi listrik.

Pemkot Bekasi saat ini tengah mencari alternatif investor lain untuk membangun PLTSa. Bulan lalu, Pemkot telah menandatangani kerja sama dengan tiga investor.

Namun, diketahui penandatanganan tersebut baru sebatas untuk penyusunan Feasibility Study (FS) atau studi kelayakan, setelah itu baru akan dilakukan penilaian oleh tim teknis.

Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi mengakui kegagalan PT Nusa Wijaya Abadi (NWA) untuk mengolah sampah menjadi energi listrik. Kegagalan itu disebutkan tidak memenuhi standar teknologi.

”Kita sudah mengarah kesana, cuma kita gagal yang NWA itu, karena tidak memenuhi standar teknologinya,” jelasnya.

Wali Kota yang akrab disapa Pepen ini menegaskan bahwa Kota Bekasi bersama tiga daerah lainnya ditarget Desember ini sudah selesai perihal PLTSa tersebut.

 Disamping itu, kesulitan yang dihadapi menurutnya, terletak pada persoalan aturan. ”Nah sekarang pemerintah, presiden mendorong itu segera. Kita (Bekasi), Surabaya, sama Solo itu Desember sudah selesai. Tapi, banyak aturannya yang rigid,” tambahnya.

Dalam Peraturan Presiden (Perpres) nomor 35 tahun 2018, sebanyak 13 daerah masuk dalam daftar percepatan pembangunan PLTSa. Dalam pembangunan instalasi pengolahan listrik berbasis teknologi ramah lingkungan tersebut. Belasan instansi tergabung dalam tim koordinasi untuk mendukung percepatan pembangunan PLTSa.

Listrik yang dihasilkan nantinya akan dibeli oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN). Untuk listrik yang dihasilkan sampai dengan 20MW, akan dibeli dengan harga USD 13.35 cent per KWH. Sementara untuk kapasitas listrik lebih dari 20MW, dibeli dengan harga USD 14.54 cent per KWH.

Pemkot Bekasi membandingkan dengan pengelolaan sampah di Tiongkok usai kunjungannya beberapa waktu lalu. Sistem dan pengelolaan serta teknologi dinilai lebih baik.

”Karena yang saya tahu, sampah itu di pemusnahannya (PLTSa Sumur Batu) sampai 1.000 derajat celcius. 1.000 derajat kalau kita dekat kan pasti (panas), tapi karena sistemnya ini (Tiongkok bagus), ya kita buka gak panas,” ungkap Rahmat seraya menceritakan hasil kunjungannya ke negeri tirai bambu beberapa waktu lalu.

Terpisah, Direktur Eksekutif Kawali, Puput TD Putra mengatakan, jika Kota Bekasi ingin mengadopsi pengolahan sampah seperti yang dilakukan oleh Tiongkok, harus memulai dari kajian lima aspek.

Diantaranya, aspek hukum, aspek kelembagaan, aspek sosial budaya, aspek pendanaan, baru aspek teknologi.

Tanpa kajian lima aspek tersebut, dinilai akan gagal seperti yang sebelumnya diterapkan di PLTSa Sumur Batu. Walaupun, dari segi jenis, sampah di Tiongkok dengan sampah di Indonesia memiliki kemiripan, banyak sampah basah dengan nilai kalori rendah.

Disana kata dia, sudah dilakukan pengelolaan sampah menggunakan waste incineration plant dengan pre-treatment yang cocok, berbeda dengan di Indonesia.

”Tahap awal bikin tim penasehat teknis untuk persiapan tender terbuka, seperti yang sudah dilakukan di Kota Tangerang. Buat kajian lima aspeknya dulu, nanti akan ketahuan kebutuhannya (jika ingin mengadopsi model pengolahan sampah di Tiongkok),” terang Puput TD Putra kepada Radar Bekasi.

Lanjut Puput, Kota Tangerang, saat ini sudah berjalan proses tender terbuka, dari 22 kontestan, terpilih mengerucut hingga menjadi empat kontestan yang masih bersaing untuk memenangkan tender dan mengerjakan proyek pengelolaan sampah menjadi energi listrik tersebut. (sur)

Close