Bisnis

Kafe BCA: Outlook Ekonomi 2020, Optimistis Tetap Bertumbuh


BERBINCANG: Ekonom BCA David Sumual (tiga dari kiri), Sekretaris Perusahaan BCA Raymon Yonarto (kanan), Direktur Riset CORE Indonesia Pieter Abdullah (dua dari kiri), Kepala Kajian Makro LPEM UI Febrio Nathan Kacaribu (dua dari kanan), dan moderator Bayu Sutiyono (kiri), berbincang usai forum talkshow Kafe BCA bertajuk ”Economy Outlook 2020″ di Breakout Area Menara BCA, Jakarta pada Jumat (18/10).

JAKARTA – Ekonomi Indonesia dinilai masih bisa tumbuh stabil pada 2020 di tengah tantangan ekonomi global. Daya tahan ekonomi, yang ditopang oleh konsumsi masyarakat, serta efek kebijakan makro seperti penurunan suku bunga dan reformasi struktural yang mendorong investasi bisa menopang pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi digital yang diperkirakan akan naik pesat hingga US$100 miliar pada 2025 turut berpengaruh pada prospek ekonomi Indonesia ke depan. Prediksi tersebut disampaikan oleh para pakar ekonomi dalam forum talkshow Kafe BCA bertajuk ”Economy Outlook 2020″.

Forum Kafe BCA dibuka oleh Corporate Secretary BCA Raymon Yonarto menghadirkan pembicara Ekonom BCA David Sumual, Direktur Riset CORE Indonesia Pieter Abdullah, serta Kepala Kajian Makro LPEM UI Febrio Nathan Kacaribu di Breakout Area Menara BCA, Jakarta pada Jumat (18/10). David memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2020 bisa mencapai 5,0–5,2 persen, dengan risiko eksternal yang masih terjaga di mana neraca transaksi berjalan berada di level 2,0 – 2,5 persen dari PDB.

”Asumsi ini didukung oleh kebijakan moneter dan fiskal yang cenderung pro-growth, terlebih dengan backdrop suku bunga global yang semakin menurun, meskipun risiko makro dari pembalikan arus modal masih perlu diwaspadai,” ujar David.

Selain asumsi makro tersebut, David menjabarkan beberapa katalis yang bisa mendorong ekonomi tahun depan. Antara lain kelanjutan proyek infrastruktur dan rencana pemindahan ibukota yang akan mendorong kinerja sektor konstruksi dan properti.

David juga menekankan pentingnya reformasi struktural untuk meningkatkan daya saing nasional dan menarik investasi di tengah disrupsi rantai produksi global. Sementara itu, penetrasi teknologi dan ponsel pintar telah memunculkan kekuatan baru ekonomi dalam negeri yang bertumpu pada digitalisasi.

Riset yang dirilis Google, Temasek, dan Bain menyatakan bahwa Indonesia berkontribusi US$40 miliar atau Rp567,49 triliun dari total nilai ekonomi digital di Asia Tenggara yang diproyeksikan menembus US$100 miliar pada 2019.

Nilai ekonomi berasal dari lima sektor ekonomi berbasis internet yaitu e-commerce, media daring, ride-hailing, wisata atau travel, dan layanan finansial. Pada 2025, ekonomi digital Indonesia bakal bertumbuh US$133 miliar.

Transformasi digital yang telah dilakukan BCA seperti internet banking BCA, mobile banking BCA, Flazz BCA, e-wallet Sakuku, hingga solusi perbankan terkini, melalui fitur antara lain VIRA BCA, Webchat BCA, OneKlik BCA, QRku, BCA Keyboard, Buka Rekening Online, dan terakhir WELMA merupakan kiat untuk memberikan preferensi layanan digital yang lebih nyaman dan aman kepada nasabah, khususnya milenial untuk memenuhi berbagai kebutuhan.

Sementara, Pieter mengatakan, realistis atau tidaknya target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3 persen pada 2020 tergantung dari upaya yang dilakukan oleh pemerintah. Salah satunya dalam pengambilan suatu kebijakan yang tepat. (oke)

Close