BEKACITIZENOpini

Menumbuhkan Literasi Bangsa Melalui Perpustakaan Keluarga (1)

Oleh : Supadilah

Radarbekasi.id – Menumbuhkan budaya literasi keluarga dapat dilakukan melalui penguatan fungsi perpustakaan keluarga. Kelebihan perpustakaan keluarga adalah koleksinya bisa kita atur sesuai keinginan kita, waktu kunjung lebih fleksibel, dan kita bisa mengakses kapan saja. Perpustakaan keluarga merupakan jantungnya pengetahuan keluarga. Keluarga yang menganggap penting keberadaan perpustakaan keluarga berpeluang besar menjadi keluarga yang berpengetahuan, maju, unggul dan berkualitas.

Saat ini kita dihadapkan pada masalah rendahnya minat baca. Data survei Perpustakaan Nasional 2017 rata-rata durasi orang indonesia membaca buku 30-59 menit per hari, frekuensi membaca buku tiga hingga empat kali per minggu dan buku yang kita makan hanya lima hingga 9 buku per tahun. We Are Social menyebutkan 130 juta pengguna internet adalah pengguna aktif media sosial. Durasi orang Indonesia mengakses internet 8 jam 51 menit, sementara berkecimpung di sosial media dengan berbagai perangkat hingga 3 jam 23 menit.

Salah satu solusi menumbuhkan budaya literasi bangsa adalah melalui perpustakaan keluarga. Rumah merupakan lingkungan terdekat dengan anak baik secara fisik maupun psikis keberadaan mereka di rumah terhitung dalam waktu yang lebih panjang jika dibandingkan dengan waktu mereka berada di sekolah atau di tempat lain. Ringkasnya, rumah merupakan tempat yang paling memberikan pengaruh bagi mereka.

Budaya membaca bukan diajarkan, melainkan ditularkan. Orangtua lebih dulu memberikan keteladanan. Rutinkan membaca buku dalam dua hari sekali atau sehari sekali. Lakukan itu di tempat mudah terlihat seperti di ruang tamu, ruang keluarga, di kamar, atau perpustakaan keluarga. Jika anak sering melihat orang tuanya membaca buku, secara perlahan akan terbentuk meniru dan terbentuk paradigma anak bahwa membaca itu penting.

Anak-anak belajar secara spontanitas. Karena itu jangan melarang jika anak membaca dengan berbagai cara dan posisi. Baik itu duduk rapi, tiduran, atau sambil berbaring. Namun, kita juga tidak membiarkan mereka membaca dalam posisi yang salah. Pengertian itu kita berikan secara perlahan, bertahap, menunggu hingga anak merasa nyaman. Buat anak senang berinteraksi dengan buku. Apapun interaksinya, baik untuk mainan, dipegang-pegang, atau dibuat berantakan. Tidak mengapa buku berserakan, kurang rapi, atau tergeletak di mana-mana. Lebih baik berantakan karena sering dipakai daripada tersimpan rapi karena tidak disentuh atau digunakan. Bahkan risikonya buku bisa rusak atau sobek. Namun, untuk sebuah misi mulia, tentu ada harga yang harus kita bayar. Seperti yang dilakukan oleh H. Agus Salim yang sengaja meletakkan buku dan koran di sudut-sudut rumahnya agar memiliki kesempatan untuk membacanya.

Keluarga perlu menyisihkan anggaran untuk menambah koleksi buku. Minimal sebulan sekali membeli buku. Usahakan pengeluaran keluarga untuk membeli buku tidak kalah jauh dari pengeluaran untuk komunikasi atau internet. Membeli buku merupakan investasi yang sangat berguna untuk hidup. Orangtua bisa mengajak anak untuk menabung atau menyisihkan uang jajan untuk membeli buku. Ini sekaligus mengajak anak untuk latihan hidup hemat. Lengkapi koleksi perpustakaan keluarga dengan buku yang disukai anak misalnya kartu huruf, komik, buku bergambar, kisah-kisah, ensiklopedia, novel, dan sebagainya. Dalam penataannya, tempatkan buku-buku anak di tempat yang paling mudah terjangkau. Misalnya di bagian bawah rak buku, agar mereka dapat mengambil dengan mudah. (*)

Guru di SMAT Al-Qudwah

Close