BEKACITIZENOpini

Pendidikan Berkarakter untuk Bekasi Baru Bekasi Bersih

Oleh: M. Shalahuddin, S.Si, M.Pd

Radarbekasi.id – Pendidikan pada hakekatnya memiliki dua tujuan, yaitu menjadikan manusia/generasi yang akan datang menjadi cerdas (smart) dan pintar. Menjadikan mereka menjadi manusia yang berakhlakul karimah. Menjadikan manusia cerdas dan pintar, boleh jadi mudah melakukannya, tetapi menjadikan manusia agar menjadi orang yang berakhlakul karimah, tampaknya jauh lebih sulit atau bahkan sangat sulit.

Penyelenggaraan pendidikan karakter akhir-akhir ini menjadi rujukan utama untuk menjadikan generasi yang akan datang menjadi cerdas, pintar, baik, sopan, santun, bijak dan berakhalakul karimah.

Karakter merupakan ciri khas individu yang ditunjukkan melalui cara bersikap, berperilaku, dan bertindak untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Anak memiliki karakter baik akan menjadi orang dewasa yang mampu membuat keputusan dengan baik dan tepat serta siap mempertanggung jawabkan setiap keputusan diambil.
Menurunnya kualitas moral dalam kehidupan manusia Indonesia dewasa ini, terutama di kalangan siswa, menuntut diselenggarakannya pendidikan karakter. Sekolah dituntut untuk memainkan peran dan tanggungjawabnya untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai yang baik dan membantu para siswa membentuk dan membangun karakter mereka dengan nilai-nilai yang baik.

Pendidikan karakter diarahkan untuk memberikan tekanan pada nilai-nilai tertentu dan khusus yang akan membiasakan mereka bersikap seperti rasa hormat, tanggung jawab, jujur, peduli, dan adil serta membantu siswa untuk memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Ada lima pendidikan karakter yang perlu ditanamkan pada anak di lingkungan sekolah.

Pertama, karakter religius. Menanamkan karakter religius agar beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, adalah langkah awal menumbuhkan sifat, sikap, dan perilaku keberagamaan pada masa perkembangan berikutnya. Masa kanak-kanak adalah masa terbaik menanamkan nilai-nilai religius.

Upaya penanaman nilai religius ini harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan. Harus diingat, kesadaran beragama anak masih berada pada tahap meniru. Untuk itu, pengkondisian lingkungan sekolah yang mendukung proses penanaman nilai religius harus dirancang semenarik mungkin.

Pada tahapan ini, peran guru menjadi sangat penting sebagai teladan memberi contoh baik bagi para siswa. Peran guru bukan hanya sekadar menjadi pengingat akan tetapi juga sebagai contoh bersama melaksanakan kegiatan bersifat religius kepada para siswa seperti membiasakan salat berjamaah, saum sunnah, membaca Alquran, menghormati orang tua dan guru serta cinta kasih sesama teman.

Dua, cinta kebersihan dan lingkungan. Penanaman rasa cinta kebersihan ditunjukkan pada dua hal, yaitu menjaga kebersihan diri sendiri dan kebersihan lingkungan. Kebersihan terhadap diri sendiri dimaksud agar membentuk pribadi sehat dan jiwa kuat. Fil Jismi As-Salim Al-‘Aqlu Salim (dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat).

Apabila anak dalam kondisi sehat dan jiwa yang kuat maka anak dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik, serius dan sungguh-sungguh, seperti tidak merokok, tidak begadang, tidak minum minuman keras, anti narkoba dan tidak berbuat asusila. Sedangkan, penanaman rasa cinta kebersihan terhadap lingkungan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan sekolah mulai dari jalan, halaman, hingga kelas terbebas dari debu dan sampah.

Pembuatan jadwal piket di tiap kelas, agenda bersih-bersih bersama seminggu sekali, ataupun lomba kebersihan lingkungan sekolah serta bersih-bersih di lingkungan rumah sebagai upaya menanamkan rasa cinta kebersihan terhadap lingkungan.

Ketiga, sikap jujur. Sikap jujur memberikan dampak positif terhadap berbagai sisi kehidupan, baik di masa sekarang ataupun akan datang.

Kejujuran merupakan investasi sangat berharga dan modal dasar bagi terciptanya komunikasi efektif dan hubungan yang sehat.

Pada masa sekolah inilah merupakan saat ideal guru menanamkan nilai kejujuran pada siswa, seperti tidak mencontek, tidak mencuri dan tidak menipu.

Keempat sikap peduli. Peduli merupakan sikap dan tindakan selalu ingin memberi bantuan kepada orang lain khususnya yang membutuhkan.

Kepedulian anak dapat ditanamkan di sekolah melalui berbagai cara. Misal saat ada teman yang lupa membawa alat tulis dengan meminjamkanya ataupun teman kelas sakit maka bisa menjenguknya.

Dengan adanya sikap peduli yang melekat dalam diri anak sejak dini maka akan disenangi oleh banyak teman. Dan saat si anak tiba-tiba sedang dalam keadaan sulit pasti akan ada yang mau mengulurkan tangan dan segera membantunya.

Kelima, rasa cinta tanah air. Cinta tanah air atau nasionalis adalah cara berpikir, bertindak, dan berwawasan menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Karakter nasionalis dapat ditanamkan melalui beberapa hal, diantaranya melalui upacara bendera setiap Senin ataupun peringatan hari nasional.

Dalam sambutannya Bapak H. Eka Supria Atmaja selaku Bupati Bekasi di acara Pencanangan Pendidikan Karakter Tingkat Kabupaten Bekasi di Gedung Wibawa Mukti pada hari Rabu 23 Oktober 2019 dengan tema ”Pendidikan Unggul Untuk Bekasi Baru Bekasi Bersih” dihadapan para undangan yang hadir mengunakan pakaian adat nasional menyampaikan; bahwa seluruh sekolah mulai dari TK sampai SMA harus siap melaksanakan pendidikan karakter di sekolahnya masing-masing agar tercipta generasi unggul yang cerdas, pintar dan berakhlakul karimah untuk Bekasi Baru Bekasi Bersih.

Nah demikianlah begitu pentingnya pendidikan karakter, untuk itu bagi para guru, dan orang tua hendaknya senantiasa menanamkan pendidikan karakter pada anak didiknya. (*)

Kepala Sekolah SDIT Nurul Fajri Cikarang Barat

Close