Pendidikan

Hasilkan Paving Block dari Limbah Plastik

Paving-Block
TUNJUKAN KARYA: Siswa kelas 11 IPS SMAN 2 Kota Bekasi Naila Asriya (kanan), didampingi Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum SMAN 2 Kota Bekasi Rini Resmiyati, menunjukan paving block dari limbah plastik. Dewi Wardah Radar Bekasi

Radarbekasi.id – Siswa SMAN 2 Kota Bekasi telah mampu menghasilkan paving block dari limbah plastik melalui program lintas minat dengan sistem pembelajaran berbasis Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM).

Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum SMAN 2 Kota Bekasi Rini Resmiyati menjelaskan, program ini hanya diterapkan bagi kelas 11 jurusan IPS.

”Lintas minat berbasis STEM ini diterapkan karena saya ingin siswa jurusan IPS juga bisa menyukai mata pelajaran Kimia, kemudian saya mencari ide dan terbentuklah sistem pembelajaran yang menghasilkan sebuah produk,” ujar Rini kepada Radar Bekasi, Jumat (8/11).

Menurutnya, paving block yang dibuat oleh siswa berbahan dasar limbah sampah plastik yang tidak dapat didaur ulang seperti botol maupun gelas air mineral, dan plastik.

Dalam prosesnya, sampah plastik yang akan diolah dilelehkan dengan wajan panas. Kemudian, bahan dasar yang telah mencair itu dimasukan ke cetakan.

”Untuk tempat mencetaknya siswa juga membuatnya sendiri,” ucapnya.

Siswa bisa menghasilkan 1 buah paving block dari sampah plastik sebanyak 1 trash bag berukuran besar. Saat ini sudah 4 buah paving block yang dihasilkan.

Menurut Rini, program yang baru diterapkan pada tahun ajaran 2019/2020 ini menuntut siswa untuk berfikir kreatif. Ia berharap, program ini dapat mengurangi sampah plastik di lingkungan SMAN 2 Kota Bekasi.

”Ini salah satu langkah kita untuk mempersiapkan sekolah Adiwiyata Mandiri dan semoga program ini bisa dijalankan dengan baik,” tukasnya.

Siswa kelas 11 IPS SMAN 2 Kota Bekasi Naila Asriya mengatakan, dalam sistem pembelajaran STEM awalnya dirinya hanya ingin membuat produk kerajinan tangan dengan bahan dasar sampah plastik. Namun berbekal masukan dan arahan dari teman-temannya, Naila memutuskan untuk membuat paving block.

”Awalnya kita mau bikin bahan daur ulang dengan kerajinan tangan kaya buat tas atau pot-pot bunga gitu. Tapi karna ada beberapa masukan dan saran dari teman-teman yang lain maka kita membuat satu produk paving block untuk sistem pembalajaran STEM ini,” kata Naila.

Dalam proses membuat paving block, gadis berkacamata ini mengaku mengalami sedikit kesulitan. Yakni mengatur suhu api untuk melelehkan sampah plastik.

”Kita kesusahan untuk mengatur suhu api karena sampah plastiknya kan beda-beda, ada yang tebel dan tipis. Nah kita masih agak kesulitan agar panasnya bisa secara merata dan tidak ada yang gosong,” tukasnya. (dew)

Tags
Close