BEKACITIZENOpini

Menyoal Komunikasi Artifaktual ASN

Oleh: Ilham Akbar

Radarbekasi.id – Banyak pesan non verbal dikomunikasikan melalui cara berpakaian dan artefak-artefak lain (Lurie, 1983; Devito, 2011: 196). Perhiasan, tata rias wajah, mobil yang dikendarai, dan apa pun yang kita kenakan dan apa pun yang kita miliki semua mengomunikasikan sesuatu tentang kita (Devito, 2011: 196).
Pada intinya, komunikasi artifaktual adalah komunikasi yang dilakukan oleh semua manusia, melalui cara berpakaian, atribut, ataupun artefak lain yang kita miliki.

Komunikasi artifaktual juga merepresentasikan siapa diri kita, dan apa profesi kita. Misalnya apabila kita berprofesi sebagai tentara, maka kita akan menggunakan pakaian atau seragam tentara, senjata, dan atribut pengaman lainnya.
Apabila kita berprofesi sebagai seorang pemuka agama, maka kita akan menggunakan baju yang sesuai dengan aturan-aturan dari agama kita. Begitu pun dengan profesi Aparatur Sipil Negara (ASN), maka kita pun akan menggunakan seragam ASN sesuai yang ditentukan oleh negara.

Namun demikian, ternyata tidak semua ASN yang ada di Indonesia mengomunikasikan cara berpakainnya sesuai dengan aturan-aturan dari negara, karena pada saat ini ada beberapa ASN yang justru mempunyai komunikasi artifakutal yang tidak seperti biasanya.

Pasalnya beberapa ASN yang ada di Indonesia, ada yang menggunakan cadar dan memakai celana yang cingkrang. Bahkan pada saat ini, Menteri Agama Fachrul Razi sedang melakukan proses untuk membuat peraturan bagi ASN yang menggunakan cadar ataupun ASN yang menggunakan celana yang cingkrang.

Tindakan yang dilakukan oleh Fachrul Razi tersebut disatu sisi sangatlah baik, karena dengan adanya aturan mengenai pakaian tersebut, maka ASN tidak lagi terlihat berbeda antara satu sama lain.

Namun disatu sisi lainnya, tindakan dari Menteri Agama tersebut justru akan menciptakan kegaduhan, karena tentu saja hal tersebut juga akan bertentangan dengan hak asasi manusia.

Meskipun begitu, apabila Menteri Agama tetap bersikukuh untuk memberikan larangan kepada ASN untuk tidak menggunakan cadar, dan celana cingkrang ketika bekerja, maka kini sudah saatnya ASN membuktikannya dengan kinerja positif, sehingga hal tersebut akan membuat ASN lebih fokus membantu pembangunan negara untuk menjadi lebih baik lagi.

Fokus Mengabdi Kepada Negara
Berdasarkan data dari BKN (Badan Kepegawaian Nasional) pada 29 Januari 2019, ada 2.357 PNS yang pernah tersangkut kasus korupsi dan telah berkekuatan hukum tetap. Berdasarkan data tersebut, kini sudah benar-benar jelas bahwa ternyata ASN sebenarnya sangat rentan terkena korupsi.
Maka dari itu, walaupun nantinya akan ada larangan untuk tidak menggunakan cadar atau celana cingkrang, sebaiknya jangan terlalu dianggap sebagai hal yang sangat serius, karena prioritas utama dari seorang ASN adalah mengabdi kepada negara dan tidak melakukan korupsi, bukan justru menggunakan cadar ataupun celana cingkrang.

Apabila ada ASN yang ingin menggunakan cadar ataupun celana cingkrang, maka hal itu juga bisa dilakukan disaat ASN tidak sedang bekerja.
Maka dari itu, daripada sibuk untuk mempersoalkan mengenai cadar atau celana cingkrang, lebih baik para ASN itu terus berupaya untuk mengabdi kepada negara. ASN juga harus bisa membuktikan bahwa, apabila cadar maupun celana cingkrang dilarang untuk dipakai ketika bekerja, maka ASN pun harus bisa menunjukkan bahwa hal tersebut tidak akan memengaruhi kinerjanya, dan kinerja dari para ASN harus tetap bisa bermanfaat bagi negara.

Jadi pada intinya, ASN tidak perlu banyak protes mengenai larangan tersebut, karena apabila ASN melakukan protes justru masyarakat akan menilai bahwa ASN bukanlah pihak yang selalu menjadi pelayan rakyat, tetapi justru ASN akan menjadi pihak yang hanya memperdulikan tentang komunikasi artifaktualnya yang tidak koheren dengan profesinya.

Oleh karena itu, larangan untuk tidak menggunakan cadar dan celana cingkrang disaat bekerja, sebaiknya dijadikan sebagai suntikan motivasi bagi ASN, untuk membuktikan bahwa tanpa cadar ataupun celana cingkrang, para ASN pun tetap ikhlas untuk mengabdi kepada negara. ASN juga harus bisa menjadi ASN yang bisa bermanfaat bagi rakyat Indonesia dan bagi kemajuan bangsa Indonesia.
Harus Merefleksikan Kembali

Menteri Agama, Fachrul Razi pun sempat menyinggung bahwa cadar ataupun celana cingkrang, bukanlah suatu ukuran ataupun suatu bukti bahwa ia adalah orang yang taqwa.

Tentu saja pernyataan dari Fachrul Razi tersebut ada baiknya juga bagi keberlangsungan agama di negara kita. Karena sering kali agama di negara kita, dibuktikan melalui komunikasi artifaktual yang belum tentu bisa membuktikan ketaqwaan yang sesungguhnya.

Maka dari itu, hal ini lah yang harus diperbaiki oleh kita semua, bahwa tidak semua orang yang taat terhadap agama diperlihatkan dengan komunikasi artifaktualnya.

Menurut Albert Einstein, ilmu pengetahuan tanpa agama pincang, agama tanpa ilmu pengetahuan buta (Dawkins, 2013: 18). Agama sebaiknya diselaraskan dengan ilmu pengetahuan manusia, karena hanya dengan ilmu pengetahuan lah agama menjadi kuat, bukan justru dengan cadar ataupun celana yang cingkrang itu.
Hal ini lah yang seharusnya direfleksikan kembali oleh para ASN yang menggunakan cadar ataupun celana cingkrang, para ASN harus benar-benar melihat realitas yang baru, bahwa tidak semua komunikasi artifaktual yang mereka lakukan, akan membuat mereka semakin baik.

Bahkan para ASN juga harus sadar, bahwa pada saat ini cadar dan celana cingkrang justru hanya akan mendapatkan stigma negatif dari beberapa orang, karena beberapa orang di Indonesia selalu mengaitkan cadar maupun celana cingkrang dengan terorisme dan radikalisme.

Oleh karena itu, sebaiknya para ASN yang menggunakan cadar maupun celana cingkrang, harus terus-menerus merefleksikan komunikasi artifaktual yang selama ini mereka lakukan.

Banyak cara untuk menunjukkan diri sebagai orang yang bertaqwa, bahkan Allah SWT pun sebenarnya tidak hanya ingin hambanya menggunakan cadar ataupun celana cingkrang saja, tetapi yang diinginkan oleh Allah SWT adalah perbuatan.

Allah SWT pun berfirman bahwa: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan,” (AS-SAFF: 3). Maka dari itu, pada intinya ASN harus fokus pada perbuatan, bukan justru fokus dengan cadar dan celana cingkrang nya itu. (*)

Esais dan Pemerhati Sosial

Tinggalkan Balasan

Close