BEKACITIZEN

Merawat Nalar Kritis Gerakan Mahasiswa

Oleh: Arief Azizy (Peneliti Psikologi Massa dan Sosial UIN Sunan Kalijaga)

RADARBEKASI.ID, BEKASI –¬†Maklumat yang tersebar melalui selembar kertas yang dikeluarkan Pimpinan Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) cukup mengagetkan. Mereka yang terhimpun dalam PMII dihimbau untuk melakukan aksi demonstrasi di depan Gedung KPK pada Jumat (20/09/2019). Perintah atau seruan dalam melakukan aksi demonstrasi ini dikeluarkan dan dikordinasikan langsung oleh pimpinan PMII.

Maklumat untuk turun jalan dan melakukan protes ini lebih tepatnya setelah terjadi tangkap tangan KPK yang menyeret mantan Menpora Imam Nahrawi.

Kasus dana hibah KONI yang menyeret Imam Nahrowi ini sangat mengagetkan, akibat mangkir tiga kali untuk melakukan penyidikan di kantor KPK. Imam Nahrowi yang menjadi bagian dari alumni PMII ini nampaknya menjadi panutan kader-kader yang berproses dalam organsisasi. Seruan untuk turun jalan pun sebetulnya menuai pro-kontra dari berbagai pihak di berbagai cabang.

Beberapa pimpinan cabang yang dinaungi PB PMII pun banyak yang menyerukan penolakan agar tidak turun jalan pada hari Jumat (20/09/2019). Karena, isu yang diangkat untuk turun jalan melakukan aksi demonstrasi pun terbilang tidak jelas dan terlalu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Seharusnya, yang dilakukan adalah tetap tenang dengan berfikir kritis terhadap perkembangan kasus ke depan.

Selama ini gerakan mahasiswa memang sudah tidak banyak mengeluarkan taringnya untuk melakukan demonstrasi besar-besaran. Semenjak pengesahan Rancangan UU KPK yang jelas-jelas mengancam independensi barisan pengawal korupsi di negeri ini. Seharusnya, sudah jelas keberadaan KPK sebagai gerakan yang independen, baik dan layak diapresiasi.

Beberapa hari ini, mahasiswa di berbagai daerah melakukan demonstrasi dan melayangkan protes terhadap Anggota Dewan dan Pemerintah yang telah sewenang-wenang merumuskan UU dalam sidang paripurna.

Jika kita melihat sejarah Gerakan Mahasiswa di era Orde Baru, bisa dibilang sebagai masa kelahiran dan masa keemasan dalam sejarah gerakan mahasiswa dalam menuntut lahirnya reformasi terhadap kekuasaan yang dzolim terhadap rakyat. Demonstrasi besar-besaran pada masa Orba yang yang tercatat pada tahun 1998 dalam menuntut Presiden Soeharto mundur menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi gerakan mahasiswa.

Kondisi perkembangan teknologi dan banyaknya konsumsi terhadap teknologi menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi gerakan aktivisme mahasiswa ini. Apalagi banyak yang bilang bahwa sekarang ini adalah era milenial yang dimana semua arus utama informasi dengan mudah diperoleh melalui smartphone. Bisa jadi, teknologi menjadi kendaraan kedua untuk melakukan perubahan yang mendasar pada negeri ini, dengan memproduksi wacana-wacana dan mengkritisi peran pemerintah terhadap rakyat di media masa merupakan bagian dari perjuangan.

Merawat Nalar Kritis

Permasalahan dalam isu revolusi industri 4.0 yang selalu menghadapkan kita semua dengan pembaruan teknologi-informasi yang kian ke sini kian maju dan berkembang pesat. Banyaknya perkembangan ini yang seharusnya dapat merawat dan meruwat nalar kritis mahasiswa saat ini. Perjuangan yang sesungguhnya memang lahir dari kekecewaan yang ada dan tentu saja sudah seharusnya pergerakan mahasiswa bangkit.

Tentang merawat dan meruwat nalar kritis mahasiswa tentu saja sudah saatnya digalakkan kembali. Dengan melalui akar-akar pergerakan diskusi di kampus-kampus dengan banyaknya literatur-literatur yang mencerdaskan. Tentu saja gerakan mahasiswa harus dilandasi dengan kekritisan terhadap kondisi saat ini.

Seperti yang telah digaungkan seorang sastrawan terkemuka Pramoedya Ananta Toer yang senantiasa mengingatkan pentingnya generasi muda mengubah dunia. Sejarah dunia merupakan sejarah orang muda, apabila angkatan muda mati rasa maka matilah sejarah sebuah bangsa, seperti itu memo yang dikatakan Pram untuk anak muda.

Bersikap kritis dan transformatif menjadi sikap yang harus dimiliki oleh aktivis era milenial. Apabila gerakan mahasiswa memudar tentu saja ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi semua elemen bangsa. Sepak terjang aktivisme di Indonesia sangat bagus sekali jika kita menilisik sejarah pergerakan mahasiswa. Pernah terjadi gelombang penolakan besar terhadap pemerintah order baru yang dengan taringnya dan moncong-moncong senjata selalu membuat ketakutan tersendiri.

Menegaskan Arah Gerakan Aktivisme

Seharusnya mahasiswa yang banyak digaungkan adalah Agent Of Changes bisa-bisa istilah ini hilang ditelan perubahan zaman yang begitu cepat. Sejatinya istilah ini menguatkan eksistensi sebagai mahasiswa yang bergerak dalam gerakan aktivisme untuk mengeluarkan taringnya dan melakukan aksi-aksi yang membawa perubahan nasib bangsa. Tentu saja, gerakan aktivisme masa dulu sudah berbeda karena, gerakan aktivisme mahasiswa sekarang memiliki cara dan model yang lebih dipermudah untuk melakukan perubahan dan pergerakan.

Meskipun begitu, namun masih banyak aktivis gerakan mahasiswa yang terpancing dengan berbagai isu-isu miring untuk melakukan demonstrasi. Perkembangan teknologi yang tanpa adanya kontrol memberikan kesan kebebasan penyebaran informasi yang masif dengan isu-isu baru dan banyak yang terbukti. Keberadaan isu taliban di dalam tubuh KPK membuat polemik baru dan membuat banyak yang mudah percaya.

Bahkan, isu tebang pilih dalam melakukan proses tangkap tangan terhadap pejabat yang melakukan korupsi. Narasi-narasi yang seperti ini cenderung memberikan provokasi terhadap aktivis untuk turun ke jalan tanpa melakukan pembacaan ulang terhadap kasus yang terjadi. Malah justru mereka banyak yang mengikuti narasi yang belum tentu dengan fakta yang ada dilapangan.

Pelengseran presiden soeharto menjadi sebuah momentum tersendiri untuk mengembalikan marwah sebagai bagian warga masyarakat Indonesia dalam menyuarakan aspirasi. Mitos yang berkembang dalam istilah Agent of Change menjadi tantangan yang serius dalam melihat isu dan kepentingan elit politik. Jika kiat membaca Takashi Shiraishi (2005) dalam Zaman Bergerak ; Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 menyatakan dan menunjukkan bahwa tantang terbesar dalam membawa gagasan baru yaitu adalah peran dari para intelektual muda.

Pada dasarnya yang sangat filosofis gerakan mahasiswa ini mengacu kepada perjuangan kelompok dan kepentingan bersama. Namun, pengaruh komersialisasi dalam dunia pendidikan, teknologi dan sebagainya merupakan bagian dari tindakan dari neolibealisme. Menumbuhkan kesadaran berpolitik untuk membuat peorganisiran masyarakat yang besar dan cenderung menciptakan radikalisasi dalam gerakan.

Mobilisasi massa yang kuat dan tidak terbendung seharusnya dapat dicontoh kembali dan seharusnya muncul dalam permukaan dengan wajah garang mahasiswa tentu saja pentingnya dengan daya kritis mahasiswa. Jangan sampai, akibat perkembangan teknologi, disrupsi dan otomatisasi yang mulai ramai diperbincangkan malah justru menumpulkan daya kritis gerakan mahasiswa saat ini. (*)

Close