BEKACITIZEN

Perpustakaan Kaum Millenial

Oleh: Larastiana Dewi (Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Islam Malang)

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Siapa yang masih menyempatkan waktu untuk datang ke perpustakaan? Apalagi ke perpustakaan jadul. Gedung yang kusam. Ruang baca yang gerah. Deretan buku-buku berdebu. Dengan judul buku yang tidak up to date. Dan rak buku yang rapuh.

Tentu saja perpustakaan model begitu. Bukan pilihan yang menarik bagi generasi millennial. Generasi gadget sudah barang tentu ogah menyambangi perpustakaan semacam itu.

Mereka pilih yang praktis. Cukup modal kuota. Tinggal sedot (download) e-book atau PDF (portable document format) dari beragam aplikasi, baik yang gratisan maupun berbayar. Atau mengandalkan ’’kiriman’’ dari sesama WhatsApp Group (WAG).

Meski fakta mendapatkan informasi secara daring (online) sudah sebegitu nyatanya. Tetap saja masih banyak pustakawan atau pengelola perpustakaan yang belum melek teknologi. Masih sedikit perpustakaan yang dikelola dengan layanan teknologi yang paripurna.

Padahal, perpustakaan saat ini tidak melulu harus diisi dengan buku, majalah atau jurnal ilmiah. Perlu konten yang memikat, memuaskan dahaga pengetahuan generasi millennial alias Gen Y. Diantaranya reality virtual content yang dapat dikembangkan secara mandiri, baik lewat aplikasi berbayar maupun gratisan yang bertebaran di internet

Istilah generasi millennial merujuk kepada dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan NeilHowe dalam beberapa bukunya, Millennial Generation atau Gen X alias Generasi Y. Generasi ini juga akrab disebut generationme atau echoboomers. Para peneliti sosial mengelompokan Gen Y ini adalah mereka yang terlahir antara tahun 1980-2000. Kira-kira mereka saat ini berada dalam rentang usia 15 tahun hingga menjelang usia 40 tahun, yaitu 39 tahun.

Hasil sebuah penelitian menunjukkan, 34 persen penduduk Indonesia adalah generasi millenial. Diperkirakan pada tahun 2025 mereka lah nanti yang akan mengisi dan menguasai seluruh instansi lembaga, baik pemerintahan maupun swasta.

Nah, kondisi perpustakaan yang tidak mengikuti perkembangan zaman dan teknologi saat ini, sudah pasti akan ditinggal pergi oleh para generasi ini. Agar perpustakaan tidak ditinggal lari, pemustaka dan pengunjung tidak semakin berkurang, maka perpustakaan harus tanggap dalam menyambut perubahan ini.

Pengelola perpustakaan harus berubah. Berbenah diri. Selain menyediakan, memperbarui buku, majalah, jurnal  ilmiah serta konten menarik. Fasilitas Wifi dan perpustakaan digital, juga salah satu fasilitas yang tidak bisa ditawar-tawar lagi secepatnya hadir di area pepustakan.

Perpustakaan dan para pustakawan juga harus information literate terhadap adanya pergeseran perubahan generasi millennial. Masuknya era Revolusi Industri 4.0 menyediakan peluang sekaligus tantangan bagi para pustakawan.

Pustakawan wajib memiliki kemampuan ’’literasi lama’’ dan ’’literasi baru’’. Literasi lama, seperti Membaca Menulis dan Berhitung (Calistung) penting dikuasai sebagai pondasi. Sedangkan ’’literasi baru’’ layak di genggam untuk menghadapi tantangan zaman.

Literasi baru itu meliputi: literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia. Literasi data terkait dengan kemampuan membaca, menganalisis dan membuat konklusi berpikir berdasarkan data dan informasi (big data) yang diperoleh.  Literasi teknologi terkait dengan kemampuan, memahami cara kerja mesin. Aplikasi teknologi dan bekerja berbasis produk teknologi untuk mendapatkan hasil maksimal. Literasi manusia terkait dengan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berfikir kritis, kreatif, dan inovatif. (*)

Close