Berita UtamaHukumPeristiwa

Janin Usia Tujuh Bulan Dipingpong Tiga Rumah Sakit

KJRI Jeddah Turun Tangan

RADARBEKASI.ID, JEDDAH – Janin berusia tujuh bulan kesulitan dimakamkan di kawasan Jeddah, Arab Saudi. Penyebabnya, orangtua sang janin dianggap tidak mengantongi kelengkapan dokumen iqamah (izin tinggal resmi). KJRI Jeddah pun turun tangan membantu proses pemakaman janin yang gugur dalam kandungan tersebut.

Tim Pelayanan dan Pelindungan Warga (Yanlin) KJRI Jeddah menjelaskan, untuk membantu proses pemakaman janin itu, tim mengutus Abdullah Mochtar, staf fungsi KJRI Jeddah untuk mendampingi HA, ayah calon bayi ke kantor polisi di Distrik Salamah untuk mengurus surat rekomendasi dari pihak kepolisian.

’’Surat rekomendasi dari kepolisian itu diperlukan sebagai ujukan ke pihak rumah sakit untuk penyimpanan jenazah dan pelaksanaan otopsi terhadap janin yang meninggal di kandungan untuk memastikan penyebab kematiannya,’’ jelas Koordinator Yanlin KJRI Jeddah Safaat Ghofur dalam keterangan tertulis yang diterima Radarbekasi.id, Selasa (19/11).

Berbekal surat rekomendasi kepolisian, jenazah dibawa ke Rumah Sakit (RS) King Fahd untuk disemayamkan di tempat penyimpanan jenazah. Namun, rumah sakit menolak dengan alasan tidak menerima jenazah Janin. Jenazah kemudian coba dialihkan ke Tibb Syar’i (rumah sakit forensik), tapi lagi-lagi ditolak lantaran tidak ada fasilitas penyimpanan jenazah di rumah sakit.

HA bersama Abdullah mencoba mendatangi RS King Abdulaziz di Distrik Al Mahjar. Rumah sakit ini mau menerima asalkan surat rekomendasi atau rujukan dari pihak kepolisian yang semula ditujukan ke RS King Fahd direvisi menjadi RS King Abdulaziz.

Bersama ambulan yang membawa jenazah, keduanya kembali ke Kepolisian Salamah untuk mengajukan permohonan revisi surat rujukan.  Jenazah kemudian dibawa kembali ke RS King Abdulaziz dan diserahkan ke rumah sakit tersebut untuk disemayamkan di fasilitas penyimpanan jenazah.

“Lebih dari 2 harian dan ekstra effort untuk mencari-cari data dukung, dan sempat ditolak oleh beberapa rumah sakit,” ungkap Safaat lagi.

Berkaca pada kerumitan pemakaman janin di atas, KJRI Jeddah, Dr. Mohamad Hery Saripudin mengajak seluruh Masyarakat Indonesia di Arab Saudi agar tidak menggampangkan masalah pernikahan, apalagi dilakukan dengan pasangan yang berstatus tidak resmi di negara orang.

Konjen mengimbau warga agar peristiwa semacam ini dijadikan pelajaran, bahwa pernikahan tidak resmi memiliki konsekuensi hukum, bisa diperkarakan atas tuduhan perbuatan asusila.

“Tinggal tidak resmi, menikah tidak resmi, apalagi sampai punya anak dan meninggal. Ribet mengurus pemakamannya. Jadi, mohon jangan hanya berpikir enaknya saja. Pikirkan juga resikonya,” pesan Konjen.

Setelah dua hari mengupayakan kelengkapan dokumen dan hasil otopsi rumah sakit yang menyatakan janin tersebut meninggal secara wajar, jenazah janin tersebut akhirnya dapat dimakamkan di hari berikutnya, Senin (18/11). (zar)

Tags
Close