Pendidikan

Perombakan Buku Mapel Agama Islam Ditanggapi Beragam

SMAN 2
ILUSTRASI: Siswa SMAN 2 Kota Bekasi mengikuti praktik mata pelajaran agama Islam. Perombakan 155 buku mata pelajaran agama Islam oleh pemerintah mendapat tanggapan yang beragam dari pihak sekolah di Kota Bekasi. Dewi Wardah Radar Bekasi

Radarbekasi.id – Perombakan 155 buku mata pelajaran agama Islam oleh pemerintah mendapat tanggapan yang beragam dari pihak sekolah di Kota Bekasi.

Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum SMK Widya Nusantara Alamsyah berpendapat, perombakan buku mata pelajaran agama Islam memiliki nilai positif dan negatif. Dari sisi positif, kata dia, negara bermaksud mengantisipasi agar agama Islam tak dipandang sempit, khususnya tentang kekhalifahan.

”Ini positifnya bahwa dengan perombakan ini Menteri mengajak generasi mendatang dengan pandangan bahwa Islam Rahmatan lil Alamin yaitu rahmatan seluruh manusia apapun agama suku dan rasnya,” ujar Alamsyah kepada Radar Bekasi, Senin (18/11).

Dari sisi negatif, jelas dia, negara akan dianggap membatasi kebebasan beragama dan terlalu mengatur perilaku beragama Islam. ”Lebih baiknya kita mengambil nilai positifnya aja dari perombakan ini agar berjalannya pendidikan di Indonesia lebih baik lagi,” kata dia.

Alamsyah mengungkapkan, sebaiknya pemerintah dapat lebih berhati-hati dan bijak mengambil keputusan mengenai perombakan buku mata pelajaran agama Islam.

”Kita harapkan pemerintah dalam langkah ini sudah melakukan diskusi terlebih dahulu bersama dengan pihak-pihak terkait, salah satunya alim ulama baik yang pro maupun kontra agar dalam mengambil sebuah keputusan tidak salah dikemudian hari dan tentunya tidak menjadi suatu penyesalan,” pungkasnya.

Sementara, Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum SMAN 2 Kota Bekasi Rini Resmiyati mengatakan, sekolah akan menyambut baik apabila perombakan mata pelajaran agama Islam membawa dampak yang lebih baik. Sebaliknya, jika perombakan tersebut akan berdampak negatif, pihak sekolah sangat kecewa.

”Kita sangat menyambut dengan baik, jika hal tersebut akan berdampak baik untuk kedepannya. Pasalnya sekarang ini sudah dirasakan bahwa siswa kurang sekali dekat dengan agamanya tentunya hal ini disebabkan dengan berkembangnya teknologi,” kata Rini.

Rini mengatakan, seharusnya mata pelajaran agama Islam saat ini diberi waktu tambahan selama empat jam dengan masing-masing waktu dua jam materi khusus pendidikan agama dan budi pekerti.

”Saya malah berharap mata pelajaran agama bisa diberikan waktu yang ekstra agar budi pekerti dan pengetahuan agama untuk siswanya bisa lebih didapatkan,” ungkapnya.

Usulan itu, kata Rini, agar kedepannya generasi muda dapat memiliki ketaatan beragama sehingga terbentuk suatu karakter dengan berbudi pekerti dan jiwa intelektual yang baik.

”Ini hanya harapan seorang guru terhadap anak didiknya, keputusan apapun yang dibuat jika dapat berdampak positif bagi siswa kami akan mendukung dengan baik,” pungkasnya. (dew)

Close