BolaHukumOlahraga

Match Fixing, Khawatir Sanksi Pemain

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sejumlah pihak mengaku masih tidak percaya adanya match fixing atau pengaturan skor pada leg dua antara Persikasi VS Perses Sumedang di Liga 3 Seri Satu Jawa Barat 2019. Pelatih Persikasi Rici Pauzi menegaskan, peristiwa penangkapan pelaku pengaturan skor tersebut tidak ada hubungan dengan tim Laskar Bedo Item asuhannya.

Pria yang akrab disapa Rici ini menegasan, keberhasilan tim meraih predikat runner up dan lolos ke Liga 3 Regional Jawa hasil kerja keras seluruh pemain di lapangan. Upaya Tim pelatih Persikasi Bekasi meyakinkan kepada seluruh pemain untuk tidak terpengaruh.

”Yang pasti kita tim pelatih perlu meyakinkan kepada semua pemain, kalau keberhasilan kita bisa sampai Liga 3 regional Jawa memang karena kita berkualitas,” katanya pada Radar Bekasi, Rabu (27/11).

Menurutnya, peristiwa tersebut membuat pemain dan tim pelatih Persikasi termotivasi menjawab tuduhan dengan menujukkan hasil maksimal di leg perdana melawan Persibas Banyumas, Stadion Mini Tambun, Kecamatan Tambun Selatan, Kamis (28/11) hari ini.

”Ini justru semakin memotivasi kita untuk kasih lihat ke semuanya kalau kita memang tim yang berkualitas. Tim ini kuat karena para pemainnya yang berjuang keras di setiap latihan maupun pertandingannya,” jelasnya.

Pelatih jebolan kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengaku tidak setuju jika timnya mendapatkan kemenangan dari hasil bantuan wasit. ”Yang pertama, saya sangat tidak setuju kalau kemenangan Persikasi di semifinal lawan Perses kemarin disebut gara-gara wasit,” tegasnya.

Menurut Rici, tiga gol yang berhasil disarangkan para pemainnya ke gawang Perses, murni dari hasil kerja sama seluruh anak asuhnya di lapangan. Selain itu, permainan Persikasi di laga menghadapi Perses dinilai mampu tampil lebih baik dan dominan di lapangan.

”Bisa dilihat video pertandingnya ada di YouTube, bagian mana yang kita dibantu wasit?. 3 gol balasan kita ke gawang Perses semuanya clear tanpa campur tangan wasit.” bebernya.

”Kita menang lawan Perses karena memang permainan kita jauh lebih baik daripada Perses,” timpalnya.

Adanya tuduhan kasus tersebut menjadi cambuk besar bagi seluruh pemain dan pelatih Persikasi Bekasi. Rici menegaskan, tuduhan suap yang dilakukan timnya dinilai salah sasaran dan tidak tepat. Sebab, seluruh pemain skuad Laskar Bendo Item sudah berjuang semaksimal mungkin di lapangan.

”Hal ini yang perlu diluruskan, karena pemain sudah berjuang maksimal di setiap pertandingan yang kita jalani,” papar Rici.

Menelusuri dugaan match fixing, transaksi via Rekening masih menjadi dugaan besar. Matchcom Pertandingan, Hendra mengatakan, pengawasan pertandingan dilakukan pada setiap semifinal.

”Kalau saya tidak tau-menau masalah itu. Saya bertugas sesuai job desk dan kewenangan saya. Di belakang layar saya gak tau. Saya juga kaget, yang jelas saya tidak tau-menau,” katanya kepada Radar Bekasi.

Ia menjelaskan, tugas pokok Matchcom yakni melihat, mencatat dan melaporkan jalannya pertandingan dari mulai persiapan, pertandingan berjalan dan sampai selesai pertandingan yang terlibat di kedua tim dilakukan.

”Kalau saya melihat, memantau pertandingan lurus saja tidak ada sama sakali tidak kepikiran dan tidak melihat dan jalan saja. Saya pas dengar itu saja kaget. Saya juga sempat ditanya dan saya memang gak tau apa-apa,” jelasnya.

Sementara itu, sanksi pada pemain memang menjadi salah satu yang di khawatirkan. Bila melihat dugaan suap pengaturan pertandingan di perebutan Juara Jabar, Persikasi sendiri sudah mengantongi tiket delapan besar.

Sekretaris Jendral (Sekjen) Asprov PSSI Jawa Barat, Deddy Permana belum bisa memastikan adanya sanksi sebelum keluar putusan resmi dari kepolisian. ”Sementara kita anggap praduga tidak bersalah. Kita menghargai proses hukum yang saat ini sedang berjalan,” katanya.

Terkait sanksi, lanjutnya, tahapannya ada di peradilan atau komisi disiplin Asprov PSSI Jawa Barat. Namun, putusan tersebut belum bisa ditetapkan secara sepihak dan tetap dengan menunggu hasil daripada proses hukum yang saat ini tengah berjalan.

”Karena itu kan belum tau. Itu kan penjatuhan nanti mengenai hukuman disiplin. Baik terhadap club atau lainnya kita belum tau. Karena untuk saat ini, pertandingan masih berjalan. Persikasi akan menghadapi tim Banyumas,” bebernya.

Kata Deddy dalam penetapan sanksi, akan dilihat sejauh mana keterlibatan club. Namun yang jelas, Asprov sejauh ini masih belum mengetahui secara detail mengenai kesalahan Persikasi. ”Kita belum tau adanya keteribatan club atau tidak. Yang jelas kita masih atas praduga tidak bersalah dulu. Tapi bila merujuk pada hasli pertandingan, tidak ada kontoversial,” tukasnya.

Terpisah, Ketua Komite Ad Hoc Ahmad Riyadh mengapresiasi kinerja satgas. Menurut dia, saat ini menjadi wewenang kepolisian karena sudah masuk proses hukum. ’’Tetapi, kami bisa merekomendasikan untuk tambahan hukuman disiplin kepada pelaku yang terlibat itu. Sanksinya seperti tidak boleh aktif dalam dunia sepak bola. Bisa seumur hidup (sanksinya),’’ kata Riyadh.

Wakil Ketua Komdis PSSI Umar Husein belum bisa memastikan tentang hukuman terhadap pelaku yang terlibat itu. ’’Nanti kami periksa dulu. Yang bersalah, jelas kami akan memberikan hukuman,’’ ungkap Umar.

Sementara itu, Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan menegaskan tidak akan main-main soal pengaturan skor. ’’Kemarin satgas bilang ada penangkapan. Saya bilang, kalau memang terbukti, silakan,’’ ucapnya kepada Jawa Pos (Radar Bekasi Group) di Manila, Filipina, kemarin. ’’Kami buka selebar-lebarnya (pemeriksaan). Jangan main-main terhadap sepak bola. Bagi yang mau coba-coba, sekalian saya dorong,’’ ujarnya.(dan/jpc)

Tinggalkan Balasan

Close