Berita UtamaCikarang

Cerita Kristosimus Yohanes Agawemu dapat Penghargaan dari Mendikbud

Satu Sekolah Tiga Guru, Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi

Medikbud
TERIMA PENGHARGAAN: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim (kanan) menyematkan pin kepada Bupati Mappi Papua Kristosimus Yohanes Agawemu (kiri) saat memberikan penghargaan Dwija Praja Nugraha dalam peringatan HUT PGRI ke-74 di Stadion Wibawa Mukti Cikarang Timur Kabupaten Bekasi, Sabtu (1/12).ARIESANT/RADAR BEKASI

Radarbekasi.id – Puncak peringatan hari guru yang dilaksanakan di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang Timur, Sabtu (30/11), menjadi pengalaman tak terlupakan bagi Bupati Mappi, Papua, Kristosimus Yohanes Agawemu.

Senyum mengembang dari bibir Bupati Mappi, Papua, Kristosimus Yohanes Agawemu, saat namanya dipanggil oleh pembawa acara utuk menerima penghargaan dari Mentri pendidikand an kebudayaan, Nadim Makarim, siang itu. Ya, orang nomor satu di kabupaten Mappi ini, mendapatkan penghargaan Dwija Praja Nugraha karena mampu memberikan inovasi pendidikan yang baik.

Dibantu dengan tongkat untuk berjalan, Bupati Mappi, Kristosimus Yohanes Agawemu, menaiki podium mengambil penghargaan yang diberikan langsung oleh Menteri Pendidikan Nadiem Makarim.

Dalam kesempatan ini, Bupati Mappi, Kristosimus Yohanes Agawemu, berkenan untuk mengobrol secara langsung dengan Radar Bekasi usai acara selesai, dirinya secara gamblang menceritakan kondisi pendidikan yang ada di wilayahnya.

Menurutnya, pendidikan menjadi permasalahan yang panjang dan rumit yang terjadi di wilayahnya Kabupaten Mappi. Kurang lebih sekitar 70 persen pendidkan di Sekolah Dasar (SD) tidak berjalan karena kurangnya tenaga pendidik (Guru) disana.

Hal tersebut terjadi, setelah adanya aturan yang mengharuskan tenaga pendidik waib memiliki ijazah S1, sedangkan kondisi yang terjadi disana, rata-rata tenaga pendidik berstatus ijazah SPG. Sehingga regulasi ini sangat membebani daerah yang di pimpinnya.

”Kekurangan ini karena setelah terjadi perubahaan aturan dimana guru harus S1, ini tidak disertai dengan bagaimana menyediakan tenaga pendidik untuk mengisi kekosongan, pada saat guru yang ada dilapangan harus kuliah,” ujarnya saat ditemui di depan Stadion Wibawamukti.

Sambil berdiri, dirinya membeberkan, dari jumlah 500 tenaga pendidik yang ada, dan jumlah Sekolah Dasar (SD) ada 163, Sekolah Menengah Pertama (SMP) 26, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat 11, rata-rata satu sekolah hanya ada dua sampai tiga tenaga pendidik.

”Guru disana sangat kurang sekali, kalau ditotalkan secara keseluruhan kita butuhkan sekitar seribu lebih. Dengan kondisi hari ini hanya ada 500, berarti kami masih kurang 500 lebih. Untuk itu kami beraharap, bisa menjadi salah satu potret dari permasalahan pendidikan di Papua yang hari ini tidak berjalan dengan baik,” ungkapnya.

Namun, setelah resmi menjabat sebagai Bupati Mappi tahun 2017, dirinya mencoba mengintelisir masalah, lalu mencoba memutuskan langkah jangka pendek, menengah, dan panjang.

Dengan suara khas orang Timur dirinya menjelaskan, yang dimaksud jangka pendek yaitu melakukan kegiatan kontrak guru, perbaikan management di pendidikan, sekaligus membenahi kepala sekolah dan seluruh guru melalui rapat kerja, agar bisa ada diruang kelas.
Kemudian jangka menengah, memberikan pelatihan-pelatihan untuk para guru, salah satunya untuk kepala sekolah dan guru pengawas. Lalu jangka panjang, mengirim anak-anak asli Mappi untuk bisa dididik menjadi guru, dengan memberikan kuliah gratis.

Lanjutnya, mulai tahun 2018 sebanyak 100 orang, lalu tahun 2019 dikirim kembali 100 orang, dan di harapkan tahun 2020 bisa mengirim kembali 100 orang, sehingga sebelum masa jabatnya berakhir tahun 2022, bisa mengirim 500 anak-anak yang bisa dididik menjadi guru.

”Kami sudah bekerja sama dengan Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada, sudah ada 200 anak kami kirim untuk dididik di sana menjadi guru. Saya berharap, anak-anak di Mappi bisa mendapatkan kecerdasan yang sama dengan saudara-saudaranya di Indonesia,” ucapnya.

Dirinya juga menuturkan, penghargaan yang didapatkannya menjadi satu semangat baru, inspirasi untuk teman-teman Kepala Daerah di Papua, ketika mau membangun bangsa harus diawali dari pendidikan dasar, menengah, kemudian pendidikan SLTA, dan seterusnya.

”Penghargaan ini menjadi milik masyarakat dan para guru di Mappi, mudah-mudahan dengan adanya kegiatan-kegiatan yang lebih konkret bisa membantu pengembangan SDM di Papua. Walaupun apa yang saya lakukan belum maksimal, tetapi paling tidak ada gerakan baru yang kita lakukan untuk mencapai sebuah perubahaan,” tuturnya.

Sementara itu, dua perubahan besar sedang dipersiapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, yakni terkait dengan ujian nasional (UN) dan guru. Dia mengaku membutuhkan waktu untuk melakukan evaluasi sebelum mengambil keputusan.

Soal UN, Nadiem serius ingin melakukan perombakan. ”Baru minggu lalu kami melakukan asesmen bertahap, tahap evaluasi. Jadi ya belum siap (menghapus UN, Red),” ujarnya.

Nadiem ingin pengkajian dilakukan secara mendalam. Sebab, banyak poin yang akan dievaluasi terkait dengan penyelenggaraan UN selama ini. Menurut dia, wacana perombakan UN didasari banyaknya aduan dan aspirasi yang disampaikan masyarakat. Selain itu, pihaknya memang ingin memperbaiki esensi UN, apakah untuk menilai prestasi murid atau menilai prestasi sistem.

Meski begitu, Nadiem menegaskan, masih ada UN tahun depan. Kebijakan yang baru akan diterapkan 2021. ”Yang sudah pasti 2020 masih akan jalan UN. Itu kan sudah kami umumkan. Biar tenang bagi yang sudah belajar,” ungkap mantan bos Gojek tersebut.

Sementara itu, soal guru, Nadiem berjanji segera menyederhanakan berbagai macam aturan, administrasi, kurikulum, hingga berbagai macam asesmen (assessment). Tujuannya ialah membantu guru agar lebih memiliki ruang gerak lagi seperti yang tertuang dalam pidatonya beberapa waktu lalu. ”Tetapi, mohon beri kami berbagai macam input dan beri kami waktu untuk melakukan itu,” tuturnya dalam puncak Hari Guru Nasional (HGN) 2019 di Bekasi kemarin.

Nadiem mengaku sempat pesimistis bisa menyelesaikan segala persoalan guru. Sebab, menurut dia, permasalahan yang ada cukup rumit. Tantangannya terlalu berat. Terutama soal bagaimana meningkatkan sistem pendidikan di Indonesia.

Namun, problem itu perlahan terkikis setelah Nadiem berdialog dengan sejumlah guru dari berbagai penjuru Indonesia. Apalagi ketika mendengar kisah-kisah guru di lapangan. Salah satunya cerita dari guru di Sulawesi yang mengajak murid-muridnya keluar kelas. Lalu masuk ke hutan untuk mengenali kata-kata serta barang-barang alam dengan menggunakan kosakata adat dan kosakata Indonesia.

Ada pula sekolah di Kalimantan yang setiap minggu dan setiap bulan mengatur orang tua murid datang ke kelas. Tidak hanya untuk mengajar, tetapi juga berpartisipasi dalam kurikulum. ”Setiap kali mendengarkan pikiran dan nasihat dari guru, saya langsung menjadi optimistis lagi,” tegasnya. (pra/jpc)

Tags

Tinggalkan Balasan

Close