BEKACITIZENOpini

Airlangga Hartarto Bakal Terpilih Lagi

Oleh: Igor Dirgantara

Radarbekasi.id – PARTAI Golkar akan menggelar Munas X pada 3-6 Desember di Hotel Ritz Carlton Jakarta. Ada sembilan kandidat yang mendaftar untuk berkompetisi memperebutkan kursi tertinggi partai beringin tersebut, yaitu Airlangga Hartarto, Bambang Soesatyo, Ridwan Hisjam, Ali Yahya, Achmad Annama, Indra Bambang Utoyo, Agun Gunandjar Sudarso, Derek Lopatty dan Aris Mandji.
Bisa dikatakan, Airlangga Hartarto akan kembali melenggang menjadi ketum Golkar periode 2019-2024. Ada tiga alasan:

Pertama, dukungan dari pemegang hak suara Partai Golkar di Munas. Semua kubu boleh saja klaim mendapat dukungan dari DPD I dan DPD II, tetapi fakta di atas kertas, hanya Airlangga yang bisa membuktikan adanya dukungan minimal 30 persen dari para pemegang hak suara saat pendaftaran sebagai caketum. Apa yang dilakukan Airlangga sesuai dengan pasal 12 AD/ART Golkar.
Jadi, baik aklamasi maupun voting, Airlangga tetap akan juara. Dengan bukti tertulis 30 persen dukungan pemegang hak suara, aklamasi terbuka lebar. Tetapi jika tetap terjadi voting, lawan potensial Airlangga adalah Bamsoet.
Dengan mekanisme voting 50+1 sesuai pasal 50 ayat 1 AD/ART Golkar, Airlangga akan tetap melenggang terpilih kembali sebagai ketum. Airlangga sudah memperoleh minimal dukungan 282 pemegang hak suara untuk memenangkan kursi Golkar-1.

Kandidat yang lain hanya meramaikan khasanah Munas Golkar yang memang selalu ramai dan panas di awal, namun jelang pemilihan nanti, mekanisme musyawarah akan mendinginkan lalu lintas ego masing-masing. Semua lobby, bargaining dan kompromi dari caketum lainnya akan mengarah untuk bisa diakomodasi Airlangga Hartarto, figur kuat yang positif terpilih lagi.

Kedua, restu istana. Karena khittah Golkar adalah dekat dengan kekuasaan, maka arah restu dari penguasa menjadi penting. Bisa dibilang semua yang mencalonkan diri menjadi ketum Golkar akan menunjukkan ikrar setianya kepada pemerintah. Namun derajat kesetiaan masing-masing kandidat berlainan.

Airlangga sudah membuktikan dari awal bahwa di bawah kepemimpinannya, Golkar terdepan mendukung Jokowi, bahkan jauh sebelum Pilpres 2019 dimulai. Artinya derajat kesetiaan Airlangga Hartarto adalah yang paling tinggi dan konsisten mendukung pemerintahan saat ini -dibandingkan caketum lainnya.

Istana sendiri juga terlihat nyaman dengan kepemimpinan Airlangga. Jangan lupa, Airlangga menjadi Menko Perekonomian karena preferensi Presiden Jokowi, sementara Bamsoet menjadi Ketua MPR karena restu dan rekomendasi Airlangga sebagai ketum Golkar. Wajar jika Bamsoet akhirnya memutuskan mundur dari pencalonannya.

Ketiga, kriteria Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, dan Tidak Tercela (PDLT). Di Golkar saat ini, Airlangga Hartarto punya rangking tertinggi dalam hal PDLT. Mulai dari keputusan arah partai untuk mendukung Jokowi, penempatan kader Golkar di kabinet, sampai berhasil menjadikan Bamsoet sebagai ketua MPR adalah manifestasi dari prestasi Airlangga sebagai ketum petahana Golkar.

Belum lagi representasi milenial dan perempuan juga sangat terakomodasi dalam kepemimpinan Airlangga. Gaya hidup Airlangga sebagai elite politik pun sangat sederhana, jika mau dibandingkan dengan elit politik yang lain.
Punya rekam jejak dan integritas yang baik, bisa di prediksi bahwa Airlangga Hartarto adalah salah satu figur potensial. pemimpin nasional yang akan datang.

Pasca Munas, merajut soliditas Golkar adalah kunci penting meraih kejayaan ke depan. Di bawah kepemimpinan kembali Airlangga Hartarto, Partai Golkar positif akan rebound meningkatkan perolehan suaranya dan melahirkan capres atau cawapresnya sendiri di 2024. Turbulensi jelang Munas tidak akan mempengaruhi elektabilitas dan popularitas Golkar.

Berbeda dengan dulu Setnov yang sangat populer tetapi negatif, saat ini publik punya persepsi positif terhadap Airlangga Hartarto. Popularita dan elektabilitasnya equivalen dengan Partai Golkar itu sendiri.
Otomatis sebagai parpol, Golkar tidak akan terbebani dengan sosok Airlangga Hartarto sebagai Ketum Golkar 2019-2024. (*)

Pengamat Politik Fisip Universitas Jayabaya, Director Survey and Polling Indonesia (SPIN)

Tinggalkan Balasan

Close