BEKACITIZEN

Krisis Identitas Budaya Kepung Bekasi

Oleh: Arinhi Nursecha (Pegiat Literasi Asal Cikarang Utara)

Membahas kebudayaan suku bangsa, tentu tak bisa dilepaskan dari unsur budaya itu sendiri. Seperti rumah adat, pakaian khas, seni tari, senjata tradisional, alat musik, hingga menu kuliner.

Secara geografis, Kabupaten Bekasi masuk ke dalam wilayah Provinsi Jawa Barat yang didominasi suku Sunda. Sebaliknya, sebagai kota urban yang hanya berjarak selemparan batu dari Jakarta serta sikap masyarakatnya yang terbuka terhadap perubahan, membuat ritme gaya hidup, sosial dan ekonomi berjalan cepat seiring kebijakan di ibu kota.

Menjamurnya kawasan industri menjadi magnet bagi pendatang dari berbagai daerah. Di wilayah Cikarang, misalnya, terdapat kawasan Jababeka yang merupakan kawasan industri terbesar se-Asia Tenggara (dilansir dari buku Bringing Civilizations Together terbitan KPG, Juli 2019, karya terbaru Setyono Djuandi Darmono, Sang Founder sekaligus CEO PT. Jababeka).

Hal ini pula yang melatarbelakangi lahirnya asimilasi dan akulturasi budaya di Bekasi.

Namun letak geografis yang berdekatan dengan Jakarta itu rupanya tak melulu membawa dampak positif. Kebudayaan Bekasi lebih banyak dipengaruhi oleh budaya Betawi.

Begitu miripnya dua budaya ini hingga kita lebih mengenal Tari Topeng yang sebenarnya berasal dari daerah Tambun, tetapi diklaim dan dikenal masyarakat luas sebagai kesenian Betawi.

Begitu pun Tanjidor yang masih memiliki sentuhan Betawi atau Wayang Kulit Bekasi yang serupa Wayang Kulit dari suku Jawa dan Sunda. Bekasi tidak memiliki rumah adat seperti suku lainnya. Jika pun ada, situs Saung Ranggon, misalnya, tidak merepresentasikan bentuk rumah dan bangunan di Bekasi yang kebanyakan sudah didesain modern.

Bekasi sebagai muara dari berbagai suku pendatang justru seolah tenggelam dalam hiruk-pikuk keberagaman dan kehilangan originalitas budayanya sendiri. Saya merasa sedih, ironis, dan tak berdaya untuk membantah fakta ketika orang lain berbicara mengenai Bekasi, bukan lantaran kearifan lokalnya tetapi menjulukinya “Neraka Bocor” akibat polusi udara dari proses pembuangan industri.

Bahkan, mungkin saja tidak semua warga pribumi Bekasi mengetahui sejarah dan kekayaan budaya kota kelahirannya. Sudah menjadi tugas kita bersama untuk mengembangkan potensi budaya dan mematahkan stigma negatif yang terlanjur melekat pada kota ini.

Saya mengapresiasi langkah pemerintah Kabupaten Bekasi yang mewajibkan penggunaan pakaian adat Bekasi di lembaga pendidikan setingkat SD, SMP, dan SMA berupa baju Koko untuk lelaki dan kebaya Encim untuk perempuan setiap satu hari dalam sepekan.

Hal ini bertujuan untuk memperkenalkan budaya Bekasi kepada anak-anak sejak dini. Akan lebih baik jika setiap sekolah memiliki satu ruang khusus untuk dijadikan galeri berisi diorama unsur kebudayaan yang saya sebutkan di atas, semacam Taman Mini-nya Bekasi.

Pemerintah juga dapat mengatur program wajib studi wisata ke situs-situs bersejarah  seperti objek wisata Gedung Juang di Tambun, Saung Ranggon di Cikarang Barat, atau Monumen Juang di Jl. Ir. H. Juanda, Bulak Kapal, setiap satu semester sekali kepada sekolah-sekolah.

Program tersebut bertujuan semata agar pihak sekolah dan pelajar lebih mengenal kearifan lokal Bekasi sebelum berkunjung ke objek wisata di kota lain.

Pihak sponsor atau influencer dapat dilibatkan untuk mempromosikan kebudayaan Bekasi. Tak hanya menyebarkan informasi lewat dunia nyata tetapi juga memanfaatkan kekuatan sosial media. Terlebih di era internet saat ini, milenial dan generasi Z cenderung menunjukkan eksistensi diri di dunia maya.

Acara tahunan seperti festival kuliner atau Pekan Raya Bekasi lebih banyak menggabungkan konsep modern dengan tradisional yang disiarkan secara masif pastinya akan menarik perhatian mereka.

Tengoklah aksi swadaya masyarakat setempat membangun dan merawat Taman Limo di dekat kawasan industri MM2100, Cikarang Barat. Taman sederhana dengan tiket masuk murah serta konsep Gazebo dan beberapa spot Instagramable dicat berwarna-warni itu telah sukses menarik minat pengunjung, baik generasi muda yang sekadar ber-selfie ria maupun mereka yang ingin berlibur bersama keluarga.

Selain itu pemerintah juga perlu menggaet para pelaku usaha kecil menengah yang bergerak di bidang pangan dengan memberikan modal usaha dan pelatihan. Menu-menu yang disajikan tentunya adalah khas Bekasi seperti kue dongkal, dodol Bekasi, kue akar kelapa, kue rangi, dan lain sebagainya. Jajanan tersebut dapat diperlombakan dalam sebuah festival kuliner dengan syarat dan ketentuan tertentu misalnya, desain menu harus kekinian tanpa kehilangan citarasa tradisionalnya.

Terakhir, yang tak kalah penting adalah program festival literasi untuk menemukan penulis-penulis muda dan berbakat yang kelak dapat mengisahkan upaya Bekasi melewati krisis identitas dan memperjuangkan kebudayaan Bekasi agar dapat dikenal luas.

Banyak penulis besar terlahir dari pelosok desa dan menuturkan kearifan lokal kampung halamannya. Sebut saja Tere Liye, Andrea Hirata, dan Arafat Nur yang telah menerbitkan banyak buku dan diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Bukan tak mungkin Bekasi juga memiliki talenta dunia literasi yang tersembunyi di dalamnya. (*)

 

Tags

Tinggalkan Balasan

Close