BekasiBerita UtamaHukum

Korban Bully Dikeluarkan Sekolah

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Salah seorang siswa kelas VII SMP Al-Azhar Summarecon berinisal P, harus rela dikeluarkan oleh pihak sekolah, karena dianggap indisipliner. Padahal, siswa yang tinggal di kecamatan Bekasi Barat tersebut merupakan korban bully.

Orang tua siswa, Azmi (45) mengaku kecewa dengan keputusan pihak sekolah tersebut. Dia mengaku akan membawa permasalahan ini ke jalur hukum. Saat ini, pihaknya sedang konsultasi dengan kuasa hukumnya. ”Ya, sedang kami diskusikan dengan kuasa hukum,” tegasnya.

Azmi mengaku, anaknya menjadi korban bully oleh 10 orang kakak kelasnya. Saat itu, P saat sedang di kantin sekolah. Tiba-tiba didatangi oleh 10 orang kakak kelasnya yang diketahui kelas IX. Tiba-tiba, P langsung ditarik dan dipukul.

Merasa terdesak, P yang beperawakan tambun membela diri dengan melakukan perlawanan. Namun upaya dia tidak maksimal. Akhirnya, P berlari menyelamatkan diri. ”Anak saya ditarik kerah bajunya kemudian dipukul dadanya, anak saya balas tetapi tidak bisa karena anak saya sendiri, sedangkan yang mengeroyok 10 siswa kakak kelas, karena tidak bisa melawan, anak saya lari,” katanya Rabu (4/12), kepada Radar Bekasi.

Setelah peristiwa tersebut, anaknya pun waspada kepada kakak kelasnya. Selang beberapa hari, kepala sekolah SMP Al-Azhar mengumpulkan siswa dan wali murid yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Dia merasa kecewa, karena anaknya mendapat poin tidak disiplin. Bahkan hingga 1.000 poin.

Dia pun diminta anaknya untuk memindahkan anaknya ke sekolah lain. Jika masih diteruskan, maka tidak akan naik kelas. ”Saya sangat kecewa sekali, anak saya yang menjadi korban bully, tapi kok anak saya yang disuruh keluar,” tegasnya.

Tidak hanya P yang menjadi korban bully di sekolah tersbeut. Salah seorang Siswi yang berinisial (S) pernah mengalami kejadian serupa. Orang tua S, Alika mengaku sempat mengadu permasalahan ini ke pihak sekolah. Namun, pelaku bully tidak mendapatkan sanksi tegas.

 ”Hanya memanggil orang tua yang mem-bully, tetapi tidak di berikan sanksi yang tegas. Ya saya kecewa,” ucapnya.

Akibatnya, anaknya sempat mengalami depresi. Beruntung, anaknya masih bisa bertahan hingga lulus sekolah. ”Saya kembali sekolahkan anak saya di SMA Al-Azhar. Sekitar satu bulan sekolah, anak saya minta pindah, karena siswa yang dulu pernah mem-bully dia sekolah di tempat yang sama. Karena tidak ada tindakan tegas pihak sekolah, akhirnya saya pindahkan anak saya ke sekolah lain,” paparnya.

Sementara itu, Kepala SMP Al-Azhar Summarecon, Amin Hamidi membantah adanya tindakan bully di sekolah yang dipimpinnya. Menurutnya, siswa P bukan dikeluarkan, tapi memang mengundurkan diri.

 ”Siswa (P) itu bukan kita keluarkan melainkan mengundurkan diri karena telah memiliki banyak masalah dan memiliki 1.000 poin tidak disiplin. Untuk siswa yang melakukan bully kepada siswa lain pun di sini tidak ada,” bantahnya.

Terpisah, wakil ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Bekasi Rusham, meminta orang tua korban bully untuk melaporkan permasalahan tersebut. ”Kami belum mendengar, tapi nanti akan kami cari tahu permasalahannya. Kami minta kepada orang tua untuk melaporkan masalah ini,” tegasnya. (pay/sur)

Close