BekasiBerita UtamaPemkabPeristiwa

Kaum Sodom Marak di Bekasi

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pria suka sesama jenis atau kaum Sodom ternyata marak di Bekasi. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga yang berumah tangga. Profesinya pun beragam, dari karyawan kantoran hingga wiraswasta.

Salah seorang sumber Radar Bekasi, KP mengaku suka sesama jenis sejak dia masih duduk dibangku SMP ini. Warga Kecamatan Sukawangi tersebut bercerita, saat itu dia bersama rekannya mendatangi salon kecantikan. Disana, dia digoda oleh pemilik salon yang juga memiliki kelainan seks menyimpang. Karena diimingi uang, dia pun mau melayani nafsu pemilik salon tersebut.

Saat itu, pria yang bekerja di pasar Induk Cibitung itu mengaku, melakukan hubungan sesama jenis berperan sebagai laki-laki, dan pemilik salon sebagai perempuan. ”Umur saya baru 14 tahun saat itu. Saya tergoda karena diberikan uang setiap melayani dia (pemilik salon), biasanya saya dikasih Rp 50 sampai Rp 100 ribu,” ungkapnya saat dimintai keterangan mengenai pengalamannya.

Bahkan setelah malam itu, hubungan mereka berdua semakin dekat dan sempat menjalin hubungan beberapa bulan. ”Setiap enggak punya duit saya dateng dia,” kata pemuda berusia 23 tahun ini.

Meskipun KP sudah tidak pernah berhubungan dengan pemilik salon tersebut, namun KP hingga saat ini masih melakukan hubungan sesama jenis dengan rekan lainnya. ”Saya pisah karena ada permasalahan. Tapi saya masih sering melakukan itu dengan yang lain (banci),” tuturnya.

Untuk sekarang dia mengaku, sudah mengurangi hal-hal seperti itu, walaupun tidak bisa dipungkiri masih sering suka kalau melihat laki-laki yang ganteng. ”Kalau sekarang sudah enggak, tapi masih suka kalau ngeliat teman cowo ganteng,” ucapnya.

Dia tidak sendiri, di Kabupaten Bekasi terdapat ribuan pria dengan prilaku seks menyimpang. Ketua Komisi Perlindungan Anak Indoensia Daerah (KPAID) Kabupaten Bekasi Muhamad Rozak mengaku, ada 4.000 pria suka sesama jenis di wilayah Kabupaten Bekasi.

Menurutnya, data itu berdasarkan laporan yang diterima dari pihak kepolisian saat Polres Karawang berhasil mengungkap komunitas LGBT atau homoseksual di daerah tersebut.

”Mayoritas penyebab disorientasi seksual itu karena perilaku hidup bebas. Akhir tahun 2018 lalu kami mencatat ada sekitar 4.000 orang berperilaku seks menyimpang homoseksual ini. Data ini dari pihak kepolisian kami diberitahu dan setelah kami telusuri benar saja jumlah homoseksual itu sangat banyak di Kabupaten Bekasi,” jelasnya.

Pernyataan berbeda disampaikan Ketua Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS KPAID Kabupaten Bekasi, Ade Bawono. Dia membantah data yang dikeluarkan oleh Komisioner KPAID Kabupaten Bekasi. Menurutnya, jumlah kaum Sodom di kabupaten Bekasi tidak sebanyak itu.

”Kami meragukan itu, kalau data yang kami punya data tahun 2018 itu tentang komunitas homoseksual yang ada di Kabupaten Bekasi, itu estimasinya hanya mencapai 954 orang, dan angka real dilapangan kita menemukan 454 orang. Kalau dibilang sampai 4000 itu hoaks,” tuturnya.

Untuk sekarang, pihaknya sedang memediasi mengenai persoalan ini, agar tidak ada kesalapahaman perihal data homoseksual di Kabupaten Bekasi. Termasuk pernyataan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi yang mengatakan banyak suami yang menjadi pelaku homoseksual.

”Kalau data yang suami melakukan penyimpangan orentasi seks tidak kita data secara keseluruhan, tapi faktanya memang ada, terhitung baru satu sampai dua orang,” ungkapnya.

Terpisah, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi mengaku memiliki data khusus Lelaki Suka Lelaki (LSL). Selama ini, mereka memang merangkul berbagai komunitas rentan terserang HIV/AIDS atau penyakit menular seksual lainnya, melalui pendekatan persuasif mereka mengajak untuk melakukan pemeriksaan.

”Dari total sasaran yang diperiksa, 10 persennya LSL, dari hasil pemeriksaan yang positif 45 persen dari kelompok LSL,” ungkap Kabid Pegendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi, Dezy Syukrawati.

Jika sebelumnya diketahui melalui keterangan pers dinas kesehatan terdapat 147 pengidap HIV AIDS, maka 66 diantaranya LSL.

Diwaktu yang lain, Komisioner bidang Kesehatan dan Napza Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi, Hadyan Rahmad mengatakan bahwa sulit untuk diketahui angka LSL atau penyuka sesama jenis lainnya. Pasalnya hal ini masuk dalam ruang privasi seseorang, tanpa membenarkan hal tersebut.

”Sebenarnya kalau yang tadi ketua bilang itu ada didalam zona privat, agak susah. Tapi kalau kemudian keterkaitannya dengan Napza, biasanya kalau mereka party, itu semua data ketika dilakukan penggerebekan itu selalu ditemukan,” katanya.

Saat disinggung mengenai hubungan antara HIV/AIDS yang selama ini selalu dihubungkan dengan penyuka sesama jenis. Ia menjelaskan, tidak selalu penyuka sesama jenis merupakan sumber timbulnya penyakit HIV/AIDS seperti stigma yang berkembang saat ini.

Penularan HIV/AIDS bisa melalui cairan yang keluar ketika berhubungan intim, dalam hal ini bukan cairan keringat, satu lagi melalui darah. Terlebih bicara LSL dalam konteks usia anak, selama ini belum ditemukan LSL di usia anak, selama beberapa kali penggerebekan di berbagai daerah. (pra/sur)

Related Articles

Back to top button