BEKACITIZENOpini

Kebudayaan Lokal Kabupaten Bekasi

Oleh: Wasto Pujawiatna, S.Pd

Radarbekasi.id – Berbicara mengenai Kabupaten Bekasi sangat majemuk, karena dipengaruhi berbagai budaya. Kata Bekasi berasal dari bahasa sansekerta yakni Chandra dan Bhaga, Candra artinya bulan dan bhaga berarti bagian. Jadi Chandra Bhaga. Dalam pengucapannya sering disingkat Bhagasi, dan karena pengaruh Belanda menjadi Beccasie. Kata Beccasie kemudian berubah menjadi Bekasi sampai sekarang.

Candra Bhaga merupakan bagian dari Kerajaan Tarumanegara yang berdiri sejak abad ke 5 masehi. Ada tujuh Prasasti yang menyebutkan adanya kerajaan Tarumanegara yang dipimpin oleh maharaja Purnawarman, yakni Prasasti Tugu (Cilincing, Jakarta), Prasasti Ciaaruteun, Prasasti Muara Cianten, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Jambu (Keenam prasasti ini ada di daerah Bogor), dan satu prasati di daerah Bandung Selatan (Prasasti Cidangiang).

Setelah kerajaan Tarumanegara runtuh pada abad 7, kerajaan yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap Bekasi adalah kerajaan Padjadjaran terlihat dari situs sejarah Batu Tulis (di daerah Bogor). Sutarga menjelaskan Bekasi merupakan wilayah bagian dari kerajaan Padjadjaran dan merupakan salah satu pelabuhan sungai yang ramai dikunjungi oleh para pedagang. Bekasi menjadi kota yang sangat penting bagi Padjadjaran. Begitu seterusnya kerajaan timbul, runtuh dan timbul, terakhir kerjaan yang menguasai Bekasi adalah kerjaan Sumedanglarang yang merupakan bagian dari kerajaan Mataram. Bahkan bukti-bukti mengenai kerajaan-kerajaan ini sampai sekarang masih ada, misalnya ditemukannya makam Wansawidjaja dan ratu Mayangsari (batu nisan), makam Wijayakusumah serta sumur mandinya yang terdapat di kampung Ciketing, Desa Mustika Jaya, Bantargebang.

Kabupaten Bekasi seperti daerah lainnya di Indonesia mengalami perjuangan untuk mengusir penjajah Belanda, Jepang dan sekutu, hingga Putra Bekasi yang terkenal karena kegigihannya mengusir penjajah yaitu KH Noer Ali dari Ujung Harapan, yang kini namanya dijadikan nama Pondok Pesantren terkenal di kabupaten Bekasi.
Sebagai penyangga ibu kota, Bekasi mengalami pemekaran menjadi dua daerah, Kabupaten Bekasi dan Kota Bekasi. Kabupaten Bekasi beribukota di Cikarang dengan 23 Kecamatan. Tambun merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk terpadat, sedangkan Bojongmangu kecamatan dengan jumlah penduduk paling sedikit.

Penduduk Kabupaten Bekasi terdiri dari berbagai suku, terbesar Suku Sunda, Jawa, Betawi, dan Batak. Pengaruh etnis tersebut tersebar di wilayah Bekasi. Antara lain suku Sunda yang banyak bermukim di Kecamatan Lemahabang, Setu, Pebayuran, dan sebagian Pondokgede. Lalu suku Jawa dan Banten banyak bermukim di Kecamatkan Sukatani dan Cabangbungin. Selanjutnya suku bangsa Melayu banyak mendiami kecamatan Cilincing, sekarang Jakarta, Pondokgede, Babelan, Tambun, Cikarang, Cabangbungin, dan Setu. Terakhir, suku Bali yang terdapat di sebuah kampung di kecamatan Sukatani, bahkan sampai sekarang namanya pun kampung Bali.

Keberadaan penduduk yang berasal dari berbagai etnis tersebut telah mempengaruhi pola hidup dan bahasa sehari-hari. Oleh karena itu kalau kita memperhatikan dialek Bekasi dan Jakarta meskipun sama-sama Betawi akan terasa perbedaannya. Kantong-kantong yang menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulannya daerah Cibitung, Cibitung Bedeng, Bojong Koneng, Kp. Mariuk, Desa Taman sari, Cibening, Ciledug, Burangkeng, Kp. Sawah, Daerah Sukatani, Sukamanah, Cibarusah, Lemahabang, Kedungwaringin.

Ada derah yang menggunakan bahasa Jawa Serang diantaranya Sukatani yaitu Desa Sukahurip, Pulo Kukun, Pulo Turi. Dibidang keseniaan ada beberapa pengaruh Sunda, Betawi, Jawa. Buktinya Topeng Bekasi menggunakan Bahasa Sunda dan Betawi, wayang Kulit. Dibidang makanan yang paling terkenal dodol, akar kelapa, kerak telor, gado-gado dan sayur pucung.

Berdasarkan suku seiring pertumbuhan dan perkembangan Bekasi yang semakin cepat tidak melulu suku Sunda, Betawi, dan Jawa. Tapi ada juga Madura yang mempunya ciri khas usahanya dagang sate dan besi tua, suku Batak yang mempunyai ciri khas usaha tambal ban, suku Minangkabau/Padang ciri khas berdagang pakaian di pasar dan berkelompok mengadakan pasar malam, rumah makan padang.

Kemudian suku sunda seperti Bandung, Ciamis, Garut, Tasik, Kuningan, Sukabumi dan Cianjur. Umumnya dari Ciamis menjadi guru SD, SMP, SMA begitupula dengan orang Bandung. Untuk orang Garut mempunyai ciri khas sol sepatu dan tukang cukur, orang Kuningan membuka warung indomie dan bubur, orang Tasik usaha kredit barang klontong. Dari Kalimantan ada turunan Tiongkok membuka usaha konter HP, bahan bangun dan toko elektronik.

Untuk suku di kabupaten Bekasi yang paling kuat persatuannya adalah orang Padang. Mereka ada semacam paguyubannya sering bertemu dalam acara tertentu dengan mengadakan arisan keluarga. Selanjutnya suku Madura sering mengadakan pertemuan dan acara-acara pengajian serta kegiatan sosial kemasyarakatan.
Penduduk Kabupaten Bekasi yang terdiri dari berbagai macam suku menjadi kekuatan ekonomi dan sumber daya untuk membangun menjadi daerah yang maju aman dan tenteram dengan semboyan Wibawamukti yang ditopang dengan dasar negara yaitu Pancasila dan UUD 1945.

Suku, bahasa, dan kuliner tidak bisa dipisahkan untuk memperkuat keutuhan budaya Bekasi yang bagaikan madu bagi daerah lain dan semakin kreatif untuk menunjukkan eksistensi sebagai ciri khas daerah dia berasal dengan makanan khas yang dibawa atau diciptakan. Pokoknya untuk kuliner kini sangat banyak dan beragam ada di Kabupaten Bekasi

Kesimpulannya kebudayaan lokal Bekasi tetap ada dan mempunya ciri khas baik bahasa, kesenian, kuliner, maupun pola hidup dimasyarakatnya yang tetap mempunyai akar. Selain itu masyarakatnya tidak menghilangkan ciri khas, misalnya orang tua yang sehari-hari berbahasa sunda anaknya mengikuti berbicara sunda. Begitupun dengan suku lain karena hidup dilingkungan berbahasa sunda anak-anaknya berbahasa sunda. (*)

Anggota KGPBR

Close