BEKACITIZEN

Tantangan Guru Sains

Oleh: Erwin Prastyo (Mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA, Pascasarjana, Universitas Negeri Semarang)

Pembahasan mengenai pendidikan di Indonesia tentu tidak dapat dilepaskan dari berbagai persoalan kompleks yang mendera.

Yang terbaru 3 Desember 2019 lalu, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) merilis data studi tiga tahunannya dalam laporan Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 yang menampilkan peringkat dan berbagai ulasan79 negara peserta.

Hasil studi PISA memuat profil kemampuan siswa berusia 15 tahun pada aspek membaca, matematika, dan sains. Hasil pembacaan data laporan tersebut cenderung kurang menggembirakan. Skor sains Indonesia 396 berada di peringkat 70.

Kalau kita kuliti lebih dalam, hanya 40 persen untuk aspek sains yang berhasil mencapai kompetensi minimal dan skor ketiga aspek ternyata menurun dibanding hasil di tahun 2015 lalu.

Uraian tersebut dapat dijadikan salah satu indicator masih rendahnya daya saing SDM Indonesia. Kondisi itu juga didukung data laporan Human Development Report 2016, tercatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2015 berada di peringkat 113.

Penyebab rendahnya mutu SDM Indonesia salah satunya karena rendahnya mutu pendidikan. Pada aspek sains, rendahnya kualitas pembelajaran sains disebabkan kurangnya guru memberikan ‘oksigen’ pada siswa dalam kegiatan eksplorasi, refleksi, dan pemecahan masalah berbasis literasi sains dan scientific approach. Selain itu siswa kurang dibiasakan mengerjakan soal-soal yang mendorong suatu masalah menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi atau High Order Thingking Skills (HOTS).

Berkaca pada persoalan serius tersebut pemerintah sebetulnya sudah melakukan upaya reflektif dengan mereformasi sistem pendidikan melalui Kurikulum 2013.

Format kurikulum 2013 berpendekatan saintifik yang digagas Kemdikbud sebenarnya sudah bagus. Bahkan Kurikulum 2013 dipandang sebagai kurikulum terbaik. Namun niat baik pemerintah ini masih terbentur pada tahap implementasi dan internalisasinya.

Implementasi dan internalisasi yang baik di sekolah-sekolah maupun di ruang-ruang kelas oleh semua guru masih menjadi sebuah harapan yang sesegera mungkin diwujudkan dan seharusnya mampu mengkonstruksi wajah pendidikan Indonesia. Bukan semata-mata mengejar peringkat PISA. Namun mempersiapkan siswa sebagai SDM unggul untuk berpartisipasi aktif dalam kompetisi global.

Guru sains sebagai ujung tombak pendidikan harus menjadi inisiator perubahan. Siswa yang selama ini terbatas sebagai konsumen atau pemakai ilmu pengetahuan harus diubah mindset-nya menjadi produsen atau penghasil pengetahuan.

Menurut Widodo (2007), pembelajaran sains yang hanya membelajarkan fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori sesungguhnya belum membelajarkan sains secara utuh. Oleh karenanya, dalam pembelajaransains guru harus diyakinkan bahwa membelajarakan sains sudah semestinya mengikuti pola bagaimana sains dijalankan.

Pembelajaran sains sebetulnya merupakan pembelajaran ideal untuk mengembangkan berbagai keterampilan, sikap, penguasaan konsep yang berkaitan dengan pengalaman sehari-hari. Pembelajaran sains juga melatih keterampilan siswa berproses dan menanamkan sikap ilmiah, seperti rasa ingin tahu, jujur, bekerja keras, pantang menyerah, dan terbuka.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru adalah mengajak siswa bereksperimen dan melaksanakan pembelajaran aktif menggunakan berbagai model dan metode pembelajaran. Melalui pembelajaran aktif siswa diajak untuk mengembangkan keterampilan abad 21, yaitu 5 M (mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan) dan 4 C (creativity, critical thinking & problem solving, collaboration, dan communication). Guru sains juga perlu memanfaatkan TIK dalam pembelajaran, mengajak siswa merangkum pembelajaran secara kreatif, memperkaya siswa dengan berbagai jenis bacaan, dan perlunya mengajak siswa memanfaatkan waktu luang untuk membaca.

Selain itu sekolah harus mampu menghadirkan pendidikan yang menyenangkan. Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang digagas Muhammad Nur Rizal patut menjadi contoh guna mewujudkan pembelajaran sains yang menyenangkan dan bermakna.

Konsep sekolah ini untuk menciptakan budaya belajar yang kritis, kreatif, mandiri, dan menyenangkan di sekolah sebagai bekal keterampilan hidup agar anak-anak menjadi pembelajar sukses.

Pemerintah juga perlu memberikan pelatihan yang berkualitas pada guru-guru sains secara merata. Pemerintah juga perlu menggenjot semangat dan etos mengajar guru sains, out of the box, yang berani keluar dari zona nyamannya.

Dengan begitu harapannya ke depan, pembelajaran sains betul-betul dapat mengembangkan keterampilan bernalar, berpikir kritis-kreatif, aplikatif di kehidupan sehari-hari, dan membentuk siswa menjadi SDM unggul berdaya saing global.

Penulis meyakini semua harapan dapat terwujud, jika pembelajaran sains di ruang kelas dan sekolah dijalankan sebagaimana hakikat sains itu dikembangkan. Teach science as science is done (Lawson).

Mengutip epilog pidato Mendikbud pada peringatan Hari Guru Nasional beberapa waktu lalu, “Apapun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak”.

Perubahan dapat dilakukan di manapun dan oleh siapapun, termasuk perubahan dari guru sains. Semoga. (*)

Tags
Close