BekasiBerita UtamaPendidikan

Khawatir Lakukan Kegiatan Negatif

KBM Tiga Hari Tak Efektif

ILUSTRASI: Sejumlah siswa salah satu sekolah mengikuti KBM. Sejumlah pihak menilai KBM tiga hari yang diusulkan oleh Ketua KPAI Seto Mulyadi, tak efekif untuk diterapkan.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sejumlah pihak menilai kegiatan belajar mengajar (KBM) tiga hari yang diusulkan oleh Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi, tak efekif untuk diterapkan. KBM tiga hari dianggap memberikan banyak waktu luang bagi, sehingga dikhawatirkan siswa melakukan kegiatan negatif.

Kepala Seksi SMP pada Dinas Pendidikan Kota Bekasi Mawardi menilai, usulan tersebut tidak cocok diterapkan didalam satuan pendidikan di Indonesia. Menurutnya, KBM tiga hari memberikan banyak waktu luang bagi siswa.

”Tidak efektif  karena semakin banyak libur siswa tidak ada kegiatan yang positif, saya khawatir mengarah ke dalam kegiatan yang negatif karena terlalu banyak waktu kosong yang dibuang begitu saja,” kata Mawardi, Rabu (11/12).

Hal senada dikatakan Kepala SMP PGRI 2 Kota Bekasi Ma’mun Murod. Menurutnya, KBM selama lima sampai enam hari dianggap masih kurang untuk menguatkan karakter serta kelimuan siswa.

”Untuk sistem pembelajaran secara normal yaitu selama 5 hari saja masih sedikit siswa yang dibilang berhasil atau yang cukup baik untuk menerima materi pembelajaran. Apalagi kalau hanya diterapkan selama 3 hari mau dibawa kemana anak-anak kita nanti,” katanya.

Dikatakannya, Indonesia saat ini belum saatnya menerapkan sistem belajar selama 3 hari seperti halnya yang sudah dilakukan di Finlandia. Pasalnya, dapat dibilang masyarakat Tanah Air secara ekonomi masih berkecukupan sehingga anaknya masih membutuhkan waktu belajar yang lebih lama di sekolah.

”Dengan keadaan yang ada saat ini, saya rasa seluruh masyarakat masih menginginkan pendidikan yang cukup yaitu dengan cara melaksanakan aktivitas di sekolah sebagai salah satu sumber pembelajaran mereka dalam menuntut ilmu,” katanya.

Kepala SMK Bina Karya Mandiri 2 Kota Bekasi Ayung Sardi Dauly berpendapat, usulan Kak Seto lebih tepat diterapkan pada pendidikan anak usia dini.

”Karena Kak Seto adalah pemerhati anak-anak mungkin lebih tepatnya sistem itu diberlakukan untuk satuan pendidikan tingkat PAUD atau TK jika itu dilaksanakan sah-sah saja karena anak-anak usia segitu memang harus banyak bermain,” kata Ayung. (dew)

Close