BekasiBerita Utama

Awas Kosmetik Palsu

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kaum hawa warga Bekasi mesti harus hati-hati saat ingin memilih kosmetik. Alih-alih ingin tampil cantik, namun justru sebaliknya. Ya, saat ini banyak beredar kosmetik palsu atau illegal.

Seperti pengakuan salah seorang warga Kota Bekasi, Putri Windi Astuti. Remaja berkulit putih ini mengaku awalnya tergiur dengan harga murah yang ditawarkan di salah satu situs jual beli online. Disana ia membeli salah satu produk kecantikan masker kulit.

”Belinya online, efeknya nggak langsung gitu aja, tapi lama-lama bukan lembab malah jadi kering,” tutur Putri Windi Astuti (15).

Hingga saat ini Putri masih membeli produk kecantikan via online. Namun, karena tidak ingin menjadi korban kedua kalinya, ia lebih selektif dalam membeli, saat hendak membeli produk kecantikan dipastikan toko di situs tersebut ramai, di warnai komentar positif, dan menawarkan harga yang cendrung mahal.

Penelusuran Radar Bekasi, bertemu dengan salah seorang pedagang Masker Kefir Palsu. Masker kefir yang asli terbuat dari endapan fermentasi susu sapi atau kambing. Bahan ini mengandung sejumlah bakteri baik berupa lactobacillus dan asam amino yang mampu membuat kulit wajah tetap sehat dan membersihkan segala kotoran sekaligus debu yang menempel pada wajah. Kandungan asam amino di dalamnya juga mampu menghidrasi kulit dengan baik. Sehingga barrier kulit akan terjaga dengan optimal.

Salah seorang pedagang Masker Kefir palsu di Kota Bekasi YY mengaku, membuat masker kefir dari bibit kefir asli, dan zat pewarna tekstil. Sementara susunya, biasa dia menggunakan susu expired agar lebih murah. ”Terus saya kasih parfum biar gak bau,” kata wanita yang sudah menjalankan usaha ini sejak setahun lalu.

Dari usahanya ini, dalam sebulan dia mampu meraup keuntungan hingga Rp5 juta. Biasanya dia jual melalui online. Bahkan dia juga membuka reseler bagi yang berminat. ”Gak ada yang komplen sih selama ini. Kalau ada yang komplen, saya bilang saja berarti kulitnya yang gak cocok,” imbuhya.

Meskipun sudah banyak yang dirugikan dengan penjualan kosmetik illegal, namun hingga saat ini Dinas kesehatan Kota Bekasi mengaku belum mendapatkan laporan dari masyarakat.

”Belum ada informasinya tuh, makanya belum bisa bicara, nanti salah, karena kan kalau di Jakarta lain dengan Bekasi ya, kalau ada informasi nya kita respon,” ungkap Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinkes Kota Bekasi, Karmendriyarus kepada Radar Bekasi, Minggu (15/12).

Peredaran obat dan kosmetik ilegal ini tidak hanya dilakukan di toko-toko obat maupun tempat lainnya secara konvensional, tapi juga secara online, salah satunya yang terjaring di kawasan Jakarta Utara dan Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Dia mengaku kesulitan melakukan pengawasan terhadap jual beli online ini. Di sisi lain, kewenangan dan tugas dari BPOM pusat, kecuali ada atensi kepada perangkat daerah dan laporan dari masyarakat. Hingga saat ini belum ada belum ada petunjuk dari BPOM untuk hal ini.

Untuk meminimalisir pengedaran kosmetik dan obey ilegal, pihaknya telah menggencarkan gerakan masyarakat cerdas menggunakan obat (Gema Cermat) dan apoteker cilik, gerakan ini sudah digencarkan terhitung sejak Hari Kesehatan Nasional (HKN) November lalu.

Kosmetik dan obat ilegal ini biasa dijual di toko-toko obat, setidaknya tercatat lebih dari 500 toko obat terdaftar di Kota Bekasi. ”Kalau kosmetik itu apotek gaberani, jualnya yang ilegal itu di toko-toko obat biasanya. Itu biasanya kurang teredukasi ya, tidak seperti di apotek,” lanjut Karmen.

Sementara itu, belum lama ini penggerebekan obat dan kosmetik ilegal dalam jumlah besar dilakukan di kawasan Jakarta Utara dan Jakarta Selatan, bernilai lebih dari Rp53 miliar. Disita dari empat gudang berbeda, terdiri dari 4.071 pcs kosmetik ilegal senilai Rp17,17 Miliar, obat tradisional ilegal 58.355 pcs senilai Rp27,98 miliar, dan 14.533 pcs produk pangan olahan ilegal senilai Rp7,21 miliar.

”Obat tradisional ilegal yang ditemukan antara lain Detoxic, Resize Gel, dan Hero Active, sedangkan pangan olahan ilegal antara lain Slim Mix Collagen 168 g, Choco mia, Black Latte 100 g,” terang kepala BPOM RI, Penny K Lukito dalam keterangan persnya beberapa waktu lalu.

Sementara itu, di Provinsi Jawa Barat sendiri, beberapa waktu lalu telah dilakukan pemusnahan barang hasil pengawasan dan penindakan senilai Rp4,9 miliar awal bulan Desember lalu.

”Produk ilegal yang tersebut didominasi oleh produk kosmetik ilegal 1.847 item (65,92%), 129 item (4,60%) obat tradisional ilegal,” ujar Kepala BPOM Provinsi Jawa Barat, I Gusti Ngurah Bagus Kusuma Dewa.

Ribuan produk obat dan kosmetik tersebut diketahui tidak memiliki izin edar, tidak memenuhi persyaratan keamanan, khasiat, dan mutu, untuk bahan pangan ditemukan mengandung bahan berbahaya. Di samping itu juga obat-obatan kedaluwarsa sebanyak 581 item yang diberikan oleh masyarakat melalui 80 apotek di Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Subang yang berpartisipasi. (Sur/det)

Related Articles

Back to top button