BekasiBerita Utama

Tawon Vespa Serang Warga

Satu Orang Tewas, Lima Terluka

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Nasib nahas menimpa Sutarma, warga Kampung Kedungbokor RT 001/008, Desa Pantai Mekar, Kecamatan Muaragembong. Pria berusia 74 tahun ini meninggal dunia karena disengat tawon Vespa affinis yang bersarang diatap rumah tetangganya.

Peristiwa bermula pada Rabu (11/12) sekitar 16.00.Tetangga korban, Aminah (60) berusaha mengusir sarang tawon Vespa di atap ruahnya menggunakan sebatang bambu. Saat bersamaan, korban melintas dan mengampiri Aminah. ”Waktu korban menghampiri udah saya kasih tau, jangan mendekat,” kata Aminah kepada Radar Bekasi, kemarin.

Namun, korban tidak menghiraukan perkataan Ainah, dan terus berjalan menghampirinya sembari menanyakan keberadaan Tawon Vespa. Selang beberapa detik, tawon langsung menyerang korban. Saat itu juga, korban berteriak meminta tolong sambil berlari kerumahnya.

Namun, dia dan warga lainnya yang melihat peristiwa itu tidak bisa menolong. ”Kami bingung mau nolongin gimana, warga yang melihat juga takut pada masuk ke dalam rumah. Sebelumnya saya sudah sempat bilangin agar jangan lewat dulu karena sedang nyodok sarang tawon,” ujarnya saat dimintai keterangan di lokasi kejadian, Selasa (17/12).

Sutarma pun berhasil menyelamatkan diri dari serangan tawon, dengan masuk kedalam bak mandi. Bahkan, korban sampai berendam di bak mandi sekitar satu jam karena pululah tawon yang menyerang masih menunggu di sekitar bak mandi.

Beruntung, anak dan istri korban melihatnya dan memberikan pertolongan. Setelah tawon berhasil diusir menggunakan sapu, istri korban dibantu tetangga mengangkat korban dari bak mandi. Saat itu, korban dalam keadan lemas.

Tidak menunggu lama, korban dibawa ke Dokter yang ada di wilayah Muaragembong. Saat itu korban disuntik antibiotik dan diberi infus karena kondisinya lemas. Namun, karena kondisi korban yang tidak kunjung membaik, pihak keluarga membawa korban ke RS Anisa Cikarang pada pukul 01.00 dinihari. Namun, karena keterbatasan alat, korban lalu dirujuk ke RSUD Karawang sekitar pukul 10.00.

Setelah menjalani perawatan, nyawa korban tidak bisa ditolong. Pada sabtu pagi, korban dinyatakan meninggal dunia. ”Kata dokter racun dari antupan (sengatan) tawon tersebut sudah menjalar ke seluruh tubuh, sampai ke sel darah putih. Sampai akhirnya hari Sabtu pagi suami saya meninggal di rumah sakit,” kata istri korban, Ani.

Ani menceritakan, saat itu dirinya sempat menghampiri korban yang berada di dalam kolam air kamar mandi. Namun korban melarang dia mendekati, karena takut tawon yang menyerang korban berpindah menyerang dia.

”Dia (korban) lari sampai sendalnya saja pada copot, saya sempat nanya ada apa, ada apa, tahu-tahu langsung masuk ke dalam kolam. Saya enggak boleh nyamperin sama dia, katanya takut pindah ke saya tawonnya,” ujarnya dengan mata berlinang air saat dimintai keterangan dikediamannya.

Di dampingi anak bungsunya, dirinya menjelaskan, jumlah tawon yang menyerang suaminya (korban) sangat banyak. Bahkan saat korban masuk ke kolam air, sebagian tawon juga ikut masuk kedalam air. ”Banyak banget jumlahnya,” tuturnya.

Dalam pristiwa tersebut, warga lainnya juga menjadi korban. Mereka yakni Anah (30), Narsah (30), Mila (15), Linda (18), dan Komarudin (46). Namun, mereka tidak sampai masuk rumah sakit, hanya dilakukan pemeriksaan di Puskesmas saja.

”Saya kena dibagian pundak belakang, tapi enggak sampai kerumah sakit, saya obatin sendiri, tawonnya itu banyak bangat anak saya kena juga. Setelah diantup (disengat) tawon, malamnya saya dan anak enggak bisa tidur, panas bangat, sampai bengkak,” jelas salah seorang korban, Anah.

Terpisah, Komandan regu tim evakuasi penyelamatan Disdamkar Kabupaten Bekasi, Adhi Nugroho menjelaskan, banyaknya sengatan yang diterima oleh korban menjadi penyebab hilangnya nyawa. Pasalnya dengan sengatan yang banyak, racun yang dikeluarkan sangat tinggi.

”Kebetulan yang menyengat korban ini koloninya banyak sekitar 50 lebih, sehingga racun yang dikeluarkan oleh tawon itu sangat tinggi, bisa menutup peredaran jantung. Misalkan tersengat hanya tiga sampai lima kali, paling hanya menimbulkan liver alergi,” ujarnya saat dihubungi melalui telpon.

Dirinya menduga, sarang tawon itu sudah ada dari tiga bulan yang lalu, apabila melihat kondisi dari sarangnya. Menurutnya, dalam evakuasi sarang tawon tersebut pihaknya sempat mengalami kesulitan, mengingat keadaan sarang tawon sudah mengalami kerusakan.

”Sarangnya itu udah kena bongkar, jadi tawonnya sudah diluar sarang, biasanya kita menangani sarang tawon yang masih utuh, sehingga lebih muda mencari lubang aktivitas tawon. Semalem kita sampai disana pukul 23.00, dan selesai pukul 00.45 malam,” jelasnya. (pra)

Related Articles

Back to top button